Wednesday, July 26, 2006

SEPAKAT ATAS KETIDAKSEPAKATAN

"Mba Salafi ya?" Seorang sister membuyarkan dzikir petangku disore itu. Kutatap sepasang mata penuh tanya yang pandangannya tertuju pada buku dzikir yang kupegang. Isinya, belum juga terhafal dalam ingatan.
"Kalau kamu berupaya mengamalkan syariah Islam, dengan sebenar-benarnya sesuai yang dijalankan Rasulullah dan para salafuh salih, kamu juga termasuk salaf..." Masih juga ada sedikit tanya di sepasang mata itu.
"Buku ini sama dengan matsurat kok, cuma lebih enak dibaca, dibawahnya langsung ada keterangan sumber hadist shahih yang digunakan" Ia mulai mengangguk, mudah-mudahan paham atas sedikit penjelasan yang diberikan.

Setiap manusia pasti akan berubah, tapi berubah menjadi lebih baik tentu itu yang diinginkan. Pun pada amalan sehari-hari yang kerap dilaksanakan. Semenjak rajin mendengarkan materi yang diberikan seorang Ustadz, pelan-pelan amalan harianpun mulai menjadi lebih baik. Lebih baik, karena setiap gerakan dan bacaannya persis mengikuti ajaran Sang Rasul. Tidak lebih tidak kurang.

Sementara pertemuan dengan para sisters setiap minggunya, juga memperbaiki amalanku yang lain. Hafalan yang makin bertambah, termotivasi untuk menyamai, apalagi ditambah kehadiran seorang sister baru yang seorang penghafal Qur'an. Baru berusia 31, dengan 3 anak, tapi sudah hampir hafal seluruh ayat-ayat Al-Qur'an. Subhanallah...

Alangkah indahnya hidup, jika terus bisa saling mengisi kekurangan, bukan justru memperuncing perbedaan. Jadi iri, pada seorang sister yang baru saja walimah, dan mendapat pendamping yang demikian bijaksana. Yang kerap hadir dalam kajian-kajian fiqh saudara-saudara bermanhaj salaf, namun tetap tak lepas dalam aktifitas politiknya bersama teman-teman tarbiyah. Tidak ada yang salah, semua benar selama bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Yang salah adalah, jika merasa paling benar.

(Mulai kuhirup satu-satu manisnya madu dari bunga beraneka warna)

No comments: