Tuesday, August 24, 2004

JANGAN REMEHKAN PRAKTEK IBADAH



Ada sebuah mata kuliah dikampus, namanya praktek ibadah, jumlah sksnya nol, tapi wajib diambil sebagai mata kuliah wajib universitas. Pertama kali lihat barisan kata ini, sempat geli sendiri, kok bisa ya, praktek ibadah dijadikan mata kuliah. Bagaimana mengajarkannya dikelas? Ujiannya bagaimana nanti? Apa seperti waktu ujian praktek kelas 6 SD dulu? Minggu pertama, sang dosen yang sudah berumur itu, menjelaskan tentang apa itu ibadah. Ah anak SMP juga tahu, semuanya ditulis diwhiteboard, kita semua mencatatnya. Ia minta salah satu mahasiswi membacanya, persis seperti mengajari anak-anak SMP.

Minggu kedua, membahas tayamum, selanjutnya shalat jamak dan qashar, terakhir shalat jenazah. Buatku itu ngak penting, shalat jenazah itu urusan laki-laki, tapi sang dosen meminta kami menghafal semua doanya. Lalu tiba diminggu terakhir itu, ia minta seorang mahasiswa dibarisan depan, memimpin shalat jenazah untuk barisan laki-laki. Mahasiswa itu diminta menjadi imam, dan ia hafal semua urutan shalat serta do'anya bahkan dengan lafal yang cukup baik. Sementara mahasiswa laki-laki praktek, aku keluar ke lt. 2 bagian sekeretariat, bayaran uang kuliah dan yang pasti untuk menghindari mata kuliah itu, karena satupun doanya belum kuhafal.

Selesai membayar, kembali kekelas, sang dosen masih memberikan penjelasan, seluruh mahasiswa laki-laki sudah kembali duduk ditempatnya. Kutanya Risty, teman yang duduk disampingku.

"Eh Ris...praktek shalat perempuannya udah ya...?"
"Belum tuh, dari tadi masih banyak yang tanya..."
"Ooo..."


Usai sang dosen menjawab semua pertanyaan, ternyata kini giliran mahasiswi perempuannya, yang diminta praktek shalat jenazah. Dan ia langsung menunjuk seorang mahasiswi yang duduk dibarisan depan, yang sedang tertunduk menghafal doa-doanya. Aku.

"Saya Pak?..."

Sang dosen mengangguk, lalu dengan gontai kusorongkan salah satu kursi kedepan. Ada catatan doa-doa itu disana. Buat contekan, karena belum hafal. Sang dosen mengangguk, ia izinkan aku melihat dari catatan. Takbir pertama, lancar, karena doa yang dibaca adalah Al-Fatihah, takbir kedua, aku tidak hafal doanya sama sekali, hanya sebaris saja yang dibaca, itupun salah, barisan jamaah dibelakangku berkali-kali mengingatkan, pun barisan mahasiswa laki-laki yang mengamati. Takbir ketiga, lancar karena isinya shalawat kepada baginda Rasulullah, takbir keempat, doa penutup, kembali gagap, terpaksa mentah-mentah kubaca catatan itu. Akhirnya salam diucapkan, selesai, puih, alhamdulillah...meskipun dengan muka memerah dan keringat mengucur deras...

(Ampun ya Allah...ngak akan lagi aku meremehkan syariatmu...)

Thursday, August 12, 2004

SESOSOK BILAL DI PAPUA



Kuulang kembali paket Perjalanan Islam hasil liputannya Ochan dari benua hitam negeri ini, Papua. Tak pernah bosan, kutekan keyboard bertulis home , yang membuat paket itu berjalan kembali dari awal. Ada sesuatu yang indah disana, laki-laki hitam legam sesosok Bilal bin Robah mengalunkan ayat suci Al-Quran. Namanya Abu Hanifah, anak dari wakil ketua suku di Walesi, salah satu desa dipedalaman Papua, yang mayoritas penduduknya muslim. Duduk melingkarinya, anak-anak kecil berperawakan sama, hitam, rambut keriting, dan bibir tebal sekhas orang-orang Habasyah sana. Mendengarkan dengan khusyu, atau sekedar duduk karena instruksi Selo sang kameraman, mereka semua terpekur pada alunan indah Abu Hanifah...

"Dia (Tuhan) menurunkan Kitab (Quran) kepada engkau ya Muhammad dengan sebenarnya serta membenarkan Kitab yang sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil..."

Suaranya indah, wajahnya tampan, Abu Hanifah beruntung, sebagai anak wakil ketua suku, ia sempat menikmati ajaran para juru dakwah di Walesi. Kata seorang abang, saudara-saudara kita yang satu ini memang dikaruniai Sang Kekasih dengan suara yang indah, lihat saja dilayar kaca, suara mereka menghiasi tayangan hiburan kita atau menggema dirumah ibadah yang ada lonceng diatasnya. Coba bayangkan, seandainya Peabo Bryson, R. Kelly, atau Stevie Wonder juga melantunkan ayat-ayat suci itu, wah, Subhanallah....

Saat shalat, sorot matanyapun tetap tajam kearah tempat sujud, meskipun Selo membidiknya dengan kamera, berbeda dengan teman-teman disampingnya, yang kadang salah tingkah atau menatap balik kelensa kamera. Ochan dan teman-teman pasti mendapat banyak cerita menarik disana, yang tidak akan habis ditorehkan dalam satu halaman blogger, tapi buatku, cukuplah sosok Abu Hanifah menjadi percikan segar dalam semangat keimanan.

(Thanks ya Broer, for sharing me the stories, lets hope the news package, inspire people)

Sunday, August 08, 2004

SEMOGA KEMBALI IA KAN PEROLEH HIDAYAH



Ditempat tidur putih kelas III ruang 108 ia terbaring lemas. Ia usahakan untuk bangkit duduk saat kumasuki kamar berbau obat itu. Penuh ta'zim kecium tangannya, tangan wanita yang pernah mengasuhku saat kecil dulu. Yang menemani hari-hariku saat Bunda, My Mom sibuk membantu Bapak mencari nafkah. My Mom, wanita dengan berbagai keahlian, sudah gesit mencari nafkah sejak masih SMP. Pun saat ia sudah memiliki 2 buah hati. Maka ia titipkan kami pada seorang bibinya yang muda usia. Kami memanggilnya Le' Tini

Lalu aku teringat cerita My Mom belasan tahun lalu, kala ia berhasil menjadi comblang, menjodohkannya dengan seorang pemuda mapan. Sebenarnya ada 2 pemuda yang tertarik padanya, yang satu seorang muslim namun hanya pegawai rendahan, sementara yang lain, si pemuda mapan, berasal dari Pulau Dewata. Lalu menikahlah mereka, dalam adat yang sakral itu, Le'ku terlihat cantik dalam balutan kain merah dan kuning emas hingga kedada. Kumpulan kembang goyang berwarna senada menutupi cemaranya yang dibiarkan terurai. Sang Pemuda menggunakan udeng berwarna kuning keemasan, tak lupa sebuah kembang kamboja disisipkan pada kuping sebelah kirinya.

Dan kini dari pernikahan mereka, lahirlah dua anak cantik dan tampan, berperawakan tinggi seperti bapaknya. Widhi dan Ayu. Kehidupan mereka terlihat bahagia, dengan rumah sederhana yang mereka bangun sendiri. Dan sebuah warung kecil untuk menambah penghasilan sang suami. Pilihan my mom kelihatannya tak salah, Le'ku terlihat cukup bahagia, bahkan kadang ia bisa membantu membiayai sekolah adik-adiknya. Ayupun kini tumbuh menjadi gadis manis yang pandai meliukkan badannya, mengikuti alunan para penabuh gamelan. Pendet, Manuk Rawe, Kebyar Duduk dikuasainya.

Tapi ada sesuatu yang berubah, yang kusadari setelah kumengerti nilai-nilai mulia Sang Kekasih. Suatu hari pernah aku kesulitan mendapatkan mukenah dan sajadah, alat yang digunakan seorang muslimah saat hendak bermunajat padaNya. Pernah kulihat pula, sesajen yang selalu diganti didepan arca mini didepan rumahnya. Saat mertuanya dari Pulau Dewata dipanggil Sang Kekasih, dan my mom menemaninya, ia bercerita betapa khusyunya Le'ku mengikuti setiap prosesi, mulai pemotongan hewan haram itu, yang jeritannya membuat My Mom tidak bisa tidur semalaman, hingga abu jenazah dilarung kelaut.

Dan kini...ia duduk lemas ditempat tidur putih, dengan fisik yang tak utuh lagi sebagai seorang wanita. Dadanya yang sebelah kanan, terpaksa diangkat akibat tumor ganas yang hadir tanpa gejala. Hanya rasa gatal, dan sedikit luka yang tak kunjung sembuh. Tapi Sang Kekasih Maha Baik, ia masih izinkan Le'ku untuk menikmati duniaNya lebih lama. Operasi pengangkatan daging sebanyak 2 kilo itu berjalan lancar, kesehatannyapun berangsur membaik, meskipun dengan fisik yang tak lagi sempurna. Dan semoga, ia masih diberikan kesempatan untuk kembali kejalan yang fitrah, kembali pada jalanNya.

(Dan manusia hanya mampu berusaha, Sang Kekasihlah yang menentukan jua)

Wednesday, August 04, 2004

MENGENANG SEORANG ADIK BERNAMA HELMI



Tulisan ini terlalu dini, untuk mengenang seorang adik, yang raga dan jiwanya masih terlihat 30 meter dibelakangku. Malam ini, ia masih disana menemani teman-temannya yang tugas dini hari hingga pagi nanti. Menghabiskan saat-saat terakhir diruang dingin itu, tempat setiap fakta dirangkai menjadi paket menarik, tempat keluh kesah para peliput berita. Baru saja, 4 bulan yang lalu, 14 Maret 2004 tepatnya, ia diterima sebagai salah satu punggawa dinegeri bertuhan rating ini.

Masih kuingat, wajah lugunya saat ia diperkenalkan pertama kali. Para perangkai fakta, audio visual editor angkatan ke-4, yang tadinya berjumlah 10 orang, kini hanya tinggal 4 saja, termasuk Helmi. Helmi, adik yang istiqomah, satu-satunya anak baru yang selalu sabar, mengikuti kajian yang diadakan tiap kamis malam. Masih terdengar ditelingaku, sayup-sayup suaranya dikumpulan itu, kumpulan yang hanya terdiri dari 3 atau 4 orang saja. Suaranya yang paling nyaring, saat ayat-ayat suci itu dilantunkan. Masih tergambar dibenakku, terpekurnya penuh khusyu, pada bacaan ayat-ayat suci dimusholla kecil itu, pukul 12 malam kurang, sesaat sebelum tugas merangkai fakta dimulai.

Masih kuingat, mata lelahnya usai mengikuti kajian, tapi penuh keikhlasan ia bantu membawa kumpulan Al-Qur'an itu untuk dikembalikan pada tempatnya. Dan belum pernah kudengar keluh kesah, apalagi kata-kata tak berguna keluar dari mulutnya. Kalem, tak banyak bicara. Sudah pula kurangkai, rencana-rencana untuk membinanya, menjadi penerus dakwah dinegeri ini, menjadi salah satu mujahid. Tapi ternyata, Sang Kekasih sudah menentukan sebuah jalan baginya.

"Iya Mbak, aku udah shalat, udah istikharah, dan sepertinya pilihanku lebih condong kesana..."

Disana, sebuah negeri lain bernama INDOSAT, memanggilnya. Petunjuk dari Sang Kekasih yang tidak bisa dicampuri. Negeri yang memberikan kesempatan baginya, untuk mengaplikasikan 4 tahun ilmu yang ia pelajari dibangku kuliah. Dan sejak Jum'at kemarin, namanya tak lagi tercantum di jadwal kerja para perangkai fakta. Dan meski berat melepasnya pergi, aku akan selalu doakan yang terbaik. Semoga kelak Sang Kekasih kembali mempertemukan kami dalam kondisi keimanan yang jauh lebih baik. Selamat berjuang dek...

(For my brother Helmi, hope Allah SWT always guide your path, always give you strengh, keep istiqomah ya...)

Monday, August 02, 2004

KUPINANG ENGKAU DENGAN SEBUAH CINCIN EMAS DAN HAFALAN QUR'AN SURAT FUSHILLAT



Kesibukan mulai terasa dikediaman salah seorang saudariku pagi itu. Diiringi aroma sate ayam yang sedang dipanggang dihalaman, Diyah terlihat sabar saat seorang juru rias megoleskan lipstik berwarna merah jambu kebibir tipisnya. Ia tetap cantik, dengan riasan sederhana jauh dari kesan glamour. Sebuah gamis seputih mutiara beserta jilbab panjangnya menambahnya kelihatan agung bak putri raja, belum lagi ditambah untaian melati yang aroma wanginya semerbak memenuhi kamar.

HPnya berbunyi, seorang lelaki diujung telepon sana, memberikan laporan kalau ia dan keluarganya baru saja tiba.

"Assalamua'alaikum, oo, sudah sampai ya, wah belum ada yang menyambut..."

Ditemani kedua orangtua tercinta, bergegas ia menuju dimesjid yang kelak akan menjadi saksi akad suci mereka. Sesekali ia tersipu saat para tetangga memberinya selamat, dan memperhatikannya dengan kagum. Dengan tetap menundukkan kepala, sampailah ia di lantai 2 masjid yang seringkali dijadikan tempat mengucapkan janji suci seorang laki-laki pada calon pendamping hidupnya. Duduk bersila jauh dihadapannya, seorang ikhwan yang wajahnya bercahaya dan terlihat sumringah, tak pernah sedetikpun senyum itu terlepas dari wajahnya. Pun Qur'an mini yang selalu dibawanya sejak turun dari mobil.

Setelah melalui berbagai seremoni,lalu tibalah saatnya ia harus memberikan mas kawin. Kali ini dengan wajah yang terlihat lebih serius, ia menerima clip on yang dijulurkan sang penghulu.

"Saya minta bapak-bapak dan ibu-ibu untuk bersabar, karena mas kawin yang berupa hafalan Qur'an sebanyak 6 lembar ini, harus saya baca, sebagai syarat yang harus dipenuhi dari wanita yang akan saya nikahi"

Ia tunjuk seorang sahabat yang siap dengan Al-Qur'an untuk menyimak bacaanya. Diahpun terpekur dengan Qur'an terjemah ukuran besar tak jauh disebelahnya. Lalu mengalunlah ayat-ayat itu...semua hening, tak bersuara. Akupun lama terpana pada lantunan merdu ayat-ayat itu, gemetar, dan nyaris menitikkan air mata, saat butir-butir bening itu membuncah dikelopak mata sang ikhwan. Tak satupun ayat yang salah, tak ada jeda, hanya terhenti saat ia harus melakukan sujud, karena salah satu ayatnya berisi seruan Sang Kekasih kepada seluruh hambaNya untuk sujud. Semua tetap hening, semua menitikkan air mata dengan perasaan masing-masing, mungkin malu karena dalam umur setua itu satupun surat belum berhasil dihapal dan dipahami, berbeda dengan mempelai pria muda usia, yang penuh kekhusyuan melafalkan ayat-ayat suci itu. Atau gemetar, karena memahami isi ayat yang menceritakan kehidupan surga dan...neraka.

Lalu semua mengucapkan hamdalah, saat mas kawin itu tuntas ditunaikan, tanpa satupun ayat yang salah, tanpa harus mengulang. Sang ikhwan menyeka wajahnya yang dipenuhi air mata. Semua undangan seolah baru disirami air hujan dari syurga. Dan aula masjid itu terlihat semakin bercahaya.

(For my beloved Sister Diyah Murtiningsih and Brother Imam Santoso, May Allah SWT always showering your love and guide you to build the sakinah, mawaddah n warahmah family)