Monday, December 13, 2004

2 PENDEKAR



Kamis malam, agenda rutin ta'lim di negeri bertuan rating, pamflet sudah disebar, masing-masing musholla tiap lantai, hingga didepan lift, pun melalui e-mail, ditambah lagi sms menjelang dimulainya acara. 30 menit mundur dari jadwal semula, cuma segelintir sisters yang datang. Ruangan besar yang sudah ditutupi karpet merah putih itu, kelihatan semakin luas. Dipojoknya terdiam sendiri seperangkat tv dan vcd player. Ah, sepertinya tidak ada yang datang. Kemana ya...perginya para tunas muda, yang kehadirannya kadang ceriakan suasana. Apa mereka mulai lupa, atau tenggelam dalam aktifitas dunia? Padahal agenda rutin ini hanya menyita sekitar 2 jam dari 8 jam x 5 hari kerja yang ada. Padahal baru beberapa minggu saja kita lepas dari kekasih kita, Ramadhan.

Nah itu dia datang 3 brothers, para abang yang istiqomah. Dibelakangnya mengikuti seorang pendekar berkoko putih bersih, itu Ustadz Asdar yang tak kenal menyerah. Eh.. ada satu lagi dibelakangnya, berkoko hijau lumut, Ustadz Dadang yang murah senyum. 2 pendekar yang selalu memberikan siraman hati, tak surut meski jamaahnya surut hingga segelintir saja. Lalu berceritalah salah satu pendekar, tentang sebuah seyembara yang digelar disebuah negeri. Seorang raja mengadakan perlombaan melukis, dengan tema 'ketenangan'. Maka berlombalah rakyat menggambar gunung, sawah menghijau, dan pantai. Tak ada yang istimewa hingga ia tertarik pada sebuah gambar. Disana gelombang laut menggunung dengan petir dan hujan badai, namun ditengah-tengahnya berdiri tegak gunung karang, yang didalamnya ada sarang burung pipit. Burung pipit yang dengan tenang berada didalam karang, tanpa merasa terganggu dengan keadaan sekitar. Itulah kita, kata Ustadz Dadang yang harus terus istiqomah dan tidak tergoda dan larut dalam godaan dunia, yang kelihatannya indah tapi menjerumuskan.

Keberhasilan kita, kata Ustadz Asdar menambahi, bukan pada jumlah yang banyak tetapi pada keistiqomahan kita menjalani setiap proses dengan penuh kesabaran. Ah...2 pendekar tanpa tanda jasa, yang segera menuju kemedan dakwah lainnya, begitu semua pertanyaan dijawab, begitu setiap gelintir rohani yang hadir tersirami.

((Jazakumullah Khairan Katsirran Ustadz Asdar dan Ustadz Dadang)

Thursday, November 25, 2004

MENGENANG MAS NONOT



Nonot Suryo Utomo, itu namanya. Gagah, seperti orangnya, berperawakan tinggi besar, kepala botak, apalagi kalau sudah menenteng kamera dibahu kanan dan tripod ditangan kiri. Aku ingat liputan terakhirnya dulu saat ia balik dari Poso, tentang perjanjian perdamaian yang ditengahi Yusuf Kalla. Masih kuingat gambar saat Dewi Artiwi, reportermu terengah-engah mengejar Pak Yusuf untuk meminta statementnya, pasti kau juga lebih terengah-engah disana, karena tidak seperti Dewi yang pegang mike, kau harus memanggul kamera yang berat itu dan memastikan dapat gambar dan angle yang bagus.

Mas Nonot, dibalik perawakannya yang gagah ternyata mengidap gagal ginjal, mungkin kesibukkanmu membuatmu terkadang lupa minum. Perkara yang kelihatannya sepele, tapi penting, karena segelas air itu ternyata tetap menjaga sebuah organ penting bekerja. Lalu kau putuskan untuk menjadi sepertiku, seorang audio visual editor. Dan disanalah kau mulai bekerja, didepan Newsflash yang dingin. Kau selalu datang lebih dulu dariku, dengan jaket kuning tebal, dan sebuah botol aqua ditangan kanan. Kau edit berita dengan tenang, meskipun terkadang mengeluh karena gambar yang kurang atau tidak bagus, sementara waktu tak mau berkompromi. Botol aqua itu tetap setia menemani, kadang kau taruh dibawah meja, karena supervisor tidak mengizinkan makanan dan minuman masuk keruang editing. Tapi ternyata segalanya sudah terlambat.

Tubuhmu yang dulu berisi, makin kurus. Bicaramu semakin lambat, dan jalanmu tak lagi gagah. Lalu kau tak sanggup lagi bekerja, penyakit itu ternyata sudah menjalar kebeberapa organ penting lainnya, yang memaksamu beristirahat dirumah saja. Dan semenjak kau tak lagi bekerja, aku belum pernah mengunjungimu, meneleponmu, untuk sekedar menanyakan apa khabarmu. Hingga akhirnya kau yang mengunjungi kantor, dengan tubuh yang semakin ringkih, kutemui saat kau duduk didepan salah satu komputer itu.

"Mas Nonot..."
"Hey...Lies..."


Suaramu parau, hampir tak terdengar. Tak tega kumenanyakan bagaimana khabarmu. Kupijat pundakmu, dan disana aku mengetahui, Sang Kekasih sedang menanti. Seperti aku mengetahui, Pak Edy audioman dan Bunda Liennya Ami akan segera dipanggil menghadapNya, saat kupegang tubuh lemah mereka. Jadi saat kudengar kabar 2 hari sebelum Idul Fitri tiba, kau telah dipanggil menghadapNya, aku sudah ikhlaskan kepergianmu semenjak pertemuan hari itu.

Selamat jalan Mas Nonot...

(Semoga saat ini kau tenang dipelukanNya, semoga amal baik mampu menempatkanmu dijannahNya...Amien)
BERLEBARAN DIFALLUJAH



Seminggu sebelum Idul Fitri tiba masih sempat aku mengajak My Mom dan Endah, adik nomor tigaku berjalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan yang baru jadi. Penuh sesak, ibu-ibu dengan anaknya, gadis-gadis abege, yang sibuk memilah-milah pakaian, menawar, mencoba, menghaburkan setiap perak yang tersisa. Jatah THR, sisa gaji, hasil utangan tetangga, atau hasil menodong orangtua. Pun aku yang sama saja, bosan mencari pakaian baru yang tak kunjung dapat, hingga akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja disebuah masjid indah yang letaknya paling atas dari pusat perbelanjaan itu.

Jarang kutemui, pusat belanja yang punya masjid indah, biasanya hanya ada dibasement, atau terkucil dibawah tangga, dengan bau yang menyengat dari jarak 300m jauhnya. Dimasjid itu, masih banyak orang yang mengingat untuk menghadapNya, bahkan dishaf para ikhwan, masih ada seorang pemuda yang terpekur penuh khusyu pada Qur'an kecilnya. Mungkinkah bacaan itu juga ia kirimkan, untuk para saudara di Fallujah? Yang mallnya telah berubah menjadi puing-puing, yang gema adzannya diselingi suara mortir.

Beberapa hari sebelum lebaran, para tetangga sibuk membagikan kue. Nek Misan dan Bu RT yang betawi asli, masih tetap mengirimkan tape ulinya. My Mompun sempat membungkuskan beberapa paket sembako untuk para dhuafa, meskipun parcel mahal untuk kolega My Father juga tak ketinggalan. Parcel mahal untuk untuk orang berada, dan sembako murah untuk para dhuafa. Endah, juga dapat kiriman parcel dari salah satu fansnya. Umi, seorang ibu tua yang jadi tukang cuci dirumah, tak hentinya-hentinya mengucap syukur dan berkaca-kaca saat kami memberikan THR seadanya. Mungkinkah tangis harunya juga ditujukan para saudara di Fallujah? yang kue lebarannya berubah menjadi timah panas, dan ketupatnya berubah menjadi granat.

Saat Lebaran, adik-adikku terlihat sumringah dengan baju barunya, begitu pula para tetangga. Ada banyak lembaran ribuan untuk dibagikan pada anak-anak kecil. Gema takbir tak henti-hentinya berkumandang. Semua karib kerabat berkumpul, wajah penuh senyum, mengobral maaf untuk sesama. Tak lupa my father mengabadikan setiap moment dalam kamera minidvnya, bahkan kami sempat berfoto bersama. Saat kami mengunjungi para tetua, seorang sister memelukku erat, seakan tak mau lepas. Mungkinkah pelukannya ditujukan juga, untuk para saudara di Fallujah? yang kehilangan keluarga dan para tetangga, karena dtembus timah panas para serdadu asing, atau mati karena tertimbun reruntuhan bangunan. Atau karena senandung takbir, yang sudah berubah... menjadi senandung jihad.

(Beruntungnya hidup di Indonesia, dimana beribadah bisa tenang, tanpa desingan peluru, tanpa takut rudal yang bisa hancurkan rumah dalam beberapa detik saja, tapi mengapa amalan... masih biasa?)

Wednesday, November 10, 2004

MASIH ADA CAHAYANYA DINEGERI INI




Puluhan malaikat-malaikat kecil sudah berdatangan pagi itu, tampak bersahaja dengan pakaian takwanya, koko beraneka warna. Dengan penuh percaya diri, sebagian dari mereka mendekap mushaf suci itu, ada yang lamat-lamat membacanya, sambil sesekali memperhatikan teman mereka yang sudah dapat giliran untuk beraksi.

Tak terasa, tahun ini sang tamu agung sudah datang kembali. Dan kami pengurus Majlis Talim kembali dapat amanah untuk menjamunya, maka digelarlah Qurani Kids dan Buka Puasa bersama Anak Yatim, Anak Asuh dan Dhuafa. Malaikat-malaikat kecil yang usai menuaikan tugas, langsung menuju ruang zanzibar, bertemu dengan saudara yang lain, yang sudah menunggu sejak tadi, dan siap melaksanakan shalat Azhar berjamaah. Maka riuhlah ruangan lobi bawah itu, bukan oleh audiencenya cantik indonesia, atau fansnya Bang Iwan Fals, tapi oleh riuh rendah suara para malaikat-malaikat cilik, yang berhamburan menuju tempat wudhu guna mensucikan diri.

Sabtu itu hari mereka, ratusan souvenir siap dibagi, jamuan lezat siap disantap, dan MC yang sabar siap memandu, Ali, salah satu mantan punggawa negeri ini yang memilih untuk menetap dinegeri lain, bernama Universitas Ahmad Dahlan, Jogyakarta. Saudara tercinta yang kedatangannya menyejukkan, dengan kesabaran luar biasa, menangani ratusan malaikat-malaikat kecil dengan senyuman. Maka bergulirlah acara demi acara, semua terpaku, bertepuk tangan riuh rendah saat, Tim Marawis AR-Rasyid dan Tim Nasyid Risalah Generation unjuk gigi. Bahkan Ustadz Sukeri terlihat antusias mengikuti acara, meskipun gilirannya memberikan tausyiah masih diujung maghrib. Pun ia masih tersenyum, saat Bunda Neno Warisman yang datang telat terpaksa mengambil beberapa menit jatahnya.

Sang pemilik negeri dan para penasehat ikut datang, bahkan sempat memberikan hadiah bagi para juara. Mereka tidak menyangka, jika acara ini bisa berlangsung meriah. Bahkan sang penasehat sempat memberikan janji.

"Insya Allah, tahun depan kami akan menyelenggarakan acara yang lebih meriah lagi...."

Maka para malaikat kecilpun gembira, membayangkan kemeriahan yang akan mereka rayakan tahun depan. Dan para punggawapun menerawang, membayang tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan. Tak apa, selama para malaikat itu gembira dengan sedikit uang halal negeri ini. Tak apa, selama cahayaNya masih diizinkan menerangi beberapa ruangan dalam negeri ini dan menerangi hati para pemilik negeri.

(Semoga Sang Kekasih berikan kekuatan pada para punggawa untuk tetap istiqomah menempuh medan dakwah dinegeri bertuhan rating)

Sunday, October 31, 2004

INDAHNYA TUNAS-TUNAS YANG BARU TUMBUH



Tunas-tunas itu sudah lama mengenal Islam, sejak lahirnya bahkan. Lalu lingkungan memberinya warna. Dan Islam masih tetap terlihat, dari ritual yang sehari-hari mereka lakukan, atau identitas khas yang menutup erat kepala. Di negeri bertuhan rating ini, tunas-tunas itu datang dari berbagai latar belakang, dengan kepribadian dan tanggung jawab yang berbeda pula. Ada seorang gadis yang gagah sehari-hari dengan kameranya, yang kalem didepan komputer grafisnya, yang lincah menyiapkan wardrobe para pemeran sinetron dewa, yang cool didalam news control room, yang galak mengingatkan liputan para koresponden daerah, yang tenang dan cerdas saat menghadapi nara sumber, yang bingung dengan liputan gosip artisnya, dan yang sering bimbang hadapi masalah.

Tunas-tunas baru itu berkumpul dalam sebuah bejana, yang kerap menyirami mereka dengan tausyiah yang sejukkan dahaga. Dahaga jiwa akan nasehat, dahaga otak akan ilmu Sang Kekasih, dan dahaga hati akan perjumpaan dengan sesama tunas-tunas baru, para saudari, teman seperjuangan.

"Kaifa Haluki?.."
"Khair, alhamdulillah.."


Beberapa kata baru yang dipelajari, kadang diselingi rasa geli karena ucapan aneh yang keluar karena belum terbiasa, menjadi setetes embun yang kadang menyegarkan pertemuan para tunas baru. Pekerjaan yang dilematis, keletihan yang luar biasa karena jam kerja yang tak jelas usainya, atau masalah kuliah yang tak kunjung terselesaikan, kadang malah menjadi hal-hal yang menyatukan. Menyatukan jiwa para tunas baru dan beberapa bilah pohon yang mulai tumbuh daunnya, untuk percaya pada Sang Kekasih bahwa ada skenario dibalik semua.

(Untuk para tunas baru, senang rasanya menerima kedatangan kalian, menguatkan barisan dakwah)

Friday, October 01, 2004

TUMPENG 30 SEPTEMBER 2004



"Semoga dengan berkurangnya jatah umur kita, selalu ada usaha untuk meningkatkan amal saleh, iman dan taqwa, Amien. " (dari seorang mas, yang jatah berkurang umurnya, bertepatan dengan berkurangnya umurku juga)

"Met Milad ya Mbak, wishin Allah SWT always givin u the best things ever in your life. Amiin." (dari seorang adik, yang suara lantunan Qur'annya mampu getarkan jiwa)

"Sekali lagi, aku ucapin selamat hari lahir saudariku, semoga Allah selalu menyayangimu, mbakku tersayang." (dari seorang adik, yang cintanya begitu besar dan ikhlas, hingga mampu runtuhkan batu karang)

"Selamat hari lahir ya mba, semoga setiap langkah mba senantiasa diberkahi Allah. Amiin." (dari seorang adik, yang kurindukan kehadirannya dalam majelis itu)

"Happy birhday Sister! Tambah dewasa, tambah bijak." (from my big brother, yang kurindukan keterlibatannya dalam barisan itu)

"Apa yang telah hilang dari umurmu, tidak dapat ditarik kembali dan apa yang telah berhasil bagimu, tidak dapat dinilai harganya. Selamat Ulang Tahun Lies Indria Permana (dari seorang kawan, yang selalu merindukan datang cinta Sang Kekasih didalam hati)

"HAPPY BIRTHDAY, to Mbak Iin yang ke-25, semoga diberikan kesehatan, dimudahkan urusannya, tetap istiqomah dijalan Allah, dimudahkan jodohnya. Amiin. (dari seorang saudari yang selalu istiqomah meniti jalan keridhoanNya)

"Mbak Lies Slamat Ulang Tahun ya..:) (dari seorang adik yang menjadi salah satu tenaga penguat dalam barisan dakwah dinegeri bertuhan rating)

"Slamat ulang tahun untuk mbak. Semoga setiap rencana yang mbak buat terkabul, serta bertambah keimanannya, ya mbak. (dari seorang adik, yang kurindukan ikhtiarnya demi mencapai hidayah Sang Kekasih)


Tumpeng sederhana ditengah ruang itu, dikelilingi wajah-wajah teduh dengan jumlah yang lebih banyak dari biasa. 2 orang diantaranya, berkurang usia. Seorang mas, kakak yang selalu menyejukkan dan semangat dakwah yang tak pernah padam, dan aku sendiri yang masih belum banyak berbuat hal-hal berarti.

Tumpeng sederhana yang ujungnya mencuat keatas, laksana tugu peringatan, Dia, Sang Kekasih yang harus selalu diingat, pemberi desah nafas hingga detik ini, penjaga hidayah didalam hati dan penguat dikala kesulitan mendera. Hingga tak patut, sedetikpun kita melupakanNya.

Tumpeng sederhana, hasil berjibakunya seorang bunda, yang tanpa pamrih, selalu bersedia menyenangkan hati putri kesayangannya. Selalu mendoakan yang terbaik, meskipun Sang Putri kerap menyakiti hati, dan terasa berat untuk berbakti.

Tumpeng sederhana, namun dapat memberikan kepuasaan semua orang yang menyantapnya. Seperti diri kita, yang seharusnya bisa bermanfaat bagi manusia disekitarnya, meskipun hanya dengan amalan seperti sebuah tumpeng sederhana, meskipun hanya sebesar biji sawi.

(Alhamdulillah, Sang Kekasih masih izinkan menghirup udaraNya sekali lagi)

Tuesday, September 28, 2004

CANTIK DUNIA AKHIRAT



Malam itu seorang saudari yang baru kukenal saat mabit di Al-Azhar Sabtu lalu, datang berkunjung kekantor. Kuajak ia tur melihat-lihat studio 5, tempat dimana proses sederhana program televisi dibuat. Disana seorang gadis manis berjilbab model artis Inneke, serius berdiri didepan layar biru, menyampaikan tayangan-tayangan untuk bulan suci Ramadhan. Tak jauh diluar studio, ada juga gadis manis setipe yang mondar mandir menghafal naskah. Wajah-wajah mereka terlihat familiar.

"Oh itu untuk program Ramadhan ya mbak?"

Kuanggukan kepala, sambil mengantarnya turun ke lobby. Kembali keruang edit, kulihat 4 orang gadis manis keluar dari ruangan wardrobe menuju studio, masih menggunakan pakaian muslimah, mereka terlihat anggun, cantik dan menyejukkan. Setengah jam kemudian, gadis-gadis manis itu kembali masuk keruang wardrobe.

Tak berapa lama, dari ruangan yang sama keluarlah gadis berpakaian seksi, bahunya terbuka lebar, pakaian ketat menunjukkan seluruh sudut tubuh. Begitupun gadis dibelakangnya, dan dibelakangnya, dan dibelakangnya. Ah bukankah mereka yang tadi menggunakan busana muslim? yang tadi terlihat anggun dan menyejukkan? Muka mereka sering terlihat digedung ini, oh mereka finalis cantik Indonesia. Ajang mencari bintang sebagai duta negeri bertuhan rating ini, yang katanya tidak hanya mementingkan kecantikan tetapi juga bakat.

"Itu kan hanya akting mas..."

Seloroh salah satu gadis seksi itu kepada salah satu kru. Sambil berjalan lenggak lenggok, dengan dagu terangkat keatas. Ah, seandainya salah satu kriteria lagi dimasukkan kedalam ajang itu. Karena seorang duta paling tidak seharusnya memiliki 3 unsur, intelegence, emotional dan... spiritual. Ah, seandainya ketiga unsur itu dimiliki para gadis cantik tadi, mereka bukan hanya akan 'cantik Indonesia' akan tetapi cantik dunia akhirat.

(Masih panjang langkah mengubah industri ini kearah yang diridoiNya, doakan kami agar tetap istiqomah)

Thursday, September 09, 2004

DUA SISI MATA PISAU



Baru 2 hari lalu, saat kulihat ditelevisi, sekumpulan pejabat negeri ini sedang rapat pleno, memprotes 'travel warning' yang dikeluarkan oleh USA buat warga negaranya. Salah satu pejabat itu dengan percaya diri berkata.

""Travel warning itu terlalu berlebihan, Indonesia dalam kondisi aman kok untuk dikunjungi..."

Tapi kini dua hari menjelang peringatan tragedi WTC, sebuah bom berkekuatan besar membuktikan kekhawatiran paman sam. Suasana kantor yang tenang, dalam hitungan detik langsung hiruk pikuk. Bom itu sama sekali tidak melukai kantor kami, tapi nun jauh disana, 5 buah gedung besar hancur, mungkin juga beserta ratusan pekerja yang berada didalamnya. Para produser menelpon reporter yang sedang berada dilapangan, semua dialihkan menuju kuningan, ada yang inisiatif bergerak dengan sepeda motornya.

"Breaking news, breaking news..."
"Buat jelang siang saja, satu segmen, wuih gambarnya bagus..."
"Lihat Anteve, langsung dapat gambarnya..."


Para produser tak mau tertinggal momen berharga, yang bisa mendongkrak rating, atau paling tidak supaya tidak ketinggalan berita dengan tv lainnya. Meskipun para reporter dilapangan belum memberikan laporan, berita harus tetap dibuat. HP mereka terus berdering, para pa sibuk mencari berita tambahan melalui situs detik.com, atau dari laporan reporter elshinta. Karena sifat publikasi radio pasti lebih cepat dibanding televisi. Semua jajaran direksi turun, memberikan para produser slot tayang yang tak terhingga, dari pukul 11.30 hingga 13.00, semuanya berita tentang bom kuningan. Acara gosip artis 'insert' harus rela diganti tayangan breaking news. Bahkan kupas tuntas yang baru usia malam ini pukul 12 malam, juga berisi berita tentang ledakan tersebut.

Penderitaan, kesedihan, kepdihan orang lain, kadang menjadi berita berharga bagi kami. Bad news is a good news, begitu kata sang direktur. Tapi, rasanya tidak selalu demikian, disebuah meja komputer pojok kantor, seorang wanita berjilbab, yang didalam rahimnya tengah bersembunyi mashluk berusia 3 bulan, terlihat tenang menulis naskah untuk sebuah program bernama "Surat Sahabatku", tidak terpancing akan hiruk pikuk diruangan sebelahnya. Raut wajahnya terlihat serius, memikirkan bagaimana menguntai kata-kata menjadi naskah yang indah, yang dapat menyentuh relung hati, mengisahkan tentang penderitaan anak-anak pengungsi.

Lalu agak jauh darinya, juga seorang wanita berjilbab, juga yang sedang mengandung sesosok mahluk suci berusia 7 bulan, terlihat serius merangkai kata-kata yang menceritakan sejarah masuknya Islam dinegeri ini. Ia sedang menulis naskah untuk program "Perjalanan Islam". Media adalah pisau, yang sama-sama memiliki 2 sisi, ditangan penjahat, pisau dapat digunakan untuk membunuh, ditangan orang sholeh, pisau dapat digunakan untuk memotong sayuran dan ikan, menghidangkan makanan lezat bagi keluarga. Tinggal sekarang, kemana hati nurani kita akan menuntunnya?

(Berduka cita sedalam-dalamnya untuk para korban bom kuningan, semoga Sang Kekasih berikan ketabahan dan kekuatan)

Tuesday, August 24, 2004

JANGAN REMEHKAN PRAKTEK IBADAH



Ada sebuah mata kuliah dikampus, namanya praktek ibadah, jumlah sksnya nol, tapi wajib diambil sebagai mata kuliah wajib universitas. Pertama kali lihat barisan kata ini, sempat geli sendiri, kok bisa ya, praktek ibadah dijadikan mata kuliah. Bagaimana mengajarkannya dikelas? Ujiannya bagaimana nanti? Apa seperti waktu ujian praktek kelas 6 SD dulu? Minggu pertama, sang dosen yang sudah berumur itu, menjelaskan tentang apa itu ibadah. Ah anak SMP juga tahu, semuanya ditulis diwhiteboard, kita semua mencatatnya. Ia minta salah satu mahasiswi membacanya, persis seperti mengajari anak-anak SMP.

Minggu kedua, membahas tayamum, selanjutnya shalat jamak dan qashar, terakhir shalat jenazah. Buatku itu ngak penting, shalat jenazah itu urusan laki-laki, tapi sang dosen meminta kami menghafal semua doanya. Lalu tiba diminggu terakhir itu, ia minta seorang mahasiswa dibarisan depan, memimpin shalat jenazah untuk barisan laki-laki. Mahasiswa itu diminta menjadi imam, dan ia hafal semua urutan shalat serta do'anya bahkan dengan lafal yang cukup baik. Sementara mahasiswa laki-laki praktek, aku keluar ke lt. 2 bagian sekeretariat, bayaran uang kuliah dan yang pasti untuk menghindari mata kuliah itu, karena satupun doanya belum kuhafal.

Selesai membayar, kembali kekelas, sang dosen masih memberikan penjelasan, seluruh mahasiswa laki-laki sudah kembali duduk ditempatnya. Kutanya Risty, teman yang duduk disampingku.

"Eh Ris...praktek shalat perempuannya udah ya...?"
"Belum tuh, dari tadi masih banyak yang tanya..."
"Ooo..."


Usai sang dosen menjawab semua pertanyaan, ternyata kini giliran mahasiswi perempuannya, yang diminta praktek shalat jenazah. Dan ia langsung menunjuk seorang mahasiswi yang duduk dibarisan depan, yang sedang tertunduk menghafal doa-doanya. Aku.

"Saya Pak?..."

Sang dosen mengangguk, lalu dengan gontai kusorongkan salah satu kursi kedepan. Ada catatan doa-doa itu disana. Buat contekan, karena belum hafal. Sang dosen mengangguk, ia izinkan aku melihat dari catatan. Takbir pertama, lancar, karena doa yang dibaca adalah Al-Fatihah, takbir kedua, aku tidak hafal doanya sama sekali, hanya sebaris saja yang dibaca, itupun salah, barisan jamaah dibelakangku berkali-kali mengingatkan, pun barisan mahasiswa laki-laki yang mengamati. Takbir ketiga, lancar karena isinya shalawat kepada baginda Rasulullah, takbir keempat, doa penutup, kembali gagap, terpaksa mentah-mentah kubaca catatan itu. Akhirnya salam diucapkan, selesai, puih, alhamdulillah...meskipun dengan muka memerah dan keringat mengucur deras...

(Ampun ya Allah...ngak akan lagi aku meremehkan syariatmu...)

Thursday, August 12, 2004

SESOSOK BILAL DI PAPUA



Kuulang kembali paket Perjalanan Islam hasil liputannya Ochan dari benua hitam negeri ini, Papua. Tak pernah bosan, kutekan keyboard bertulis home , yang membuat paket itu berjalan kembali dari awal. Ada sesuatu yang indah disana, laki-laki hitam legam sesosok Bilal bin Robah mengalunkan ayat suci Al-Quran. Namanya Abu Hanifah, anak dari wakil ketua suku di Walesi, salah satu desa dipedalaman Papua, yang mayoritas penduduknya muslim. Duduk melingkarinya, anak-anak kecil berperawakan sama, hitam, rambut keriting, dan bibir tebal sekhas orang-orang Habasyah sana. Mendengarkan dengan khusyu, atau sekedar duduk karena instruksi Selo sang kameraman, mereka semua terpekur pada alunan indah Abu Hanifah...

"Dia (Tuhan) menurunkan Kitab (Quran) kepada engkau ya Muhammad dengan sebenarnya serta membenarkan Kitab yang sebelumnya, dan Dia menurunkan Taurat dan Injil..."

Suaranya indah, wajahnya tampan, Abu Hanifah beruntung, sebagai anak wakil ketua suku, ia sempat menikmati ajaran para juru dakwah di Walesi. Kata seorang abang, saudara-saudara kita yang satu ini memang dikaruniai Sang Kekasih dengan suara yang indah, lihat saja dilayar kaca, suara mereka menghiasi tayangan hiburan kita atau menggema dirumah ibadah yang ada lonceng diatasnya. Coba bayangkan, seandainya Peabo Bryson, R. Kelly, atau Stevie Wonder juga melantunkan ayat-ayat suci itu, wah, Subhanallah....

Saat shalat, sorot matanyapun tetap tajam kearah tempat sujud, meskipun Selo membidiknya dengan kamera, berbeda dengan teman-teman disampingnya, yang kadang salah tingkah atau menatap balik kelensa kamera. Ochan dan teman-teman pasti mendapat banyak cerita menarik disana, yang tidak akan habis ditorehkan dalam satu halaman blogger, tapi buatku, cukuplah sosok Abu Hanifah menjadi percikan segar dalam semangat keimanan.

(Thanks ya Broer, for sharing me the stories, lets hope the news package, inspire people)

Sunday, August 08, 2004

SEMOGA KEMBALI IA KAN PEROLEH HIDAYAH



Ditempat tidur putih kelas III ruang 108 ia terbaring lemas. Ia usahakan untuk bangkit duduk saat kumasuki kamar berbau obat itu. Penuh ta'zim kecium tangannya, tangan wanita yang pernah mengasuhku saat kecil dulu. Yang menemani hari-hariku saat Bunda, My Mom sibuk membantu Bapak mencari nafkah. My Mom, wanita dengan berbagai keahlian, sudah gesit mencari nafkah sejak masih SMP. Pun saat ia sudah memiliki 2 buah hati. Maka ia titipkan kami pada seorang bibinya yang muda usia. Kami memanggilnya Le' Tini

Lalu aku teringat cerita My Mom belasan tahun lalu, kala ia berhasil menjadi comblang, menjodohkannya dengan seorang pemuda mapan. Sebenarnya ada 2 pemuda yang tertarik padanya, yang satu seorang muslim namun hanya pegawai rendahan, sementara yang lain, si pemuda mapan, berasal dari Pulau Dewata. Lalu menikahlah mereka, dalam adat yang sakral itu, Le'ku terlihat cantik dalam balutan kain merah dan kuning emas hingga kedada. Kumpulan kembang goyang berwarna senada menutupi cemaranya yang dibiarkan terurai. Sang Pemuda menggunakan udeng berwarna kuning keemasan, tak lupa sebuah kembang kamboja disisipkan pada kuping sebelah kirinya.

Dan kini dari pernikahan mereka, lahirlah dua anak cantik dan tampan, berperawakan tinggi seperti bapaknya. Widhi dan Ayu. Kehidupan mereka terlihat bahagia, dengan rumah sederhana yang mereka bangun sendiri. Dan sebuah warung kecil untuk menambah penghasilan sang suami. Pilihan my mom kelihatannya tak salah, Le'ku terlihat cukup bahagia, bahkan kadang ia bisa membantu membiayai sekolah adik-adiknya. Ayupun kini tumbuh menjadi gadis manis yang pandai meliukkan badannya, mengikuti alunan para penabuh gamelan. Pendet, Manuk Rawe, Kebyar Duduk dikuasainya.

Tapi ada sesuatu yang berubah, yang kusadari setelah kumengerti nilai-nilai mulia Sang Kekasih. Suatu hari pernah aku kesulitan mendapatkan mukenah dan sajadah, alat yang digunakan seorang muslimah saat hendak bermunajat padaNya. Pernah kulihat pula, sesajen yang selalu diganti didepan arca mini didepan rumahnya. Saat mertuanya dari Pulau Dewata dipanggil Sang Kekasih, dan my mom menemaninya, ia bercerita betapa khusyunya Le'ku mengikuti setiap prosesi, mulai pemotongan hewan haram itu, yang jeritannya membuat My Mom tidak bisa tidur semalaman, hingga abu jenazah dilarung kelaut.

Dan kini...ia duduk lemas ditempat tidur putih, dengan fisik yang tak utuh lagi sebagai seorang wanita. Dadanya yang sebelah kanan, terpaksa diangkat akibat tumor ganas yang hadir tanpa gejala. Hanya rasa gatal, dan sedikit luka yang tak kunjung sembuh. Tapi Sang Kekasih Maha Baik, ia masih izinkan Le'ku untuk menikmati duniaNya lebih lama. Operasi pengangkatan daging sebanyak 2 kilo itu berjalan lancar, kesehatannyapun berangsur membaik, meskipun dengan fisik yang tak lagi sempurna. Dan semoga, ia masih diberikan kesempatan untuk kembali kejalan yang fitrah, kembali pada jalanNya.

(Dan manusia hanya mampu berusaha, Sang Kekasihlah yang menentukan jua)

Wednesday, August 04, 2004

MENGENANG SEORANG ADIK BERNAMA HELMI



Tulisan ini terlalu dini, untuk mengenang seorang adik, yang raga dan jiwanya masih terlihat 30 meter dibelakangku. Malam ini, ia masih disana menemani teman-temannya yang tugas dini hari hingga pagi nanti. Menghabiskan saat-saat terakhir diruang dingin itu, tempat setiap fakta dirangkai menjadi paket menarik, tempat keluh kesah para peliput berita. Baru saja, 4 bulan yang lalu, 14 Maret 2004 tepatnya, ia diterima sebagai salah satu punggawa dinegeri bertuhan rating ini.

Masih kuingat, wajah lugunya saat ia diperkenalkan pertama kali. Para perangkai fakta, audio visual editor angkatan ke-4, yang tadinya berjumlah 10 orang, kini hanya tinggal 4 saja, termasuk Helmi. Helmi, adik yang istiqomah, satu-satunya anak baru yang selalu sabar, mengikuti kajian yang diadakan tiap kamis malam. Masih terdengar ditelingaku, sayup-sayup suaranya dikumpulan itu, kumpulan yang hanya terdiri dari 3 atau 4 orang saja. Suaranya yang paling nyaring, saat ayat-ayat suci itu dilantunkan. Masih tergambar dibenakku, terpekurnya penuh khusyu, pada bacaan ayat-ayat suci dimusholla kecil itu, pukul 12 malam kurang, sesaat sebelum tugas merangkai fakta dimulai.

Masih kuingat, mata lelahnya usai mengikuti kajian, tapi penuh keikhlasan ia bantu membawa kumpulan Al-Qur'an itu untuk dikembalikan pada tempatnya. Dan belum pernah kudengar keluh kesah, apalagi kata-kata tak berguna keluar dari mulutnya. Kalem, tak banyak bicara. Sudah pula kurangkai, rencana-rencana untuk membinanya, menjadi penerus dakwah dinegeri ini, menjadi salah satu mujahid. Tapi ternyata, Sang Kekasih sudah menentukan sebuah jalan baginya.

"Iya Mbak, aku udah shalat, udah istikharah, dan sepertinya pilihanku lebih condong kesana..."

Disana, sebuah negeri lain bernama INDOSAT, memanggilnya. Petunjuk dari Sang Kekasih yang tidak bisa dicampuri. Negeri yang memberikan kesempatan baginya, untuk mengaplikasikan 4 tahun ilmu yang ia pelajari dibangku kuliah. Dan sejak Jum'at kemarin, namanya tak lagi tercantum di jadwal kerja para perangkai fakta. Dan meski berat melepasnya pergi, aku akan selalu doakan yang terbaik. Semoga kelak Sang Kekasih kembali mempertemukan kami dalam kondisi keimanan yang jauh lebih baik. Selamat berjuang dek...

(For my brother Helmi, hope Allah SWT always guide your path, always give you strengh, keep istiqomah ya...)

Monday, August 02, 2004

KUPINANG ENGKAU DENGAN SEBUAH CINCIN EMAS DAN HAFALAN QUR'AN SURAT FUSHILLAT



Kesibukan mulai terasa dikediaman salah seorang saudariku pagi itu. Diiringi aroma sate ayam yang sedang dipanggang dihalaman, Diyah terlihat sabar saat seorang juru rias megoleskan lipstik berwarna merah jambu kebibir tipisnya. Ia tetap cantik, dengan riasan sederhana jauh dari kesan glamour. Sebuah gamis seputih mutiara beserta jilbab panjangnya menambahnya kelihatan agung bak putri raja, belum lagi ditambah untaian melati yang aroma wanginya semerbak memenuhi kamar.

HPnya berbunyi, seorang lelaki diujung telepon sana, memberikan laporan kalau ia dan keluarganya baru saja tiba.

"Assalamua'alaikum, oo, sudah sampai ya, wah belum ada yang menyambut..."

Ditemani kedua orangtua tercinta, bergegas ia menuju dimesjid yang kelak akan menjadi saksi akad suci mereka. Sesekali ia tersipu saat para tetangga memberinya selamat, dan memperhatikannya dengan kagum. Dengan tetap menundukkan kepala, sampailah ia di lantai 2 masjid yang seringkali dijadikan tempat mengucapkan janji suci seorang laki-laki pada calon pendamping hidupnya. Duduk bersila jauh dihadapannya, seorang ikhwan yang wajahnya bercahaya dan terlihat sumringah, tak pernah sedetikpun senyum itu terlepas dari wajahnya. Pun Qur'an mini yang selalu dibawanya sejak turun dari mobil.

Setelah melalui berbagai seremoni,lalu tibalah saatnya ia harus memberikan mas kawin. Kali ini dengan wajah yang terlihat lebih serius, ia menerima clip on yang dijulurkan sang penghulu.

"Saya minta bapak-bapak dan ibu-ibu untuk bersabar, karena mas kawin yang berupa hafalan Qur'an sebanyak 6 lembar ini, harus saya baca, sebagai syarat yang harus dipenuhi dari wanita yang akan saya nikahi"

Ia tunjuk seorang sahabat yang siap dengan Al-Qur'an untuk menyimak bacaanya. Diahpun terpekur dengan Qur'an terjemah ukuran besar tak jauh disebelahnya. Lalu mengalunlah ayat-ayat itu...semua hening, tak bersuara. Akupun lama terpana pada lantunan merdu ayat-ayat itu, gemetar, dan nyaris menitikkan air mata, saat butir-butir bening itu membuncah dikelopak mata sang ikhwan. Tak satupun ayat yang salah, tak ada jeda, hanya terhenti saat ia harus melakukan sujud, karena salah satu ayatnya berisi seruan Sang Kekasih kepada seluruh hambaNya untuk sujud. Semua tetap hening, semua menitikkan air mata dengan perasaan masing-masing, mungkin malu karena dalam umur setua itu satupun surat belum berhasil dihapal dan dipahami, berbeda dengan mempelai pria muda usia, yang penuh kekhusyuan melafalkan ayat-ayat suci itu. Atau gemetar, karena memahami isi ayat yang menceritakan kehidupan surga dan...neraka.

Lalu semua mengucapkan hamdalah, saat mas kawin itu tuntas ditunaikan, tanpa satupun ayat yang salah, tanpa harus mengulang. Sang ikhwan menyeka wajahnya yang dipenuhi air mata. Semua undangan seolah baru disirami air hujan dari syurga. Dan aula masjid itu terlihat semakin bercahaya.

(For my beloved Sister Diyah Murtiningsih and Brother Imam Santoso, May Allah SWT always showering your love and guide you to build the sakinah, mawaddah n warahmah family)

Thursday, July 29, 2004

NYANYIAN MERDU DISHUBUH ITU



Dinginnya shubuh kadang nyaris membuat mata terpejam diakhir salam. Kalau saja tekad yang tak kuat, seringkali dzikir diakhir shalat berubah menjadi mimpi yang tak jelas. Namun kali itu ada yang berbeda, sesosok wanita mendekap Al-Qur'an besar menungguiku dengan sabar, hingga usai kalimat dzikir terakhir. Sosok itu adalah My Mom. Ia sodorkan Al-Qur'an besar itu.

"Ada apa Mah..?"
"Ngaji..."
"Loh, biasanya kan sama Bapak..."
"Ah ngak enak, susah ngertinya..."


Lalu diawali taawudz ia baca Ayat ke 19 surat Al-Anfaal, terbata-bata. Seringkali harus berhenti saat lupa huruf didepannya. Cukup dingatkan, ia akan lanjutkan. Buatku itu adalah nyanyian termerdu yang kudengar dari mulutnya, mengingat 2 tahun lalu, saat seorang Ustadz masih rajin membimbing kami mengaji, semua huruf tak ada yang dikenalnya. Bahkan untuk menyelesaikan ayat kedua Al-Baqoroh kami harus menanti dengan sabar sekitar 5 menitan lamanya.

Wajar, My Mom, sosok wonder woman itu menghabiskan masa kecilnya disekolah Masehi. Ia tak pernah mengenal Al-Qur'an, selama 6 tahun SMP dan SMUnya satu-satunya kegiatan agama yang ia ikuti adalah kebaktian. Jadi kidung-kidung pujian lebih ia hafal daripada ayat-ayat Al-Quran. Bahkan saat masa pacaran, ia balas surat cinta My Father dengan "damai dalam kasih bapak disyurga" daripada salam.

Tapi, tak ada kata terlambat. Bahkan Sang Kekasih lebih menyukai hambaNya yang membaca Al-Quran terbata-bata namun penuh kesungguhan. Semoga hidayah Sang Kekasih selalu menyertaimu My Mom, Bunda, seperti nyanyian merdumu dishubuh itu.

(For My Beloved Mom: Love You Forever)

Wednesday, July 28, 2004

INDAHNYA CINTA PARA SAUDARI



"Sama-sama mbak, udah kewajiban kita sebagai saudara :) tapi aku akan lebih lega kalo Mbak Lies mau discan biar tahu gimana kondisi yang didalam. Maaf kalo aku cerewet, tapi itu semua karena aku sayang Mbak Lies..." (Seorang saudari cerdas berkacamata membalas smsku malam itu)

"Mbak Lies turut berduka cita...hehehe...tp mba npp-kan? ga diopname kan? cepat sembuh ya...(seorang adik junior penerusku, menanyakan kondisiku malam itu)

"Mbak gimana jari telunjuknya? masih sakit? jangan kecapean ya...(seorang saudari manis menanyakan kabar jari telunjukku yang terkilir saat dayung minggu lalu)


Malam itu berjuta kehangatan seolah menyergapku. Ada pancaran kekhawatiran dari mata mereka, terutama seorang adik yang langsung menempuh puluhan kilometer jaraknya untuk sekedar menemuiku, memastikan bagaimana kondisiku. Ada juga pancaran kesedihan dari sepasang mata lembut, yang didalam rahimnya tengah bersembunyi sesosok mahluk suci.

ke4 saudari malam itu langsung mengajakku kerumah sakit terdekat untuk memeriksa kondisiku, meskipun aku merasa agak baikan, hanya sedikit pusing dan pegal pada bagian pinggang. Tak ada salahnya memenuhi permintaan mereka, siapa tahu memang kondisiku didalam tidak sebaik yang terlihat diluar. Akhirnya dengan penuh kesabaran mereka antarkanku menuju rumah sakit terdekat, menungguiku saat diperiksa dokter, saat rontgen, hingga menebus obat. Padahal malam itu, kutahu banyak pekerjaan menanti untuk diselesaikan, tapi mereka lebih memilih untuk menemaniku.

Sang Kekasih memang Maha Baik, diberikannya aku keluarga yang bahagia, pekerjaan yang mapan dan Para Saudari yang memberikan cintanya dengan sepenuh keikhlasan, lalu Nikmat-Nya yang mana lagi yang tidak dapat aku dustakan?

(Many thanks for your love and affection, my beloved sisters: Mona, Ami, Ve n Tia)
TEGURAN DARI SANG KEKASIH



Siang hari seusai mengetik LPJ DPRa, kukeluarkan Jupiter menuju rumah seorang aktivis dakwah. Sesampainya disana, tak ada satu orangpun yang hadir, bahkan tuan rumah sedang mengikuti acara ditempat lain. Kutitipkan draft LPJ untuk dikritisinya, LPJ itu harus siap 1 Agustus mendatang, saat suksesi itu berlangsung. Lalu langsung kukebut Jupiterku menuju rumah seorang ikhwan yang sedang sakit, kutitipkan juga draft LPJ itu, saat pulang kutitipkan pesan "cepat sembuh ya, masa laki-laki gampang sakit...". Sang ikhwan hanya tersenyum.

200 Meter menjelang gang menuju rumah, sendal berhak 3 cm itu yangkut dipijakan Jupiter, membuatnya oleng, tanpa perlawanan, pasrah kurebah kesebelah kanan. Kejadian ini seringkali terjadi, saat rok panjang itu nyangkut dipedal atau starter, atau saat mau belok kanan. Namun aku tidak sadar kalau kejadian kali ini terjadi dijalan raya, siang hari, saat puluhan motor dan mobil berseliweran, hingga akhirnya sebuah benturan keras menghajar kepalaku, mengko-ku, semua disekitarku jadi hitam, gelap.

Tak berapa lama mataku terbuka, sudah banyak orang disekelilingku, kepalaku pusing bukan kepalang, ada benjolan disebelah kanan kepalaku. Keringat bercucuran, jilbab tak karuan, rasa sakit kurasakan dipinggang sebelah kiri. "Dilepas aja mbak jilbabnya, diobatin dulu..." seru seorang bapak. "Jangan-jangan...sudah bapak menghadap kesana aja dulu..." Lalu bergegas kurapihkan jilbab. Seorang bapak tetanggaku, membawa si Jupiter dan memboncengku menuju rumah.

Dirumah, My Mom yang melihat kondisiku cuma geleng-geleng kepala, lalu dipanggilkannya mbak pemijat, diurutnya benjolan dikepalaku, juga biru lebam dipinggangku, kata My Mom ada jejak roda motor disana. Semenjak SD, sudah kurasakan berbagai kecelakaan, diserempet mobil, ditabrak lari motor, bahkan tabrakan dengan motor. Tidak ada maksud untuk gagah-gagahan atau jadi jagoan, sunggguh kusudah berhati-hati, namun kadang takdir itu tak bisa dihindari.

Dan kali ini, kecelakaan paling parah yang kualami, ada kekhilafan disana, kuindahkan laranganNya untuk tidak memakai sendal berhak, padahal ada hadist yang jelas-jelas melarangnya. Tapi sungguh, kusudah memahami hikmah dibaliknya, pun saat kukendarai salah satu teman Jupiter, Karisma, menuju ketempat guru ngajiku keesokan harinya. Kukenakan helm dan sepatu ketsku, berdzikir sepanjang jalan, karena bayangan hantaman keras itu masih memenuhi kepala, dan alhamdulillah Sang Kekasih izinkan aku selamat untuk sekali lagi, jalani hari.

(Maaf untuk Saudariku Mona, tak bermaksud membuatmu khawatir dek, tapi kadang kala untuk melawan rasa takut itu adalah dengan menghadapinya)

Wednesday, July 21, 2004

OUTBOND FORSIMPTA: Are you ready?... Yes!!!



Pagi hari yang cerah 2 orang ikhwan panitia Forsimpta sudah menanti kami digerbang Buperta Cibubur. Dengan wajah fresh full smile, mereka meyambut dan mengantarkan kami sampai ke hostel kencanawungu, dimana puluhan aktivis dakwah perkantoran sudah berkumpul diaulanya. Wajah-wajah alim serius terpekur pada lay out yang diberikan panitia, ada susunan acara outbond disana.

Setelah sekian lama, tak pernah berkunjung ke Buperta, jadi ingat tahun 1996, saat jadi panitia Jambore Nasional kala itu. Bareng teman-teman gagah dari Saka Bahari, kami menginap persis diwisma sebelah hostel yang akan ditempati sekarang. Kini tahun 2004, bukan lagi aktivis pramuka, tapi berkumpul ditempat yang sama dalam rangka konsolidasi para aktifis dakwah perkantoran, dari Majlis Ta'lim Trans bersama 2 saudariku Mona dan Mbak Yuyun.

Para motivator cerdas dari TRUSTCO, mencairkan suasana dengan melakukan berbagai permainan. Hari pertama, sabtu siang itu kami sudah berteman akrab dengan beberapa aktifis yang bahkan belum kami kenal sebelumnya. Ada Mbak Irma dari Pindo Deli Kerawang, Wiwit yang ekspesif dari Wold Bank, dan Ibu Yaya dari InfoMedia. Banyak juga teman-teman lainnya dari Garuda Indonesia, Telkomsel, Indosat dan masih banyak lagi.

Namun yang paling membekas dalam ingatan adalah dini hari setelah kami qiyamulail, untuk merasakan panasnya api neraka, panitia mengajak kami untuk berjalan diatas bara api. Bara api yang disusun sepanjang 1 meter itu masih mengepulkan asapnya, namun panitia memotivasi kami bahwa dengan pertolongan Sang Kekasih kita pasti bisa melewatinya. Jadi ingat salah satu tantangan yang ada di Fear Factor, saat pesertanya harus berjalan dibara api, mereka semua bukan Muslim, tetapi dengan keyakinan mereka mampu melampauinya.

Akhirnya, dengan takbir satu persatu dari kami memberanikan diri untuk berjalan diatasnya. Satu langkah, dua langkah, aman, tapi langkah ketiga saat kaki kiri gamang, sebongkah bara mampir ditelapak kaki. Panas, perih jadi ingat betapa bara dunia saja sudah sepanas ini, apalagi panasnya api neraka. Semuanya lantas sujud, menghaturkan rasa malu dan syukur keharibaan Sang Kekasih. Malu karena tak berdaya menghadapi bara dunia, bersyukur karena masih diberikan kesadaran.

Paginya tim TRUSTCO telah siap mengajak kami menyebrangi danau dengan menggunakan rakit dan dayung. Diair yang tenang saja, kami kesulitan menjalankan rakit, apalagi mereka para pelaut yang sehari-hari kadang harus menghadapi hujan badai. Dibutuhkan kesabaran dan kerjasama tim yang baik untuk menyebranginya. Selepas menyebrangi danau, masih banyak materi diberikan sebagai bekal untuk menjadi aktifis dakwah perkantoran yang solid.

Dan kini, kami sudah kembali masuk kantor, dengan sekujur badan yang remuk redam namun kenangannya selalu membekas dalam ingatan. Bahkan saat membuka e-mail, semangat outbond itu masih terpancar dari beberapa foto hasil jepretan peserta. Kami semakin siap dan semangat untuk kembali menapaki jalan dakwah dinegeri ini, negeri bertuhan rating, yang berupaya disadarkan untuk kembali kepada Sang Kekasih sejati.

Are you ready...? Yes!!!

(Thanks panitia Forum Silaturanim Dakwah Perkantoran Jakarta, for giving us the chance to know each other, to strengthen the ukuwah)

Wednesday, July 14, 2004

KARENA PAULUS DAN SENDY



Paulus Lie, itu nama yang diberikan orantuanya saat lahir. Asli keturunan tionghoa, dengan kulit kuning langsat dan mata sipit. Penampilannya dandy, suaranya jernih, terdengar saat ia lantunkan sebuah lagu barat berjudul My Way dan sebuah lagu mandarin. Tapi... suaranya terdengar lebih jernih saat ia lantunkan ayat Al-Qur'sn surat Al-Alaq, terbata-bata tapi penuh kekhusyuan.

Paulus Lie yang sekarang berganti nama menjadi Ahmad Zailani, tertawa renyah bersama teman-teman muslim Tionghoanya saat berkumpul bersama disebuah rumah makan China. Ia juga tertawa geli saat sang empunya restoran memberinya hadiah sebuah salib. Kanker stadium 3 yang diderita sang bunda, menghantarkannya pada kesadaran hati nurani, bahwa kematian bisa menjemput kapan saja, karenanya kehidupan yang sekali harus berarti, dan ia putuskan untuk mengisinya dengan cahaya Illahi.

Didepannya tampil cantik dengan jilbab hijau lumut, Sendy. Mata sipit berkacamata semakin memancarkan kecerdasannya. Aktif di PUSDAI Jawa Barat, ia ajarkan keindahan Islam kepada saudara-saudaranya yang baru memperoleh hidayah Sang Kekasih. Dalam komunitas kecil diisi amoy-amoy cantik, ia dengan sabar menjelaskan setiap keingintahuan. Ia pandai mendeteksi penyakit dengan gerakan-gerakan indah layaknya seorang tai chi master, namun masih canggung ketika harus masuk kemasjid yang bukan berisi komunitasnya.

"Pernah...saya masuk masjid, tapi semua mata memandang saya lain, meskipun berjilbab, tapi banyak dari mereka yang menyangka saya biarawati..."

Ah senangnya, berjumpa dengan saudara seiman, meskipun hanya lewat layar kaca. Dengan senang hati, kuedit kisah mereka. Dan Malam ini akan dipresentasikan Ami dan kawan-kawan di Lantai 3 A, pada sang pemilik negeri bertuhan rating, Bapak Chairul Tandjung. Semoga Sang Kekasih memberinya percikan hidayah agar ia izinkan program itu diputar saat bulan suci nanti. Karena Paulus dan Sendy, contoh saudara-saudara kita dari komunitas minoritas yang harus diperkenalkan pada saudara-saudara muslim lainnya. Agar kehadiran mereka bisa direngkuh, agar keberadaan mereka bisa menambah semarak warna keimanan dinegeri ini.

(Perjalanan Islam tentang Komunitas Muslim Tionghoa, Insya Allah tayang Ramadhan)

Monday, July 05, 2004

MENANTI ANGKA-ANGKA BERGANTI...



Detik itu sudah berlalu, detik bersejarah menentukan nasib bangsa yang lama terpuruk. Dukunganpun sudah diberikan. Koalisipun sudah dilakukan, meskipun hanya oleh segelintir kelompok yang masih memiliki kesadaran. Tapi angka yang bergulir, tetap tak menunjukkan kegembiraan.

Banyak yang memprediksi, dukungan itu akan menjadi bola salju, semakin membesar. Tapi nyatanya hingga detik ini, angka itu sulit sekali membuncah. Yang penting ikhtiar sudah dilakukan, tinggal Sang Kekasih menentukan, baik melalui keajaiban atau tidak sama sekali. Yang pasti, selalu ada hikmah dari setiap keputusanNya.

(Siapapun yang terpilih, semoga memiliki ketaatan kepada Sang Kekasih)

Thursday, July 01, 2004

AKHIRNYA...



Sebuah sms masuk saat paket tentang kasus asusila diedit siang itu. Isinya "Musyawarah Majlis Syuro ke V PKS 29/06/2004 menetapkan pasangan Amien Rais - Siswono Yudo Husodo yang masih layak dipilih dalam pemilihan Presiden 2004". Pengirimnya Ustadz Suryama, Humas PKS. Lega sekaligus senang, akhirnya Bapak-Bapak itu berhasil memutuskan.

Masih ingat beberapa hari lalu, saat diskusi bareng Arnest, editor andalan Fenomena yang mengaku sosialis dan mengagumi Che Guavara. "Lies, kalo PKS pilih Wiranto, gue bakalan kecewa berat...". Juga saat Uda Gun, Produser Reportase Petang, lewat Mona bilang kalau dia akan lebih pilih SBY daripada Wiranto, katanya..."Saya sudah lama bergelut dilapangan sebagai jurnalis, saya tahu belangnya Wiranto...saya lebih baik pilih Wiranto daripada SBY".

Atau semangat My Father n The Gank, yang jauh-jauh hari malah sudah PD, PKS pasti dukung Amien. "PKS itu untuk putaran pertama akan dukung Amien...nah kalau Amien gagal, diputaran pertama, terus Wiranto masuk, kita pilih Wiranto...". Bahkan bentuk dukungan mereka diwujudkan dalam 3 buah spanduk bertuliskan "Amien Rais Fans Club" yang dipasang disekitar rumah. Sampai-sampai Pakde dari Kalimantan, yang terpaksa ikut pemilu di Jakarta karena ada tugas, baru akan diurusin perpindahannya untuk memilih, kalau ia memilih Amien Rais.

Orang-orang pemberitaan Trans, bahkan Mas Iwan, bosnya sempat memberikan komentar. "Nah Lies...udah jelas ya PKS...Amien khan...Ya, rasanya tidak berlebihan kalau kita semua merasa lega, karena PKS sekarang sudah besar, keputusannya dinanti, tak hanya mahasiswa dan pekerja profesional, tapi juga teman-teman tukang becak, tukang parkir, tukang sayur yang ikut sumbangsih menggelembungkan suara PKS dalam Pemilu putaran pertama kemarin. Meskipun ada beberapa orang yang kecewa, tapi yang perlu kita berikan adalah keyakinan, keputusan itu pasti sudah melalui diskusi yang ketat, berbagai pertimbangan Para Bapak di Majelis sana, dan keputusan yang dikeluarkan pastinya bukanlah yang akan menyengsarakan umat.

(Akh Ferry pinjam lagi nih fotonya, jazakallah)

Wednesday, June 23, 2004

3 SISTERS



Ada 3 jurnalis yang sedang membidik seorang tokoh dipanggung sana
Saat massa putih berkumpul diarena untuk buktikan jati diri
Ketiganya saat itu belum mengenal satu sama lain
Tapi kecanggihan dunia maya mempertemukan mereka
Dan sebentar lagi mereka akan bersua

Semoga Sang Kekasih mengizinkan
Terajutnya tali ukuwah
dari 3 Sisters

(Akh Fery, pinjam dulu fotonya ya, syukran)
HURU HARA DIMALAM BUTA



Pukul 23 lewat 3 menit, presenter tayangan Kupas Tuntas membuka acara, temanya kali ini tentang transeksual. Kisah manusia yang mengganti jenis kelamin sesuai pilihan hatinya. Pembukaan yang biasa disebut lead in berjalan lancar, masuk short bump, tulisan Kupas Tuntas melayang yang menandai persiapan masuk ke paket pertama. Kembali presenter membaca lead in paket, selesai, tapi kemana paketnya? Sang presenter cantik terdiam dilayar kaca.

Sementara itu diruang editing, semua mata memandang kemonitor. Editornya berupaya untuk tenang, paket yang seharusnya tayang detik itu, baru diprint alias direkam kedalam kaset DVC Pro, baru akan selesai 7 menitan lagi. Sang asisten produsernya yang muda usia, berkali-kali mengintip dari kaca dengan perasaan was-was. Jelas, paket yang harusnya tayang segmen pertama itu, harus mundur kesegmen berikutnya.

3 jam yang lalu, pukul 8 malam, reporter paket pertama itu masih sibuk mengetik naskah, baru 30 menit kemudian naskah bisa diedit. Harusnya 3 jam itu sudah bisa dipakai untuk full editing, bukan lagi saatnya mencari gambar untuk dimasukkan dalam komputer. Tapi yang ada, banyak materi gambar yang belum diinjust, proses editing terganggu, ditambah lagi soundbyte yang jadi unsur penting paket itu belum masuk. Semakin kacau. Hasilnya? paket segmen 1 itu tidak jadi maksimal, plus tidak bisa masuk kesegmen pertama. Lengkap sudah kekacauan.

Harusnya kita bisa belajar. Tayangan Kupas Tuntas bukan spot yang sifatnya diburu waktu, jadi pengambilan gambar, naskah dan editan paketnya seharusnya bisa lebih cantik dan menarik dibandingkan program spot news. Jika saja para kru muda usia itu, mau berpikir lebih dalam, kuasa yang ada ditangan mereka. Bagaimana memikirkan idealisme seorang jurnalis, bagaimana memikirkan social responsibility dari setiap tayangan, bagaimana sebuah kasus dapat tuntas dibahas, jika teknik yang mendasar dalam memproduksi sebuah program saja, tidak mampu direncanakan dengan matang.

(Saat Mengedit Paket Pertama itu)

Monday, June 21, 2004

MELURUSKAN DAKWAH SANG SUNAN



Sebuah program idealis dari pemilik negeri bertuhan rating diproduksi. Perjalanan Islam namanya, cerita sejarah masuknya Islam dinegeri ini. Tergambar dalam benakku kisah penyebaran Islam, perjuangan para wali, dan warna warni Islam yang merupakan rahmat. Seluruhnya 30 episode, akan ditayangkan dibulan mulia nanti, Ramadhan. Akhirnya, bisa merebahkan sejenak kepala yang sudah berbulan-bulan dipenuhi cerita darah dan kematian. Akhirnya bisa memberikan sedikit sumbangsih dengan mengedit program, yang Insya Allah bermanfaat bagi umat.

Empat buah paket selesai diedit, salah satunya diselesaikan dengan penuh perjuangan. Dan kelak program-program berikutnyapun demikian. Semata dilakukan agar penonton tak salah paham. Islam, yang penyebarannya banyak dibantu para wali, ternyata kini banyak disalahartikan. Lihat saja, bagaimana masyarakat berebut air bekas pencucian piring yang mereka anggap membawa karomah. Ada yang langsung diminum atau bahkan menggunakannya untuk mencuci muka. Piring atau tabsi tersebut bertuliskan Asmaul Husna, digunakan Sunan Gunung Jati untuk memperkenalkan nama-nama indah Allah, niat yang mulia, namun disalahtafsirkan.

Ada juga paket tentang berbagai aliran yang banyak ulama nilai, sesat. Kemarin Ve, salah satu reporternya berkunjung ke komunitas Ahmadiyah. Amipun menyambangi kelompok Syiah. Tugas maha berat, karena para reporter ini harus tetap objektif, tetapi objektif yang Islami, karena sesungguhnya 4 sifat mulia Rasululullahpun adalah sifat yang seharusnya terdapat dalam diri seorang jurnalis. Shiddiq (benar), maka Mustahil ia Kizib (dusta).Amanah (dapat dipercaya),maka mustahil Khianat (curang). Tabliqh (Menyampaikan wahyu kepada umatnya),maka Mustahil Kitman (menyembunyikan Wahyu). Fathonah (Pandai/cerdas),maka Mustahil Jahlun (Bodoh). Seorang jurnalis Islami, sudah seharusnya cerdas, dapat dipercaya dan menyampaikan yang benar.

Banyak gerak dakwah para wali yang sudah disalahgunakan dari niatnya semula. Mungkin inilah kesempatan teman-teman, para jurnalis Islami untuk meluruskannya. Tugas reporter untuk mempraktekkan 4 sifat Rasulullah dalam dunia jurnalistik, tugas kameraman untuk mengisinya dengan bidikan gambar dan audio yang tidak memotivasi audience menghidupkan budaya klenik tersebut dan tugas editor untuk mengemasnya menjadi paket yang dapat dipahami dengan benar. Mudah-mudahan.

(Untuk Tim Perjalan Islam: Ami, Dauz,Ve n Mutia...tetap semangat)

Thursday, June 10, 2004

SEPERTI ABI RHAY DAN NAJLANYA



Masuk keruangan itu kadang membuatku menghela nafas. Menebak-nebak cerita apa lagi yang akan disodorkan sang produser padaku. Kemarin, aku menyaksikan derita seorang keponakan yang hilang kehormatan dan disiksa hingga ususnya terburai oleh pamannya. 2 hari lalu naskah tentang ayah yang menghamili putrinya sendiri kusulap menjadi paket menarik yang menyayat hati. Kuingat beberapa waktu juga ada ayah yang tega membunuh 2 anaknya yang sedang lelap, istri dan dirinya sendiri menggunakan pisau dapur yang tumpul. Cerita-cerita seperti itu mengalir terus dalam ruangan itu dan masuk kedalam kepalaku. Hampir membuatku kehilangan hati, dan membenci sosok laki-laki yang selalu hadir sebagai tokoh jahat. Sampai...

Saat kulihat seorang ayah menggandeng tangan anaknya dengan penuh sayang, mengantarkannya hingga ke gerbang TK. Sampai, saat seorang ayah diangkot membangunkan putri yang tertidur dalam pangkuannya dengan lembut. Sampai kurasakan pelukan hangat Bapak saat melepasku pergi kekantor. Sampai saat kubuka sebuah situs yang menyegarkan pikiranku. Sosok laki-laki tidak selamanya jahat, masih ada sosok yang penuh kasih sayang, yang penuh perhatian kepada anak-anaknya, kepada keluarganya....

Seperti Abi Rhay dan Najlanya...
Seperti Pak Luthfie dengan pangeran dan putrinya...

(Thank you Abi Rhay dan Pak Lutfie, for refreshing my mind...)

Monday, May 31, 2004

KARANG DAN OMBAK



Batu karang itu keras dan berdiri kokoh memagari lautan
Namun sesungguhnya tahun demi tahun ia akan terkikis
oleh deburan ombak...

Ombak... yang sebenarnya hanya kumpulan air laut
namun jika bersatu kekuatannya mampu hempaskan batu karang
dan batu karang tak lagi keras ia akan pecah berkeping-keping
serpihannya masuk kembali kedalam lautan
menghiasi dasarnya...Dan laut jadi semakin indah

Karang mengorbankan dirinya untuk menahan hantaman ombak
Menjaga para pelancong agar tak kerkena terpaannnya...
Atau terbawa hanyut tanpa kabar berita

Karena ombak karang tak lagi kokoh berdiri
Tapi karena ombak pula karang memiliki bentuk yang lebih indah
eksotis dan misterius

Karang dan ombak, dua-duanya ciptaan Sang Kekasih

(Waktu ngedit gambar Karang Bolong punya anak Lacak!)

Thursday, May 27, 2004

MADE IN INDONESIA



"Indonesia kebangsaanku, bangsa dan tanah airku, marilah kita bersatu, indonesia merdeka.."

Sebait Indonesia Raya dinyanyikan dengan penuh semangat oleh ibu berusia 30-an diatas tempat tidurnya, disebuah bangsal, rumah sakit jiwa. Meskipun kadang bait yang dinyanyikan kacau, ia tetap semangat, tangannya mengepal, tapi cahaya kehidupan dimatanya tak ada, hampa. Bahkan Hakun, seorang teman yang bertugas meliput, terpana dengan pandangan iba disampingnya.

Ada juga seorang gadis cantik usia 20-an, yang terus menerus berdandan, dan sesekali memandangi arloji tangannya. Dan kini ada Nirmala Bonet, gadis dari kupang yang disetrika punggung dan dadanya. Majikannya murka hanya karena ia memecahkan sebuah mangkuk.

Pernah juga kulihat anak-anak cantik usia 4-8 tahun yang terlahir berhidung mancung, bulu
mata lentik, tampang Arab, dengan ibu yang berasal dari Jawa. Mereka dititipkan karena sang ibu harus kembali bekerja diluar negeri sana, mungkin akan kembali 2 atau 3 tahun lagi, dengan membawa adik baru.

Beberapa waktu lalu di TV, seorang calon Presiden pernah bilang dihadapan ratusan PRT, Ia minta pemerintah lebih memperhatkan keselamatan kerja para TKW. "Boleh-boleh saja jadi TKW, asal dilindungi oleh pemerintah" . Ah bapak, seandainya saya jadi anda, saya tak kan izinkan mereka jadi PRT sejak semula. Akan saya berikan pendidikan, supaya Indonesia tak hanya dikenal sebagai salah satu negera terbesar pengirim tenaga kerja keluar negeri, terutama mereka yang berprofesi sebagai pembantu.

Jadi ingat sebuah iklan layanan masyarakat di Republika, bikinannya Adwork, pemenang sebuah penghargaan didunia periklanan. Gambarnya sebenarnya biasa, sebuah manusia setengah boneka yang terlihat mengepel lantai, dan atribut kebersihan lainnya, dan sebuah alat pemutar dipunggungnya. Sekilas kita bisa tahu apa pekerjaannya, tapi ada yang lebih menusuk, ternyata ditangan kanan boneka itu terlihat sebuah stempel kecil, kecil sekali, yang hanya bisa dilihat, saat kita mendekatkan mata kita, sebuah kalimat bertuliskan "made in Indonesia"

(Semoga Sang Kekasih selalu melindungi para pejuang devisa negeri ini)

Monday, May 10, 2004

INI BOROKNYA USA



Kata apa yang pantas diberikan untuk foto-foto itu? Cuma satu, biadab!
Ini hasil karya negara yang katanya penjunjung tinggi peradaban, penjunjung tinggi HAM.
Padahal Rasulullah mengajarkan kita untuk menghormati tawanan, jangan sakiti, berikan nasehat jika perlu, agar kelak hidayah Sang Kekasih, menuntunnya kembali kejalan yang benar.

Kali ini negara sombong itu membuka boroknya sendiri. Kali ini mereka jujur, membuka topeng kamuflase yang selama ini dipakai. Itulah mereka, hasil peradaban penjunjung tinggi pergaulan bebas, liberalisme, samen liven, hubungan sesama jenis, dan berhasil dalam meningkatkan kebobrokan moral mereka sendiri.

Meskipun, saudara-saudaraku di Abu Gharaib yang harus jadi tumbalnya. Muak, sedih, melihat mereka diperlakukan seperti binatang. Tak tega melihat sekelibatan foto-foto yang diperlihatkan seniorku siang itu. Bahkan manusia normal dibelahan bumi manapun akan malu. Sudah cukup Mr. Bush, sadarlah, jangan buka bobrokmu sendiri.

(Semoga saudara-saudaraku itu diberikan Sang Kekasih kesabaran)

Friday, May 07, 2004

KEMANA DIHABISKANNYA WAKTU



Pertemuan dengan para saudari pagi itu melahirkan kesadaran baru. Yang membuatku malu sekaligus bersyukur, bahwa aku masih diberikanNya kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk jalani hidup lebih berarti. Sebuah rutinitas sederhana, namun efeknya luar biasa. Mengigat kembali kalam-kalam Illahi bersama saudari yang sabar membenahi jika ada kata yang salah dibaca, atau tanda-tanda bacaan yang salah diucapkan. Pagi itu hanya sebagian kecil saja dari firmanNya, yang kami harus ingat kembali.

Seorang saudari melafalkan ayat-ayat itu, fasih, bahkan kadang ia ingat artinya. Begitu pula saudari-saudari yang lain, bergantian, mereka ucapkan ayat-ayat suci itu, saling membenahi, saling mengkoreksi, jangan sampai ada yang salah, karena bisa mengubah keseluruhan artinya. Lalu tiba giliranku, seorang saudari siap dengan Al-Qur'an ditangan, siap mendengarkan. Satu demi satu, pelan-pelan, ayat itu berhasil diucapkan, hingga sampai ayat ke 15, tenggorokanku tercekat, tak kuingat sama sekali bunyinya.

Lalu memoriku terbang saat kemarin malam, kuhabiskan waktu sebanyak 30 menit untuk menonton Fear Factor di TV. Lalu kuteringat akan tayangan terbaru di TV7, yang katanya pemenang Emmy Award, Six Feet Under, kuhabiskan setengah jam menontonnya. Lalu saat kuhabiskan malam menonton satu variety show ke variety show berikutnya. Berjam-jam waktu berharga terbuang percuma, padahal waktu itu bisa dipakai untuk mengingat firmanNya. Dimana kesadaranku sebagai seorang muslimah yang katanya lebih mencintaiNya dibandingkan hal segala.

Tiba-tiba terdengar suara lembut membacakan sebaris ayat yang aku lupa. Sang saudari membantuku. Ia tidak mencela, hanya pandangannya yang teduh seakan mengingatkan, agar waktu lebih bijaksana digunakan.

(Berapa banyak firmanNya yang sudah kita ingat hingga detik ini?)

Tuesday, May 04, 2004

BAHAYA MENUNDA-NUNDA PEKERJAAN



Pertama, kita tidak dapat menjamin bahwa kita akan hidup hingga hari esok. Siapakah yang dapat memberikan jaminan kepada orang lain untuk hidup hingga esok hari, sementara kematian datang dengan tiba-tiba ia datang menjemput dengan berbagai sebab yang berbeda-beda.

Kedua, seandainya kita bisa menjamin kehidupan kita hingga hari esok, kita tetap tidak akan bebas dari berbagai aral rintangan, seperti penyakit yang datang dengan tiba-tiba, kesibukan baru atau bencana yang menimpa.

Ketiga, sesungguhnya setiap hari itu memiliki pekerjaannya masing-masing dan setiap waktu memiliki kewajibannya masing-masing. Tidak ada waktu yang kosong dari pekerjaan. Tatkala dikatakan kepada Umar Bin Abdul Aziz yang pada dirinya juga telah nampak kepayahan karena banyak bekerja. "Tangguhkanlah pekerjaan ini sampai besok", maka dia menjawab: "Pekerjaanku satu hari saja telah menguras tenagaku hingga letih, maka apakah lagi apabila pekerjaan dua hari bertumpuk kepadaku?"

Keempat, sesungguhnya mengakhirkan kepatuhan (kepada Allah) dan menunda-nunda mengerjakan kebaikan, maka nafsu akan membiasakan untuk meninggalkannya.

Kelima, sesungguhnya bekerja merupakan tugas bagi orang yang hidup. Orang yang tidak bekerja tidak berhak untuk hidup. Bekerja diperintahkan kepada seseorang selama keringatnya masih mengalir, baik pekerjaan yang berkaitan dengan urusan agama maupun yang berkaitan dengan urusan dunia.

(dari Manajemen Waktu: Yusuf Qardhawi)

Wednesday, April 21, 2004

MALU PADA SYEIKH YASSIN



Adalah seorang Syeikh Yassin yang telah selesaikan hidupnya dengan sangat indah. Izrail mengajaknya terbang saat ia usai bertaqarub pada Sang Kekasih di shubuh itu. Untuk dirinya sendiri, ia mempersaksikan kepada Allah, bahwa membela agama ini dan kehormatan bangsanya sebagai Muslim, lebih dari segala hal. Nyawa, darah yang mengalir ditubuhnya pun tak penting lagi.

Syahadah Syeikh Yassin adalah taushiyah bagi kita semua. Malulah, malulah semalu-malunya kita yang masih memiliki tarikan gravitasi yang begitu besar pada dunia: harta, wanita dan jabatan. Malulah. Lelaki dalam posisi seperti Syeikh Ahmad Yassin bisa mendapatkan apa saja yang dimauinya, asalkan ia mau berkompromi meskipun harus lumpuh dan sepanjang hidup dalam bidikan senjata. Tubuhnya hancur diterjang tiga rudal Zionis, tapi jiwanya langsung menemui kemenangan abadi.

Sedangkan kita, demi kenyamanan hidup yang tak seberapa, setiap hari kita berkompromi dengan melepas sekerat demi sekerat iman kita. Dengan kualitas ibadah yang ala kadarnya. Dengan melonggarkan syari'ah atas diri kita dan anak istri kita. Dengan pura-pura lupa bahwa Allah menyaksikan kita. Bahkan terkadang dengan pembangkangan.

Satu-satunya jenis manusia yang tidak akan terguncang mentalnya ketika kiamat menggelegar ialah para syuhada. Mereka menyerahkan darah dan jiwanya di jalan Allah. Kelak, mereka akan menyaksikan kehancuran langit, dunia dan seisinya serta kepanikan miliaran manusia dari kejauhan, dalam ketenangan.

(Dari halaman ketiga Hidayatullah yang membuat diri ini malu)

Friday, April 16, 2004

BUKU PEMBAWA HIDAYAH



Siang itu terpampang pengumuman disamping lift. Seorang teman kehilangan buku, judulnya si Cerdik Michael. Buku itu dipinjamnya dari seorang teman, buku langka, yang sudah ada sejak usianya baru 6 tahun. Buku itu harus kembali, bagaimanapun caranya.

Temanku sangat sedih, karena ia sudah kehilangan kepercayaan seorang teman. Lalu ia kerahkan segala upaya untuk mencarinya, sang ayahpun turut membantu. Sampai ia juga mengucapkan sebuah janji, janji kepada Sang Kekasih yang harus ia tepati, jika kelak keinginannya terpenuhi. Janji sederhana tapi kelak kan membawa perubahan besar pada hidupnya.

Janji itu berupa kepatuhan kepada syariatNya, proses meningkatnya ketakwaan, proses untuk lebih dekat pada cintaNya. Ia berjanji untuk menutup auratnya, jika si Cerdik Michael berhasil ditemukan. Ia berjanji untuk mencurahkan cintanya kepada Sang Kekasih semata. Lalu kami para saudari, berupaya mengikatnya, agar ia tak lupa pada janjinya. Memberikan sedikit kebutuhan yang ia perlukan, saat ia berhijab nanti. Termasuk satu buah seragam panjang, jatah dari kantor.

Sang Kekasih ternyata begitu mencintainya, sicerdik Michael berhasil ditemukan, tanpa butuh banyak upaya, tanpa butuh banyak biaya. Seorang bapak tua pemiliknya, menukar buku langka koleksinya hanya dengan uang tujuh ribu perak.

Dan kini kami para saudari menanti pembuktian janji sang teman, esok senin, akankah hidayah Sang Kekasih berhasil ia dapatkan?

(Siapa lagi yang akan dapat hidayahNya?)

Friday, April 09, 2004

PKS 5 TAHUN LAGI: CLEAN AND CAPABLE



"Gimana nih kok cuma nomor 6, katanya target bakalan masuk 3 besar..." seru seorang asisten produser news dini hari itu, bapak muda yang sedang tugas malam untuk Reportase Pagi. Pikiranku melayang satu hari yang lalu. Dua orang produser news senior mesam-mesem, saat melihatku datang.
"Selamat ya, hebat juga nomor satu diDKI..."

Siangnya seorang asisten produser Fenomena, tayangan panasnya bagian Pemberitaan Trans TV, menyodorkan jempolnya yang terlihat hitam dibagian ujung. "Lies, PKS, PKS..."
Aku cuma tersenyum, "terima kasih ya, sudah sumbangin suara buat PKS..."

Sorenya saat ngedit Interograsi bareng Newsflash, seorang Executive Produser menemani, lalu ia bercerita tanpa diminta.

"Aku belum milih saat ini Lies, kalau 5 tahun lagi PKS bisa tetap sebersih ini, aku pasti pilih PKS."
"5 tahun pengabdian PKS selama ini berarti ngak berarti apa-apa donk Kang..."
"Ya ada artinya, tapi aku masih mau lihat kiprahnya 5 tahun lagi..."

Menjelang maghrib, seorang reporter muda, simpatisan PKS, menyapaku dimeja komputernya.
"Wah mbak Lies, kayanya perolehan suaranya lumayan nih...". Aku cuma tersenyum.

Kembali lagi ke asisten produser muda yang dini hari ini masih bolak-balik diruangan news.
"Aku lihat 5 tahun lagi Lies, sekarang belum saatnya PKS menang, kalau sekarang menang takutnya, prematur..." Aku cuma menganguk-angguk.

Seorang produser senior, simpatisan PKS menambahkan.
"5 tahun yang akan datang, PKS ngak boleh cuma mengandalkan kebersihannya, dia juga harus capable, bersih dan capable..."


(Insya Allah)

Friday, April 02, 2004

LAUTAN MASSA BERGELOMBANG PUTIH



Ratusan wajah-wajah berseri memadati halaman sebuah pesantren pagi itu. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 6.30 pagi, hari itu seharusnya sebagian dari mereka masuk kantor, menjalani rutinitas seperti biasa. Tapi mereka mau hari yang berbeda, mereka ingin bertemu dengan saudara-saudara dalam lautan massa. Dengan 3 bus tanpa ac, mereka rela berdesak-desakan berangkat, setelah sebelumnya mengucapkan Bismillah.

Disana, saudara-saudara menyambut kedatangan, diiringi nasyid pengugah semangat. Suaranya menggema memenuhi stadion raksasa. Gelombang putih bentukan bendera yang dikibarkan terlihat dari berbagai sisi, semua berteriak, tua, muda, anak-anak. Kobaran semangatnya mengguncangkan arena, tak ada botol melayang, tak ada sendal yang terlempar, tak ada api yang menyala, hanya semangat lautan massa. Bahkan saat barisan putih yang tak tertampung, menerobos masuk pada tengah arena, sang bapak bijak sigap menyambut mereka dengan lantunan nasyid penuh nasehat.."yang cinta keadilan ayo duduk"..."yang cinta keadilan ayo duduk"...dan merekapun menurutinya...

Lautan massa itu membuktikan janjinya, bahwa mereka kan putihkan Jakarta, meskipun sempat membuat jalan terhambat. Tapi tak ada yang harus menghadapNya karena jatuh dari truk, atau mengganggu pemakai jalan dengan erungan suara motor yang tak karuan, atau memblokir jalan hanya untuk kesenangan semata, semua murni hanya lautan massa yang ingin putihkan Jakarta, yang ingin ciptakan putihnya kedamaian didunia, yang ingin kembali pada kedamaiannya milikNya.

(Pada Selasa terakhir itu)

Friday, March 19, 2004

2 PERMATA DIISTANAKU



2 pekan lalu ada masalah sepele dirumah, yang bikin malas pulang. Ditambah lagi kebakaran diTrans, waktu editing semakin mundur, klop, jadi ada alasan untuk habiskan malam dikantor. 2 hari kuhabiskan waktu berjibaku bareng Si Premiere ngedit Lacak. Telepon dari my father tak pernah kuangkat, sampai teman kantor memberitahu "dicariin orang rumah tuh, katanya 2 hari ngak pulang". Luruh juga, ternyata orang rumah masih ingat.

Memoryku terbang saat Jumat lalu, saat My Mom, bunda terkasih marah-marah. Kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan seorang ibu terlontar dengan mudah, dan ada hati yang terluka. Ingat betapa kata-kata seorang ibu mumpuni, lalu mengapa begitu mudah perkataan kotor itu terlontar? Padahal sang anak hanya hendak merapihkan bunga-bunga ditaman yang kelihatan tak terurus, padahal sang anak hanya ingin biarkan tumbuhnya tunas baru saat ia pangkas habis tunas yang panjang. Namun niat baik tak selamanya berhasil baik, My Mom marah saat tanaman kesayangannya terpangkas, lalu diucapkan kata-kata yang tak pantas, dan sebuah hatipun terluka.

Ya, karena bundapun hanya manusia. Bukan malaikat yang isinya kebaikan semata, terkadang sifat kerasnyapun muncul, dan kamu harus memahaminya, begitu kata ayahanda. Ah, my father, ayahanda, atau yang biasa kupanggil bapak, semakin bijaksana. Dulu ia malah yang paling temperamen, bahkan bisa kulihat 2 tanduk muncul dikepalanya saat ia marah. Namun kini ia berbeda. Inikah hasilnya setelah kau malam-malam selalu berkumpul bersama orang-orang sederhana itu? Inikah hasilnya terpekurmu dalam buku-buku tebal karangan orang-orang bijak itu?

Sang kekasih memang maha adil, ia berikan 2 permata diistanaku. Yang kehadirannya saling mengimbangi satu sama lain. Bersikap bijaksana, saat yang lain alpa. 2 permataku, kedua orangtuaku.

(I always love you mom and dad)

Sunday, March 07, 2004

PERTANDA APA



Si adik riang sudah kembali, keputusannya mudah-mudahan bulat, ia akan bantu perjuangan diJakarta, bergabung bersamaku di negeri bertuhan rating ini. Bertiga, aku, Ami dan ia keluar makan malam ayam bakar yang lezat di tenda pinggir jalan. Pertemuan itu jadi ajang instropeksi sekaligus pelepas kerinduan. Ia terpekur mendengar wejangan kami, kakak-kakaknya, meskipun sesekali diselingi tawanya yang renyah, mudah-mudahan ia paham.

Tiba-tiba beberapa mobil pemadam kebakaran lewat, kami hanya celingukan. Seusai makan bersama, kami langsung menuju kantor, ternyata 2 mobil pemadam sudah diparkir diluar halaman Trans. Aku pikir, malam ini konser Iwan Fals, live, mungkin untuk mengusir penggemar yang nakal atau suka cari ribut, seperti mengusir pendemo. Tapi semakin kedalam, semakin banyak petugas pemadam dan polisi, 2 orang office boy membawa 2 ember berisi air. Semakin kedalam semakin ramai, tangga darurat dipenuhi air, orang-orang sibuk hilir mudik. Studio 4 terbakar! asapnya memenuhi ruang redaksi pemberitaan, semua komputer dimatikan, termasuk alat editku si Premiere. Semua sibuk memadamkan api dan membuang air lewat tangga darurat, teman-teman pemberitaan banyak yang menangis.

Aku hanya melihat-lihat, tidak membantu apa-apa, ada yang ahlinya sudah menangani, jangan sampai malah merepotkan karena bersikap bak pahlawan. Langsung menuju lantai 2, shalat Isya bareng Mona, cuma doa yang bisa kupanjatkan. TV masih menampilkan Iwan Fals dan Andi rif, live di Studio 1, hebat, dengan penonton yang tetap gembira, padahal satu lantai diatasnya sedang kritis. Ada pertanda apa? Apa ini kompensasi Sang Kekasih karena dag dig dut masih terus tayang? Apa ini peringatan karena tayangan klenik masih terus diproduksi? Atau ini hanya sekedar hasil dari kelalaian manusia belaka? Wallahualam...

(Mungkin kini saatnya kita kembali instropeksi diri)

Wednesday, March 03, 2004

PILIHAN YANG TERBAIK



Jumat itu, letih, setelah merapikan kantor My Father, yang baru dipakai untuk pertemuan saudara-saudari. Padahal besok Sabtu mau ujian, 3 mata kuliah, ada 3 paper juga yang harus dikumpulkan, sementara waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Begadang, itu pilihan terbaik. Tapi sebelumnya aku harus telepon seorang saudari, yang suara sedihnya malam itu tak bisa kulupa, suara dari hpku yang terpaksa kututup, karena ku tak mau menganggu perbincangan cukup serius bersama saudara saudari dimalam itu.

Pinjam telepon kantor My Father, terdengar suara berat sang sister, jujur aku tak ingat ia berkata apa, tapi yang pasti menyiratkan kesedihan, sedih karena perpisahan. Sister itu akan kembali ke Palembang, setelah setahun lebih bersama-sama berjuang di Trans, aku hanya bisa memberi wejangan sederhana, menguatkannya untuk membuat keputusan yang bulat. Kuberikan kalimat sakti yang biasa kugunakan.

"Masalah itu jadi berat karena manusia yang membuatnya berat, masalah itu jadi ringan, karena..."
"manusianya yang membuat jadi ringan..."
Ia selesaikan kalimat dariku itu. Ya, semoga ia tidak bosan berkali-kali kalimat itu sudah sering kuucapkan.

Akhirnya kuucapkan salam perpisahan, ikhlas melepasnya pergi, walau ada rasa kehilangan, membayangkan hari-hari yang kelak kujalankan tanpa celotehnya yang riang, pijitan dipunggung, rasa perhatiannya yang tanpa pamrih, dan ajakannya saat aku memulur waktu untuk berjumpa Sang Kekasih.

Dan minggu sore itu saat kuterpekur serius ngedit Lacak!. seorang teman menyodorkan telepon darimu, yang masih galau, masih bingung. Wajar, setiap manusia pasti menemui kegalauan saat harus menentukan pilihan, apalagi menyangkut masa depan dan orang-orang yang dicintainya.

Tapi kau harus buat keputusan dek, bahkan Sang kekasih masih memberimu kesempatan seminggu ini untuk uji banding. Hingga saatnya nanti hanya kau sendiri yang harus putuskan, kembali bersama suadara-saudara diPalembang, atau turut berjuang bersama kami di Jakarta. Tapi apapun keputusanmu itu, aku akan terima dengan sukacita, pun saat kau pilih untuk habiskan hidup disana, pun saat kau pilih untuk terus berjuang disini...

(Selamat beristikhoroh padaNya Dek Mona, Sang Kekasih akan selalu mendampingi)
SAUDARI-SAUDARI BARU



Setelah menempatkan Cap cay dikotak plastik, langsung cabut bareng Jupiter Orange ke rumah Mba Rahma. Tidak lupa jemput Alis, seorang saudari yang baru mau gabung. Sudah 3 minggu aku berkumpul dengan saudari-saudari baru ini, pribadi dengan latar belakang yang beragam dan mandiri. Didepan rumah Mba Rahma, sebuah kijang hijau diparkir sembarang, dibelakangnya terpasang poster FK-UI dan Bulan Sabit Merah, Aisya pasti sudah datang, seorang sister kelahiran Johar yang menyediakan diri jadi supir kami. Sesampainya didalam sudah terlihat kesibukan para ibu. Mbak Rahma yang tetap lincah packing dengan kandungan 9 bulan, Zulfa kelahiran th 80 yang menyuapi anaknya, dan Aisya yang terlihat lelah namun langsung menyalami saat kumasuk kedalam.

Pukul 8.30 akhirnya kami berangkat, semua perlengkapan sudah masuk bagasi. Tujuan kami Ragunan, dan Aisya berkali-kali minta ditunjukkan jalan, maklum bukan orang Jakarta. Sampai dipersimpangan Pasar Minggu, kami salah arah, karena jalan layang banyak yang sedang dibangun, dan bikin bingung, akhirnya dengan penuh kesabaran kami putar arah dikampus IISIP dan pasrah menghadapi jalur macet yang lumayan panjang.

"Wah...kalu disini tak beraturen, tapi tek ade kecelekaan,di Malaysia tuh, kerena sepi orang sering kebut-kebut, jadi banyak kecelekaan.." katanya menyikapi mobil-mobil yang serabat serubut dijalan.
"Ya kecelakaan tetap ada, tapi mungkin ngak sebanyak di Malaysia..." Mba Rahma yang juga pernah tinggal di Malaysia menimpali.

Sepanjang jalan tak pernah sepi, Zulfa yang menemani Aisya dibagian depan selalu menawarkan perbekalan. Ada combro, pisang goreng, dan Tanggo. Anaknya yang imut tertidur pulas dipangkuannya. Alis, Titi dan Titin mengobrol dibagian belakang, setelah sebelumnya saling berkenalan. Aku sibuk menghafal materi kultum, soalnya kali ini giliranku. HP Mbak Rahma terus berbunyi, Nesya pasti sedang menghubungi, seorang saudari yang harus kami jemput karena sudah berangkat duluan. Nah itu dia berdiri dipinggir jalan, lengkap dengan segala perbekalan. Ibu muda bertubuh mungil itu langsung masuk kedalam mobil sambil menebarkan senyum. Sekarang kelompok kami nyaris lengkap, minus Diah yang sedang terbaring lemah kena thypus, semoga cepat sembuh sister...

Akhirnya kami sampai di Ragunan, ramai, banyak anak sekolah yang sedang melakukan kunjungan. Para penjual boneka mulai menata dagangannya, lalu kami cari sebuah lokasi strategis yang teduh buat menggelar tikar. Dimulailah acara rutin kami, kali ini Nesya yang jadi MC, aku yang kasih kultum, dan Alis yang baca Riyadhus Shalihin. Kupandangi wajah-wajah lembut mereka, kepribadian yang halus yang mempesona, sebagian adalah ibu muda yang sudah Sang Kekasih beri kepercayaan untuk mengasuh beberapa bidadari cilik, dan aku diizinkan untuk berada didalamnya, bersama...Saudari-Saudari Baru, yang ikatannya abadi hingga akhirat nanti.

(Aku makin cinta, padaMu, Kekasihku...)

Thursday, February 26, 2004

SELAMAT TAHUN BARU



Seorang bapak bijak mengirimkan pesan dimalam itu:

Batas matahari sekedar malam
Batas peluang hanyalah henti
Batas sabar adalah mati
Berganti hari berganti peluang
Berhentikah kesabaran?

Selamat Tahun Baru 1425 H
Semoga kesabaran tak kan pernah mati hadapi cobaan

(Met Tahun Baru brothers and sisters, semoga keimanan semakin bertambah, semoga rasa cinta semakin membuncah)

Thursday, February 12, 2004

TERUS BERJUANG ADIK-ADIKKU



Sore selepas ngedit interogasi, lelah. Tapi apa itu, tayangan breaking news menampilkan adik-adik mahasiswa yang terluka, bentrok dengan aparat di halaman Mahkamah Agung. Seorang abang menarik aku dan Ami untuk melihat lebih jelas diruang editing yang baru saja aku tinggalkan..."lihat akhwat, biar aja..biar kuat...". Di layar monitor seorang adik berjilbab panjang, dengan jaket almamater UI berjalan terhuyung memegangi kepalanya yang berlumuran darah. Dua orang teman memapahnya.

Tayangan semakin brutal saat aparat merengsek mahasiswa, membalik pentungan karet mereka, dan menggunakan gagang yang keras untuk memukuli setiap mahasiswa yang dilewati, bahkan mobil ambulans jadi sasaran. Mataku terus memandang gambar sambil menahan amarah, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu mereka.

Akhirnya kuputuskan untuk membuat sedikit rekayasa, kuambil satu paket kupas tuntas, roll gambar adik akhwat yang berlumuran darah, roll bentrokan mahasiswa dan kasih gambar keluarga Akbar yang bahagia saat vonis itu dibacakan. Biar masyarakat tahu, ada yang bahagia saat adik-adik menangis menahan perihnya darah yang keluar dari dahi, menahan rasa sakit benjolan dikepala akibat pentungan polisi.

Dan itu Akbar datang, lengkap dengan para pembantu setia termasuk si Ucok dengan rambut kuningnya. Ia mengelus dada saat tayangan klip itu muncul, biar saja, biar dia tahu, adik-adikku bahkan sampai rela berkorban nyawa, demi menegakkan keadilan dibumi tercinta. Biar dia tahu, harusnya dia malu, dia tak pantas menjadi pemimpin dinegeri ini.

Terus berjuang adik-adikku...
Sang Kekasih kan selalu membantumu...


(Saat ngedit kupas tuntas malam itu)
BERJUMPA BIDADARI KEBIJAKSANAAN



Rumahnya sederhana, tampak beberapa stiker salah satu parpol Islam menempel dipintunya. Terdengar sayup-sayup murottal Quran, lantunan Al-Fatehah, berulang-ulang. Sand Bidaddari awalnya terkejut dengan kedatangan 3 orang tamunya, salahku tidak memberitahunya lebih dahulu, namun tak lama senyum hangat keibuan mengembang sambil ia persilahkan kami masuk keistananya.

Dipojok ruangan seorang bocah lucu duduk beralas karpet, mulutnya belepotan seres, tangannya tengah meremas-remas roti berisikan coklat. Ia tersenyum lucu, saat kudatangi. "toklat...toklat," katanya. Lalu datang Sang Bidadadari, mempersilahkan kami pindah keruang tamu. Ia peluk kami satu-satu. Ditangannya terdapat kertas putih berisi biodata beberapa saudari.

Tutur katanya lembut namun tegas. Ia bilang "setiap pertemuan harus setor hapalan, kalau tidak nanti ada hukuman, tapi tenang saja tidak berat kok..". Kami bertiga saling berpandangan, raut salah satu saudari menyiratkan rasa senang, seolah menemukan apa yang selama ini dicari. "Hukumannya duduk dipojok, sambil menghapalkan surat, atau besok setor hapalan lebih banyak.." Tiba-tiba datang mahluk kecil, membawa bantal bola besar, Sang Bidadadari memintanya untuk memperkenalkan diri pada para saudari, ia ulurkan tangan mungilnya. Balita baru genap 1 tahun itu sudah pandai mengeja namanya sendiri...muammad accam.... Dan murottal itu tetap terdengar, lantunan Al-Fatehah, berulang-ulang.

Sang Bidadari bercerita, ia sengaja memutar Al-Fatehah untuk melawan musik-musik lain disekitarnya. Kupasang telinga tajam-tajam, memang tetangga sebelah kiri sedang memutar Panbers, kalau tak salah judulnya Kisah Sedih di Hari Minggu, sebelah kanan dangdutan, kalau yang ini, aku tidak tahu judulnya. Katanya kalau murotallnya diputar berulang-ulang, pasti ada yang nyangkut dibenaknya Azzam. Subhanallah...padahal dirumah kadang aku masih sering dengar musik jahiliyah.

Ia minta pada kami untuk bisa menghadiri kegiatan di At-Tiin 2 pekan yang akan datang, katanya ada lomba hafal jus 30, seolah membawa raut wajah kami, Sang Bidadari penuh bijaksana berkata..tenang saja, ngak harus ikut lomba kok, ya siapa tahu bisa memotivasi.... Akhirnya kami pamit, kupeluk ia erat sekali lagi, kutitipkan kedua saudari padanya, untuk menimba ilmu dan mewarisi kebijaksanaanya. Dan esok akan kutemui seorang biadadari lainnya.

(Saat berkunjung ke guru ngaji baru untuk dua saudariku)

Tuesday, February 10, 2004

AKHIRNYA NGEDIT LACAK!



Setelah beberapa kali menolak tawaran sang produser, akhirnya memberanikan diri untuk mulai mengedit Lacak!, sebuah program depth news, investivigasi kasus-kasus x-file. Dahulu karena melihat Kang Iwan, editor yang banyak tersita waktunya karena ngedit Lacak!, jadi berpikir-pikir lagi ketika tawaran itu datang.

Namun setelah mulai ngedit, ternyata ketagihan, soalnya manajemen data anak-anak Lacak! lumayan rapi. Semuanya tersedia, soundeffect, musik backsound, transition, gambar reka ulang, semuanya. Patut dicontoh untuk manajemen Newsfalsh, alat edit yang biasa dipakai untuk regular news, biar programnya bisa semakin menarik ditonton.

Dahulu juga agak apriori sama si Premiere ini, karena banyak desas desus yang sering bilang kerja bareng Premiere ini ngak nyaman, timeline repot, kalau mau kasih efek ribet. Dan mungkin juga karena keseringan bergaul sama Final Cut Pro, yang pernah menemani saat tugas di Batam. Tapi ternyata Premiere very friendly, lebih friendly malah dibandingkan Final Cut Pro. Awal-awal mungkin agak kaget. soalnya software yang dipakai bajakan (ups, buka rahasia), jadi sering hang, dan ngeditnya musti penuh perasaan. Biar si Premiere ngak ngambek, soalnya kalau ngambeknya datang, satu segmen lacak! yang udah rapi jali diedit hilang semua. Apa ngak gigit jari...

Tapi sekarang kejadian itu tidak akan terulang lagi, soalnya mesin edit yang baru bakalan datang, dan ngak sabar rasanya untuk berkenalan. Sang Kekasih pernah bilang supaya jangan menilai seseorang berdasarkan penampilannya, kayanya berlaku juga untuk mesin edit, jangan apriori dulu sebelum mencoba. Jangan menyerah sebelum bertanding, dan 3 program lacak! hasil editan bareng si Premiere akhirnya layak tayang.

(Kayanya harus terus belajar untuk berpositive thinking)

Wednesday, February 04, 2004

AKHIRNYA DIA UCAPKAN SALAM



Kharismatik, full of ideas, very creative. Begitu orang seringkali memujinya. Bos muda pindahan Indosiar itu memang mampu kobarkan semangat kerja anak buahnya. Lihat saja gayanya memimpin rapat distudio terbesar di negeri ini, penuh percaya diri, penuh keyakinan. Meskipun sikap temperamennya masih tetap lekat, sedikit-sedikit mengejek kelemahan Stasiun TV lain. Semata-mata dia lakukan hanya untuk meyakinkan, bahwa kami in the right business.

Dia canangkan Tahun 2004 sebagai tahun in-house production, itu berarti, akan banyak sinetron diproduksi, akan banyak film dibuat, tambah variety show, dan bye bye Raam Punjabi. ...Kalau bisa menghasilkan revenue dari program sendiri, ngapain beli program PH lain yang mahal...begitu tegasnya. Senang kalau sudah melihat dia sedang optimis, karena kami pasti terkena pancaran energinya.

Untuk itu karyawan baru direkrut, tambah peralatan baru, kerja lebih keras, dan tentu saja bayaran jadi makin meningkat. Lupakan saja libur di Hari Raya, karena konsekuensi kerja di tv, tidak punya hari libur. Siapa yang akan produksi Sitkom Lebaran kalau krunya libur, siapa yang akan report live dari lapangan, kalau reporternya pulang kampung, jawabnya terhadap complain seorang karyawan yang minta libur di Hari Raya.

Kali ini ada yang berbeda, ia belajar untuk lebih wise. Ia bacakan lembar demi lembar halaman evaluasi yang dituliskan anak buahnya. Semua kritikan diterima, meskipun selalu disertai pembelaan. Satu yang menarik saat ia terima masukan dari salah satu Executive Produser isinya...harus lebih banyak beribadah. Lalu dijawabnya, memberikan kesejahteraan pada kami anak buahnya, adalah ibadahnya. Kemudian ia tutup rapat dengan ucapkan...Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakattuh...

Sebuah kalimat sakral...yang baru pertama kali ia gunakan semenjak kedatangannya di tv ini...

(Semoga pancaran hidayah Sang Kekasih mulai merasuki jiwanya)

Sunday, February 01, 2004

DAN MEREGANGLAH NYAWA SANG SAPI



Hari ini 1 Februari 2004, Majlis Ta'lim Trans TV seperti tahun-tahun sebelumnya mengadakan Shalat Idul Adha dan pemotongan Hewan Kurban. Jumlah kambingnya tahun ini mengalami penurunan, hanya 19 ekor saja, dan 3 ekor sapi. 2 sapi hasil urunan beberapa karyawan Trans TV dan 1 sapi sumbangan dari EXtra Joss. Ada yang sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, kali ini ada prosesi penyerahan sapi dari Extra Joss kepada salah satu calon Presiden, yang akan kemudian diserahkan kembali kepada pihak manajeman Trans TV. Guess Who calon Presiden yang terpilih untuk menyerahkannya keTrans. Itu, beliau, yang akhir-akhir ini dapat julukan Presiden SMS, Bapak Hidayat Nurwahid.

Pak Hidayat yang selalu tampil sederhana, dan selalu menjaga pandangan bahkan saat Ami sang reporter mewawancarainya. Bicaranya runtun, jujur dan tidak dibuat-buat, cerminan apa yang ada dihati dan pikirannya. Pak Hidayat kali ini, jauh berbeda dari yang pernah aku lihat beberapa waktu lalu. Saat seorang akhwat pernah datang hendak mewawancarainya, dan ia tolak mentah-mentah dengan amarah yang tidak selayaknya. Sang akhwat kecewa, namun ia masih cukup dewasa, ia hanya kecewa secara personal bukan pada organisasi yang dipimpinnya. Dan rasa kecewa itu ternyata masih melekat hingga saat ini, meski sang Bapak sudah terlihat lebih ramah.

Pak Hidayat menyerahkan sapi gemuk yang terlihat pasrah kepada Ketua Majlis Ta'lim dan berbagai lampu blitz fotograferpun mengabadikannya. Dalam hitungan beberapa detik, serentak beberapa orang yang sudah dikomandoi, memegang erat tali tambang yang mengikat kedua kaki si sapi gemuk, menariknya dan membantingnya perlahan hingga ia rebah ketanah. Dan cless...pisau sang tukang jagal menebas leher sapi gemuk dengan mudahnya, tiada erangan, dan si sapipun meregang nyawa, lalu matanya mulai tertutup pelan-pelan, menelan rasa pedih ditenggorokannya. Semua yang menonton memandang dengan perasaan ngeri. Anak-anak maupun orang dewasa. Dan aku terus mengabadikan moment itu dalam bidikan kamera mini dv, tanpa perasaan apa-apa.

Yang aku panjatkan hanya harapan, semoga penderitaan sang sapi dapat menjadi kebahagiaan bagi orang-orang pinggiran. Orang-orang yang hanya mampu merasakan nikmatnya daging kurban setahun sekali, orang-orang yang selalu merasakan ketidakadilan. Semoga distribusi daging sisapi gemuk lancar, supaya benar-benar jatuh pada yang membutuhkan.

"Yang sampai kepada Allah bukan daging atau darahnya, melainkan yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu" (Al Quran, Surah AlHajj: 37).

Selamat Idul Adha 1424 H...
Taqabalallah Minna Waminkum...
Kullu Aam Wa Antum Bi Khair...


(Pagi itu dihalaman parkir Trans TV)

Wednesday, January 28, 2004

ADIK-ADIKKU YANG MALANG



Pusing. Sudah seharian dapat tugas mengedit program yang isinya kisah duka anak-anak. Jelang Siang dan Interogasi, mengisahkan tentang Jaka, seorang haji yang mencabuli 23 anak kecil laki-laki dilingkungannya, Cianjur. Zaman edan yang sudah semakin edan, seperti kembali pada kisah Sodom dan Gomorah. How could he?, meskipun pernah mengalami nasib yang serupa waktu jadi TKI di Arab sana, bukan berarti dendam bisa dilampiaskan pada anak-anak yang masih polos.

Tambah pusing. Kalau ingat kisahnya Pak Heri, seorang pustakawan diSMPku dulu yang juga guru silat. Seorang homo yang ternyata serupa dan sebangun dengan Jaka, mengorbankan anak-anak kecil yang baru mengenal dunia, demi kepentingan nafsu binatangnya. Pak Heri, yang tampak manis dan tak pernah berlaku kurang ajar terhadapku, juga murid-murid perempuan lainnya, ternyata musang berbulu domba. Jadi sedih kalau ingat tampang innocentnya devi, adik kelas imut yang sering diajak kekontrakannya. Katanya mau diajari ilmu silat baru, padahal mau dicecoki tayangan mesum ciptaan syetan.

Jadi kesal, pada teman-teman yang hampir jadi korbannya, tapi tak pernah bercerita, hingga Pak Heri bebas mencari korban berikutnya. Jadi kecewa, pada guru-guru yang bersikap biasa-biasa saja, dan baru mengeluarkannya dari sekolah, saat anak seorang pejabat mengadu pada orangtuanya. Jadi sebal, pada diri ini, yang tak mampu menyingkap sikap aneh Pak Heri, yang tampak begitu akrab pada setiap adik laki-laki.

Makin pusing. Ketika kita harus mengekspos kehidupan bocah-bocah itu sekali lagi, demi kepentingan rating dan sensasi. Duhai Kekasih, jangan biarkan diri ini jadi tak memiliki nurani.

(Ini resikonya bekerja dimedia, tolong doakan ya friends biar kuat iman...)

Sunday, January 25, 2004

KAU BUKAN MILIKKU LAGI...SEPENUHNYA



24 Januari 2004. Hari bersejarah bagi seseorang, seseorang yang sangat kusayangi. Teman seperjuangan yang selalu mewarnai hari-hari, dengan tawa renyahnya, dengan sikap bersahabatnya, dengan celotehnya yang riang. Masih hangat dalam ingatan, saat ia menemaniku dengan sabar, untuk mengedit sebuah program dakwah mulai matahari terbenam hingga bersinar kembali.

Masih hangat dalam ingatan saat kami bersama-sama pulang larut malam, memilih rekaman dokumentasi untuk dirangkai menjadi paket yang menarik. Juga rasa pembelaanmu yang membara saat seorang ikhwan yang seharusnya melindungi, tetapi malah mencibir kami.

Masih hangat dalam ingatan, sedu sedanmu yang memilukan, saat kau kecewa terhadap seorang abang yang harusnya dalam memberikan panutan, tapi nyatanya tak dapat diandalkan.

Masih hangat dalam ingatan, saat kami berbagi impian, tentang rumah tangga yang diridhoiNya dan pangeran kami yang kelak akan menjadi teman untuk membangunnya.

Dan kini, kau terlihat bercahaya di pelaminan itu, dengan sang pangeran yang sangat mencintaimu. Kau kini bukan milikku lagi...sepenuhnya. Aku harus berbagi dengan sang pangeran, namun dengan penuh rasa bijaksana seolah kau katakan...tidak, kau tidak akan kehilangan seorang sahabat, kau dapatkan lebih, aku dan suamiku....

(For my beloved sister Ami Lidiya Melanrosa, selamat mengarungi bahteraNya, semoga Sang Kekasih selalu memberikan curahan rahmatNya bagi kau dan pengeranmu)