Monday, September 22, 2003

BERSAMA PARA BIDADARI



Mingguku tak pernah kelabu. Meskipun seharian ini belum semenitpun mata terpejam karena tugas editing dini hari. Kali pertama aku mengedit program yang kata orang isinya gosip melulu...Si Avid ini memang unfriendly, kaku rasanya tangan memegang mouse berukuran besar, timeline yang bertumpuk sumpek, audio yang kadang naik turun, belum lagi vtr yang rada hang. Sabar...panik tak kan selesaikan masalah. Akhirnya 30 menit sebelum program itu tayang, beberapa paket segmen satu berhasil diprint, segmen dua diprint, segmen ketiga diprint...yap finish!

Mataku sayu, badanku lemas, tapi hatiku puas. Setelah tugas selesai, saatnya melepas penat, saatnya mendapat siraman batin...saatnya bertemu para bidadari. Dalam perjalanan pulang, dua bidadari menghubungiku..."Mbak dimana? Ditunggu dirumah Mba Sri ya...". Aku mengiyakan, senang rasanya mendengar suara mereka, tak sabar rasanya berjumpa bidadari yang lain.

Jarak 5 meter mendekati sebuah rumah, terdengar sayup-sayup suara halus seorang wanita, kukenali suaranya, itu suara Ratu Bidadari. Bergegas kucepatkan langkah lalu kuucapkan salam, suara halus itu terhenti, tebaran senyum menyelimutiku, kusalami mereka satu persatu.

Ini dia si Ratu Bidadari, ia selalu terlihat cantik apalagi dalam usia kandungannya yang 6 bulan. Suaranya halus tapi tegas, sesekali diselingi bahasa dari negeri Deutcsland sana, maklum karena sang Ratu bertahun-tahun berkutat dengan sastranya. Ratuku halus tapi penuh semangat, kali ini ia berkisah tentang sebuah perjalanan menakjubkan, perjalanan Rasul menembus langit ketujuh.

Disampingnya menyimak dengan serius Bidadari Kesabaran. Yang tertua diantara kami dan paling loyal. Disampirkannya jaketku pada sebuah hanger lalu ia sodorkan segelas minuman dingin penghilang dahaga. Ia tahu kerongkongan ini sudah butuh disiram. Terdengar renyah suara tertawa, itu pasti Bidadari Periang. Selalu menyegarkan suasana, memberikan celetukan lucu, dengan wajah bulatnya yang putih laksana rembulan. Lalu bertanyalah Bidadari Kritis, si cerdas yang sibuk dalam berbagai aktivitas, namun tak pernah ketinggalan dalam setiap pertemuan. Terdiam sambil terus mencatat si Bidadari Kelembutan, tak pernah banyak bicara namun murah tersenyum, satu-satunya dari kami yang saat ini sedang shaum. Lalu tersenyum padaku Bidadari Kebimbangan, wajahnya mirip denganku karena kami berasal dari rahim yang sama. Wajahnya memandang sayu, mungkin ia merasakan kelelahan tubuh ini yang sejak dini hari belum sempat istirahat sejenak dipembaringan.

Bersama para Bidadari tak pernah membuatku jenuh...
Bersama para Bidadari tak pernah membuatku luruh...
Cerita mereka, tausiyah mereka, semangat mereka adalah energiku...
Energi untuk menjalani hari-hari...Energi untuk menghadapi ujianNya didunia ini...

(Terimakasih: Mbak Titin, Mba Sri, Ukhti Lela, Ukhti Alis, Ukhti Ninik, Ukhti Aan)

No comments: