Sunday, March 20, 2005

KEMATIAN ITU SPEKTAKULER



Kematian itu spektakuler, salah satu rahasia Sang Kekasih. Pagi ini, kuterima sms dari seorang sister, sebuah berita duka, ibunda seorang sister kami yang lain, Bunda Aklimah meninggal dunia pukul 03.00 dini hari. Suami sister kami itu mantan ketua DPRa, jadi tiap Sabtu sore kami pasti habiskan waktu untuk membahas agenda-agenda dakwah. Aku jadi teringat, wajah ramahnya yang tak lagi muda saat menerima kunjungan kami.

Bunda Aklimah, dengan penuh kesabaran mempersilahkan kami masuk, menyuguhkan kami minum. Pernah kulihat saat ia dengan sabar menyuapi suaminya, ayah sister kami, yang sudah terbaring lemah ditempat tidur sejak 2 tahun lalu, karena terserang stroke. Mengasuh salah satu cucunya, Aufa sigendut bulat, yang hiperaktif. Bahkan saat terakhir menjelang kematiannya, sebuah lemparan jambu klutuk hampir mengenai matanya. Namun ia tetap sabar mengasuh si Aufa kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa. Sementara sisterku itu, anak Bunda Aklimah, Mbak Lia, merawat putri keduanya, Kayla, yang harus diopname dirumah sakit, dan dia sendiri yang nyaris diinfus karena diare.

Bunda Aklimah, yang sabar mendampingi suami, justru dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Kekasih. Suaminya yang kini sudah duduk dikursi roda, memandang jasad kaku dengan tatapan hampa. Entah apa yang sedang dipikirkan.

(Kematian memang spektakuler, kapan datangnya tak ada yang tahu pasti. Tinggal kita bertanya pada diri sendiri, siapkah kita ketika kematian kan datang menghampiri?)

No comments: