Thursday, November 25, 2004

BERLEBARAN DIFALLUJAH



Seminggu sebelum Idul Fitri tiba masih sempat aku mengajak My Mom dan Endah, adik nomor tigaku berjalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan yang baru jadi. Penuh sesak, ibu-ibu dengan anaknya, gadis-gadis abege, yang sibuk memilah-milah pakaian, menawar, mencoba, menghaburkan setiap perak yang tersisa. Jatah THR, sisa gaji, hasil utangan tetangga, atau hasil menodong orangtua. Pun aku yang sama saja, bosan mencari pakaian baru yang tak kunjung dapat, hingga akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja disebuah masjid indah yang letaknya paling atas dari pusat perbelanjaan itu.

Jarang kutemui, pusat belanja yang punya masjid indah, biasanya hanya ada dibasement, atau terkucil dibawah tangga, dengan bau yang menyengat dari jarak 300m jauhnya. Dimasjid itu, masih banyak orang yang mengingat untuk menghadapNya, bahkan dishaf para ikhwan, masih ada seorang pemuda yang terpekur penuh khusyu pada Qur'an kecilnya. Mungkinkah bacaan itu juga ia kirimkan, untuk para saudara di Fallujah? Yang mallnya telah berubah menjadi puing-puing, yang gema adzannya diselingi suara mortir.

Beberapa hari sebelum lebaran, para tetangga sibuk membagikan kue. Nek Misan dan Bu RT yang betawi asli, masih tetap mengirimkan tape ulinya. My Mompun sempat membungkuskan beberapa paket sembako untuk para dhuafa, meskipun parcel mahal untuk kolega My Father juga tak ketinggalan. Parcel mahal untuk untuk orang berada, dan sembako murah untuk para dhuafa. Endah, juga dapat kiriman parcel dari salah satu fansnya. Umi, seorang ibu tua yang jadi tukang cuci dirumah, tak hentinya-hentinya mengucap syukur dan berkaca-kaca saat kami memberikan THR seadanya. Mungkinkah tangis harunya juga ditujukan para saudara di Fallujah? yang kue lebarannya berubah menjadi timah panas, dan ketupatnya berubah menjadi granat.

Saat Lebaran, adik-adikku terlihat sumringah dengan baju barunya, begitu pula para tetangga. Ada banyak lembaran ribuan untuk dibagikan pada anak-anak kecil. Gema takbir tak henti-hentinya berkumandang. Semua karib kerabat berkumpul, wajah penuh senyum, mengobral maaf untuk sesama. Tak lupa my father mengabadikan setiap moment dalam kamera minidvnya, bahkan kami sempat berfoto bersama. Saat kami mengunjungi para tetua, seorang sister memelukku erat, seakan tak mau lepas. Mungkinkah pelukannya ditujukan juga, untuk para saudara di Fallujah? yang kehilangan keluarga dan para tetangga, karena dtembus timah panas para serdadu asing, atau mati karena tertimbun reruntuhan bangunan. Atau karena senandung takbir, yang sudah berubah... menjadi senandung jihad.

(Beruntungnya hidup di Indonesia, dimana beribadah bisa tenang, tanpa desingan peluru, tanpa takut rudal yang bisa hancurkan rumah dalam beberapa detik saja, tapi mengapa amalan... masih biasa?)

No comments: