Friday, September 08, 2006
NYARIS
Malam itu seusai memeriksa kondisi Zaif didalam rahim. Alhamdulillah kata sang dokter yang cantik itu, kondisinya sehat, ukuran panggulkupun lumayan baik untuk jalan keluarnya. Usianya kini sudah 38 minggu. Kali ini Abi sayank tak bisa menemani, karena harus melaksanakan amanah rapat bersama teman-temannya di Cerita Sore.
Naik angkot, langsung kukeluarkan hp untuk menelepon Bapakku minta dijemput, tapi entah kenapa firasatku tak enak. Berbarengan naiknya 4 pemuda kedalam angkot, kumasukkan hp kembali kedalam tas kecil Eigerku. 2 orang duduk didepan, 2 nya lagi duduk disampingku. Pemuda yang persis duduk disamping membawa tas gemblok berukuran besar, dan terus menerus memepet pundakku, padahal bangku diangkot itu masih lega diduduki kami bertiga.
"Eh mas, bisa geseran sedikit gak..."
Mas yang persis duduk disampingku kaget, dan aku sendiri reflek melihat tangannya yang ternyata mulai menggerayangi tas kecilku. Kontan kulangsung marah dan mendorongnya menjauh. Kusiram saja kakinya dengan segelas aqua dingin yang sejak tadi kubawa. Suasana jadi hening, tak ada yang berani berbicara. Diam-diam kurogoh si Eiger dan ternyata semua masih ada ditempatnya dompet, pun hpku. Puih...nyaris. Tak berapa lama 2 orang pria dengan gelagat yang sama naik keangkot, yang satu membawa tas punggung juga. Ehmm...kukira mereka masih komplotan yang sama, kedua orang ini mungkin bertugas menerima transferan hasil curian sang kawan.
Tapi maaf, malam ini kalian tak bisa menikmati rizki haram itu. Pulang kerumah, kembali kucek si Eiger untuk kembali meyakinkan. Sekali lagi semuanya lengkap. Kukeluarkan buku kecil Dzkikir dan Petang yang biasa kubaca, karya Yazid bin Abdul Qadir Jawaz, pemberian Abi tercinta. Kubaca salah satu kutipan no 11 dari halaman 34:
"Barangsiapa membacanya sebanyak tiga kali ketika pagi dan sore hari, maka tidak ada sesuatupun yang membahayakan dirinya. (HR. At-Tirmidzi No. 3388)"
Tuesday, September 05, 2006
PARA PENCURI DENGAR
"Anaknya laki-laki mbak, ganteng" Kata sang bapak yang malam itu hadir ditemani istrinya yang cantik dan kalem plus 2 babysister yang mengawal kedua anak-anaknya. Pede sekali bapak ini, pikirku, tapi memang tebakannya benar. Insya Allah, bayi dalam kandunganku laki-laki. Tapi segala hal masih bisa terjadi bukan?. Meski demikian, aku memang akan lebih senang jika yang keluar dari rahimku nanti laki-laki, bukan apa-apa, hanya demi mematahkan ramalan para pencuri dengar, yang selalu memprediksi jenis kelamin bayiku adalah perempuan.
Sumedang Larang, Mei 2006.
Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi di tengah balai pertemuan itu ratusan warga Sumedang Larang masih tumpah ruah ditengah-tengah balai. Laki-laki dan perempuan semuanya menari, tak terkendali diiringi asap dupa yang begitu menyengat. Mereka sedang melakukan salah satu tradisi kesenian Sumedang, Goong Renteng. Kehadiran seperangkat Goong yang bunyinya mengundang mahluk-mahluk gaib dari alam lain. Sepasang suami istri terlihat tak jauh didepanku, sang suami tak menari, hanya menjaga sang istri yang memang cantik dengan kerudung hitam selaras dengan gamis yang dikenakan. Ia bergerak mengikuti irama tabuhan Goong, gerakannya tak sembarang, menurutnya setiap gerakan membawa pesan, pesan dari arwah leluhur yang kerap merasuki tubuhnya. Berkali-kali gerakan tangannya mengajakku ikut bergabung ke tengah arena, tapi selalu kutolak. Tiba-tiba sang suami berjalan mendekati.
"Mbak, anaknya perempuan gak pa2 kan?" Katanya dengan wajah serius. Seolah ia telah mendapat wangsit dari arwah leluhur yang merasuki tubuh sang istri.
"Oh gak pa2, mau perempuan laki-laki yang penting sehat" Kataku sambil tersenyum.
Iapun kembali kehadapan sang istri, menjaganya dari campur baur yang tak terkendali.
Dunia Fantasi, Jakarta, Agustus 2006
Wanita itu tiba-tiba meminta selembar rambutku, katanya untuk sekedar iseng. Lalu dicopotnya cincin emas yang melingkar di jari manisnya. Dimasukkan sehelai rambutku kedalam cincin, lalu diputar-putar diatas telapak tanganku. Jika gerakannya maju mundur, katanya bayi dalam rahimku perempuan, jika bergerak memutar maka ia laki-laki.
Ajaib memang, tiba-tiba saja cincin bergerak maju mundur. Nah katanya anak pertamaku adalah perempuan. Diputarnya sekali lagi dan kali ini bergerak memutar, katanya anak keduaku laki-laki.
Begitu banyak teman-teman yang memprediksi jenis kelamin sang Bayi, meskipun aku tak memintanya. Buat aku yang kupinta hanya do'a. Karena begitu banyak bayi terlahir tak sempurna. Cukup sehat lahir, bathin itu saja. Laki-laki pun perempuan.
(Telah mengabarkan kepada kami Ali bin Abdillah dari Hisyam bin Yusuf dari Ma'mar dari Az-Zuhri dari Urwah bin Zubeir dari Aisyah r.a. berkata, "Orang-orang bertanya kepada Rasulullah SAW tentang para dukun," beliau bersabda, "Tidak ada apa-apanya." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, mereka kadang-kadang bisa menceritakan sesuatu yang benar kepada kami. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Kalimat tersebut berasal dari kebenaran yang dicuri oleh jin, kemudian dibisikkan ke telinga para walinya (dukun). Maka para dukun tersebut mencampurkan kalimat yang benar tersebut dengan seratus kedustaan."(HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad))
Wednesday, August 30, 2006
HALAQAH TERCINTA
Hanya bisa memvonis dan berkaca-kaca, tanpa mencari tahu apa yang sedang
dialami sang mad'u. Bertanya kemunduran yang dialami, tanpa menyelidiki apa yang bergejolak didalam hati. Berharap sang mad'u bersikap dewasa, padahal tak ada salahnya pula bersikap tegas di awal-awal waktu. Seharusnya bisa terlebih dahulu bicara dari hati-kehati, sebelum membicarakan secara terbuka kemunduran salah satu sister yang katanya mereka cinta.
Ah, seharusnya aku berpikiran positif, saat sang bidadari datang menyambangi. Ya, itu sebutan untuk guruku, yang menurutku sempurna. Cantik, berpendidikan dan hidup berkecukupan. Menanyakan tentang prioritasku terhadap perkumpulan itu. Perkumpulan tiap pekan, yang didalamnya terdapat sisters dengan berbagai latar belakang. Yang mulai sering kutinggal karena aktifitasku sebagai penyampai fakta. Pun tugas-tugas yang belum terselesaikan sebagai pengganti ketidakhadiranku diberbagai acara.
Tapi aku sungguh bersyukur, kehadiran sang bidadari justru adalah cambuk yang membangunkanku dari keterpurukan. Cambuk yang menyadarkanku tuk kembali semangat untuk mengejar segala ketertinggalan. Cambuk yang menawarkan ujungnya tuk selamatkan diriku dari keterhanyutan. Sejauh kumasih merasa memerlukan kehadiran mereka untuk saling memotivasi dalam beribadah, meotivasi untuk saling mendekatkan diri kepadaNya.
(Insya Allah, kan kucoba memperbaiki segala hal yang ternah tertinggal)
Hanya bisa memvonis dan berkaca-kaca, tanpa mencari tahu apa yang sedang
Ah, seharusnya aku berpikiran positif, saat sang bidadari datang menyambangi. Ya, itu sebutan untuk guruku, yang menurutku sempurna. Cantik, berpendidikan dan hidup berkecukupan. Menanyakan tentang prioritasku terhadap perkumpulan itu. Perkumpulan tiap pekan, yang didalamnya terdapat sisters dengan berbagai latar belakang. Yang mulai sering kutinggal karena aktifitasku sebagai penyampai fakta. Pun tugas-tugas yang belum terselesaikan sebagai pengganti ketidakhadiranku diberbagai acara.
Tapi aku sungguh bersyukur, kehadiran sang bidadari justru adalah cambuk yang membangunkanku dari keterpurukan. Cambuk yang menyadarkanku tuk kembali semangat untuk mengejar segala ketertinggalan. Cambuk yang menawarkan ujungnya tuk selamatkan diriku dari keterhanyutan. Sejauh kumasih merasa memerlukan kehadiran mereka untuk saling memotivasi dalam beribadah, meotivasi untuk saling mendekatkan diri kepadaNya.
(Insya Allah, kan kucoba memperbaiki segala hal yang ternah tertinggal)
Monday, July 31, 2006
ABU HUDZAIFAH SAYANG
Dahulu banyak bayangan tergambar dibenak jika suatu saat ini akhirnya harus mengakhiri masa lajang. Segala persiapan, lahir bathin, pengorbanan, kepada sang calon kepala rumah tanggapun melintas
dalam pikiran. Siap melayani, siap patuh, semuanya dalam rangka menggapai cinta yang lebih besar, cintanya Sang Kekasih, Allah SWT. Bahkan sampai saat seorang sister pernah berkata:
"Ah enaknya ya kalau sudah punya suami, bisa merebahkan kepala ini ke pundaknya."
"Jangan salah, justru nanti suami yang mengharapkan bisa merebahkan kepalanya si pundak kita." Sanggahku waktu itu.
Jadi saat masa-masa berakhirnya status lajang itu kian mendekat, semua tenaga sudah dikerahkan, semua mental telah dipersiapkan. Dan hasilnyapun tak jauh dari bayangan. Bulan-bulan pertama saat penyesuaian, segalanya tidak mudah, pun bagi yang sudah melakukan persiapan. Seandainya saja tak ada sekerat iman di hati, godaan syetanpun pasti mudah menghempaskan segalanya. Tapi Firman Sang Kekasih memang tak pernah ingkar.
Buah kesabaran adalah kenikmatan. Kini, setelah melalui masa-masa penyesuaian yang sulit, masa indahpun terhampar. Pengabdian tanpa pamrih berbuah kasih sayang, saling percaya berbuah ketenangan, cinta yang bersih berbuah benih suci didalam rahim.
Kini, tiada sehari tanpa 3 kecupan. Tiada sehari tanpa pelukan hangat. Tiada sehari tanpa gengaman erat dan tiada sehari tanpa belaian sayang. Pijatan yang menyegarkan di sepasang kaki yang letih, dan kesetiaan menemani dalam setiap kesempatan, dari seorang suami tercinta, Abu Hudzaifah sayang.
(“Sesungguhnya jika kamu bersyukur (atas segala nikmat yang diberikan), pasti Allah akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim 14: 7)
Dahulu banyak bayangan tergambar dibenak jika suatu saat ini akhirnya harus mengakhiri masa lajang. Segala persiapan, lahir bathin, pengorbanan, kepada sang calon kepala rumah tanggapun melintas
"Ah enaknya ya kalau sudah punya suami, bisa merebahkan kepala ini ke pundaknya."
"Jangan salah, justru nanti suami yang mengharapkan bisa merebahkan kepalanya si pundak kita." Sanggahku waktu itu.
Jadi saat masa-masa berakhirnya status lajang itu kian mendekat, semua tenaga sudah dikerahkan, semua mental telah dipersiapkan. Dan hasilnyapun tak jauh dari bayangan. Bulan-bulan pertama saat penyesuaian, segalanya tidak mudah, pun bagi yang sudah melakukan persiapan. Seandainya saja tak ada sekerat iman di hati, godaan syetanpun pasti mudah menghempaskan segalanya. Tapi Firman Sang Kekasih memang tak pernah ingkar.
Buah kesabaran adalah kenikmatan. Kini, setelah melalui masa-masa penyesuaian yang sulit, masa indahpun terhampar. Pengabdian tanpa pamrih berbuah kasih sayang, saling percaya berbuah ketenangan, cinta yang bersih berbuah benih suci didalam rahim.
Kini, tiada sehari tanpa 3 kecupan. Tiada sehari tanpa pelukan hangat. Tiada sehari tanpa gengaman erat dan tiada sehari tanpa belaian sayang. Pijatan yang menyegarkan di sepasang kaki yang letih, dan kesetiaan menemani dalam setiap kesempatan, dari seorang suami tercinta, Abu Hudzaifah sayang.
(“Sesungguhnya jika kamu bersyukur (atas segala nikmat yang diberikan), pasti Allah akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim 14: 7)
Wednesday, July 26, 2006
SEPAKAT ATAS KETIDAKSEPAKATAN
"Mba Salafi ya?" Seorang sister membuyarkan dzikir petangku disore itu. Kutatap sepasang mata penuh tanya yang pandangannya tertuju pada buku dzikir yang kupegang. Isinya, belum juga terhafal dalam ingatan.
"Kalau kamu berupaya mengamalkan syariah Islam, dengan sebenar-benarnya sesuai yang dijalankan Rasulullah dan para salafuh salih, kamu juga termasuk salaf..." Masih juga ada sedikit tanya di sepasang mata itu.
"Buku ini sama dengan matsurat kok, cuma lebih enak dibaca, dibawahnya langsung ada keterangan sumber hadist shahih yang digunakan" Ia mulai mengangguk, mudah-mudahan paham atas sedikit penjelasan yang diberikan.
Setiap manusia pasti akan berubah, tapi berubah menjadi lebih baik tentu itu yang diinginkan. Pun pada amalan sehari-hari yang kerap dilaksanakan. Semenjak rajin mendengarkan materi yang diberikan seorang Ustadz, pelan-pelan amalan harianpun mulai menjadi lebih baik. Lebih baik, karena setiap gerakan dan bacaannya persis mengikuti ajaran Sang Rasul. Tidak lebih tidak kurang.
Sementara pertemuan dengan para sisters setiap minggunya, juga memperbaiki amalanku yang lain. Hafalan yang makin bertambah, termotivasi untuk menyamai, apalagi ditambah kehadiran seorang sister baru yang seorang penghafal Qur'an. Baru berusia 31, dengan 3 anak, tapi sudah hampir hafal seluruh ayat-ayat Al-Qur'an. Subhanallah...
Alangkah indahnya hidup, jika terus bisa saling mengisi kekurangan, bukan justru memperuncing perbedaan. Jadi iri, pada seorang sister yang baru saja walimah, dan mendapat pendamping yang demikian bijaksana. Yang kerap hadir dalam kajian-kajian fiqh saudara-saudara bermanhaj salaf, namun tetap tak lepas dalam aktifitas politiknya bersama teman-teman tarbiyah. Tidak ada yang salah, semua benar selama bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Yang salah adalah, jika merasa paling benar.
(Mulai kuhirup satu-satu manisnya madu dari bunga beraneka warna)
"Kalau kamu berupaya mengamalkan syariah Islam, dengan sebenar-benarnya sesuai yang dijalankan Rasulullah dan para salafuh salih, kamu juga termasuk salaf..." Masih juga ada sedikit tanya di sepasang mata itu.
"Buku ini sama dengan matsurat kok, cuma lebih enak dibaca, dibawahnya langsung ada keterangan sumber hadist shahih yang digunakan" Ia mulai mengangguk, mudah-mudahan paham atas sedikit penjelasan yang diberikan.
Setiap manusia pasti akan berubah, tapi berubah menjadi lebih baik tentu itu yang diinginkan. Pun pada amalan sehari-hari yang kerap dilaksanakan. Semenjak rajin mendengarkan materi yang diberikan seorang Ustadz, pelan-pelan amalan harianpun mulai menjadi lebih baik. Lebih baik, karena setiap gerakan dan bacaannya persis mengikuti ajaran Sang Rasul. Tidak lebih tidak kurang.
Sementara pertemuan dengan para sisters setiap minggunya, juga memperbaiki amalanku yang lain. Hafalan yang makin bertambah, termotivasi untuk menyamai, apalagi ditambah kehadiran seorang sister baru yang seorang penghafal Qur'an. Baru berusia 31, dengan 3 anak, tapi sudah hampir hafal seluruh ayat-ayat Al-Qur'an. Subhanallah...
Alangkah indahnya hidup, jika terus bisa saling mengisi kekurangan, bukan justru memperuncing perbedaan. Jadi iri, pada seorang sister yang baru saja walimah, dan mendapat pendamping yang demikian bijaksana. Yang kerap hadir dalam kajian-kajian fiqh saudara-saudara bermanhaj salaf, namun tetap tak lepas dalam aktifitas politiknya bersama teman-teman tarbiyah. Tidak ada yang salah, semua benar selama bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Yang salah adalah, jika merasa paling benar.
(Mulai kuhirup satu-satu manisnya madu dari bunga beraneka warna)
Thursday, July 20, 2006
Seminggu sekali, masih kusempatkan hadir disebuah taman yang indah. Yang wajah pengunjungnya tampak teduh, hampir semuanya penghuni baru. Beberapa wajah lama sudah tak pernah hadir lagi, mengurusi hal yang lebih penting katanya, hal yang lebih penting daripada sekedar menyimak tausiah sang Ustadz.
Di 2 minggu pertama, Ustadz muda usia yang hadir disana, seorang pemuda lulusan sebuah sekolah ternama, di negeri suci umat Islam, Madinah. Semua pengunjung menyimak tausiyahnya dengan santai, sesuai pembawaan sang Ustadz yang ramah dan murah senyum, bercerita dengan fasihnya tentang sejarah hidup Sang Rasul. Mengungkap kisah-kisah yang sudah lama terlupakan, yang terganti dengan kisah bersejarah Lord of The Ring atau Harry Potter, yang kami ingat tokoh-tokohnya. Mulai dari Legolas yang tampan sampai para Org yang buruk rupanya. Tapi tidak Ibnu Abas, sang paman yang bijaksana...atau Khaulah binti Tsalabah yang gugatannya didengar hingga langit ke tujuh.
Di 2 minggu kedua, Ustadz setengah baya yang hadir disana. Selalu ditemani sang istri yang tertutup rapat auratnya hingga kewajah. Membahas tentang ibadah harian dengan gamblang dan tegas, apa adanya. Memperbaiki amalan harian kami yang terlihat sederhana tapi dalam maknanya. Bahwa ternyata sutrah sang pembatas wajib adanya, bahwa ternyata berdiri sejenak penting adanya, bahwa ternyata niat hanya ada didalam hati.
Tapi mudah-mudahan, 2 jam setiap minggunya hadir di taman indah, bisa menyegarkan ingatan. Betapa kisah hidup Sang Rasul jauh lebih hebat, hebat karena perjuangan didalamnya, hebat karena jauh lebih nyata, daripada sekedar imajinasi sang pengarang yang ditorehkan dalam buku yang tak terkira tebalnya. Betapa amalan yang sederhana penting adanya, untuk menjaga murninya Syariat, untuk benar-benar meneladani kseharian Sang Nabi tercinta.
(Andaikan para saudara yang tak sempat hadir, bisa juga menghirup indahnya ilmu dan nikmatnya ukuwah di taman ini, dan tidak merasa benar sendiri )
28 Minggu usiamu, dengan bobot 1, 3 kilo saja. Kata sang dokter cantik yang kalem itu, beratmu normal, kondisimu sehat, yang bikin mata Abi sayank makin berbinar-binar. Apalagi saat dia bilang engkau akan terlahir sebagai calon mujahid yang kuat. Meski apapun jenis kelaminmu nanti, kami tetap akan curahkan segenap kasih sayang yang kami miliki.
Hudzaifah, itu satu-satunya nama yang terucap ketika Abi sayank bertanya, siapa namamu kelak. Umi ingat, Pemilik nama itu ratusan tahun silam, adalah sang Shaahibu Sirri Rasulullah, Pemegang Rahasia Rasulullah, ditakuti kaum munafik, dan punya disiplin yang tinggi. Kami ingin engkau kelak menjadi sepertinya, tak memaksa, sekuat kemampuanmu saja.
Kala surya mulai tenggelam, biasanya kau mulai tak bisa diam. Berkali-kali umi harus mengelusmu, membelai sayang, umi tak tahu apa kesibukanmu di balik dinding rahim yang gelap itu. Tapi umi tahu, belaian lembut selalu berhasil membuatmu tenang. Setenang tidurmu saat kami lantunkan ayat-ayat suci itu dipenghujung malam. Nyanyian terbaik dunia akherat, pembentuk akhlakmu kelak.
(Salam hangat Abi dan Umi tuk Hudzaifah sayang, tak sabar menanti kehadiranmu didunia yang indah ini)
Tuesday, March 28, 2006
MERASA BUNDA

Inikah rasanya mengandung benih suci itu didalam rahim. Tiada nyaman, tiada ringan. Apalagi disaat beban pekerjaan tak pernah surut. Ingin hati memberikan yang terbaik, tapi apa daya kadang tenaga tak ada.
"Waktu mama ngandung kamu, sampai kamu lahir, masih mual-mual..."
Duh Bunda, si wonder woman. Aku memang gak sepadan. Kau sudah terbiasa mandiri sejak belia. Hingga kinipun kami sudah beranjak dewasa. Dengan penuh kesabaran masih kau tapakkan kaki tua itu untuk mengumpulkan sekeping rizki-Nya.
Jadi ingat, saat kau pernah bercerita. Bekerja, bekerja dan bekerja adalah aktifitas yang tak penah henti kau lakukan, bahkan saat mengandung ke-4 anakmu. Tak bekerja, justru membuat tubuhmu sakit tak karuan. Bagaimana bisa? Bahkan kini baru kukandung benih pertamaku saja, rasanya semua tenaga sudah habis terkuras. Untung ada kau selalu disisi, yang siap memberikan bantuan kapan saja, bahkan untuk melakukan pekerjaan yang sesungguhnya sudah tak layak dilakukan Bunda mulia seperti dirimu.
Pagi saat semburat merah itu hadir di ufuk angkasa, terdengar suaramu lirih mencoba membaca firman-Nya... terbata-bata. Alunan nadanya sudah jauh lebih indah dari hari-hari sebelumnya. Lalu dimulailah gerakan-gerakan senam itu, katamu itu gerakan senam terapi air Hembing, membuat tubuhmu jauh lebih sehat. Tak lama gemericik air terdengar diair terjun minimu, tak lupa menyirami mahluk Sang Kekasih lainnya, agar tumbuhnya tetap hijau dan memberikan ketenangan saat dipandang.
Hatimu tetap tenang, masih sempat tertawa saat beban hidup kian menghimpit dada. Tanpa pamrih, itu kuncinya. Lakukan semuanya dengan ikhlas, untuk 4 buah hatimu tercinta, maka semuanya...kan tampak indah dan bersahaja...
(Ah Bunda, tak layak kumerasa dirimu)
Inikah rasanya mengandung benih suci itu didalam rahim. Tiada nyaman, tiada ringan. Apalagi disaat beban pekerjaan tak pernah surut. Ingin hati memberikan yang terbaik, tapi apa daya kadang tenaga tak ada.
"Waktu mama ngandung kamu, sampai kamu lahir, masih mual-mual..."
Duh Bunda, si wonder woman. Aku memang gak sepadan. Kau sudah terbiasa mandiri sejak belia. Hingga kinipun kami sudah beranjak dewasa. Dengan penuh kesabaran masih kau tapakkan kaki tua itu untuk mengumpulkan sekeping rizki-Nya.
Jadi ingat, saat kau pernah bercerita. Bekerja, bekerja dan bekerja adalah aktifitas yang tak penah henti kau lakukan, bahkan saat mengandung ke-4 anakmu. Tak bekerja, justru membuat tubuhmu sakit tak karuan. Bagaimana bisa? Bahkan kini baru kukandung benih pertamaku saja, rasanya semua tenaga sudah habis terkuras. Untung ada kau selalu disisi, yang siap memberikan bantuan kapan saja, bahkan untuk melakukan pekerjaan yang sesungguhnya sudah tak layak dilakukan Bunda mulia seperti dirimu.
Pagi saat semburat merah itu hadir di ufuk angkasa, terdengar suaramu lirih mencoba membaca firman-Nya... terbata-bata. Alunan nadanya sudah jauh lebih indah dari hari-hari sebelumnya. Lalu dimulailah gerakan-gerakan senam itu, katamu itu gerakan senam terapi air Hembing, membuat tubuhmu jauh lebih sehat. Tak lama gemericik air terdengar diair terjun minimu, tak lupa menyirami mahluk Sang Kekasih lainnya, agar tumbuhnya tetap hijau dan memberikan ketenangan saat dipandang.
Hatimu tetap tenang, masih sempat tertawa saat beban hidup kian menghimpit dada. Tanpa pamrih, itu kuncinya. Lakukan semuanya dengan ikhlas, untuk 4 buah hatimu tercinta, maka semuanya...kan tampak indah dan bersahaja...
(Ah Bunda, tak layak kumerasa dirimu)
Friday, February 10, 2006
Sudah lebih 2 bulan, perut ini rasanya tak karuan. Membuat diri tak nyaman dan hilang kesabaran. Lalu mulailah sensasi itu datang, saat mentari terbit dan terbenam. Bahkan parfum non alkohol Abi tersayangpun, terasa tak nyaman. Bergolak didalam perut, naik keatas tenggorokan, dan meluncur melalui indra pengecap. Makan tak berselera, karena semua hidangan selezat apapun terasa masam. Lalu hatipun mulai bertanya-tanya.
Esoknya menjelang shubuh, sebuah stick kecil kupandangi dengan jantung berdebar. Rembesan cairan dibawahnya merambat naik, hasilkan satu tanda strip merah. Pelan-pelan, lalu...dua strip merah!. Kupandangi sekali lagi. Kutunjukkan stick itu pada Abi tersayang yang baru pulang dari jammaahnya dimasjid depan. Ia terpana. Lalu, sebuah dekapan dan ciuman hangat itupun langsung menyergap.
"Sudah 2 bulan...itu lihat detak jantungnya..." seru dokter wanita yang tak banyak bicara, sambil menunjuk sebuah layar biru disisiku.
Dan aku hanya bisa memandang dengan perasaan takjub.
Kini, ku tak lagi hilang kesabaran. Walau rasa mual itu masih kerap detang, semuanya terganti dengan perasaan bahagia luar biasa. Bahagia karena ada melodi indah yang selalu menemani, yang datangnya dari, sebuah detak jantung,... didalam rahimku.
(Thank U Allah, for the best gift You give to us)
Wednesday, January 18, 2006
MESKI SEBESAR ZARRAH

Malam itu, didalam istana kami. Piring-piring dan gelas kotor menghiasi kitchen sink, bekas kuah sayuran tampak berceceran dimeja makan. Juga ceceran air gula, yang sedang digerumuti semut dengan tekunnya. Tak jauh dari situ, Ayankku tengah serius menyiapkan jatah malam satpam komplek kami, meramu gula, kopi dan cemilan sebagai teman mereka terjaga semalaman.
"Sayang, boleh gak ini dibersihkan..." tanyaku menunjuk sekumpulan semut diatas keramik kitchen sink. Selembar topo sudah siap dalam genggaman.
"Jangan sayang....biarin mereka hidup. Mereka kan gak jahat sama kita. Ingat lho semua yang kita lakukan akan diperhitungkan, meski sebesar zarrah..."
Meski sebesar zarrah. Kalimat itu begitu ringan diucapkan, tapi dalam maknanya terasa. Padahal pikirannku tengah berbalik kebelakang, mengingat berapa juta semut yang sudah mati dalam injakan, dalam ayunan sapu ijuk disudut-sudut bangunan istana kami, pun siraman shower di kamar mandi.
Mengingat, padahal hingga saat ini belum ada satu semutpun yang pernah menggigit tubuh, meyakiti diri. Dan aku yang begitu dendamnya, tanpa memikirkan apa salah mereka, membunuh dengan mudahnya.
(Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. QS Az-Zalzalah:7-8)
Malam itu, didalam istana kami. Piring-piring dan gelas kotor menghiasi kitchen sink, bekas kuah sayuran tampak berceceran dimeja makan. Juga ceceran air gula, yang sedang digerumuti semut dengan tekunnya. Tak jauh dari situ, Ayankku tengah serius menyiapkan jatah malam satpam komplek kami, meramu gula, kopi dan cemilan sebagai teman mereka terjaga semalaman.
"Sayang, boleh gak ini dibersihkan..." tanyaku menunjuk sekumpulan semut diatas keramik kitchen sink. Selembar topo sudah siap dalam genggaman.
"Jangan sayang....biarin mereka hidup. Mereka kan gak jahat sama kita. Ingat lho semua yang kita lakukan akan diperhitungkan, meski sebesar zarrah..."
Meski sebesar zarrah. Kalimat itu begitu ringan diucapkan, tapi dalam maknanya terasa. Padahal pikirannku tengah berbalik kebelakang, mengingat berapa juta semut yang sudah mati dalam injakan, dalam ayunan sapu ijuk disudut-sudut bangunan istana kami, pun siraman shower di kamar mandi.
Mengingat, padahal hingga saat ini belum ada satu semutpun yang pernah menggigit tubuh, meyakiti diri. Dan aku yang begitu dendamnya, tanpa memikirkan apa salah mereka, membunuh dengan mudahnya.
(Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. QS Az-Zalzalah:7-8)
Friday, December 23, 2005
MENJADI ISTRI SEJATI

"Kan gak enak Lies, seandainya dia pulang kerumah, cape, ingin ketemu istrinya, istrinya sudah berangkat dari pagi, tugas. Aku mau kalau dia pulang kerumah, aku ada untuk melayaninya."
Subhanallah. Itulah kata yang selalu terucap dari mulutku, ketika ada seseorang yang menyebut namanya. Seorang saudari, salah satu patih terbaik di negeri bertuhan rating. Sutradara handal, berkepala dingin, cerdas, dan rendah hati. Pertama kali mengenalnya saat kami menginap setengah purnama. Di sebuah hotel tua, Jogjakarta. Saat itu para calon patih yang masih muda belia, digemleng tuk jadi patih handal. Dan sang saudari mendapat amanah tuk menjadi seorang 'audiowoman'.
Satu-satunya audiowoman saat itu. Lincah, cekatan. Menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Pun beberapa waktu lalu, saat masih menguasai control room itu dengan salah satu anak buah yang siap merekam gambar cantik di studio, yang tak lain adalah kekasihnya. Calon suaminya. Dari audiowoman kini menjadi director.
Jabatan yang tak mudah diperoleh, hanya orang-orang pilihan. Pasti dengan imbalan gaji yang sepadan. Tapi ia ternyata punya pilihan lain, yang jauh, jauh lebih mulia, lebih berharga dari jabatannya saat itu.
"Aku sekarang usaha sendiri, ya jual-jual baju deh, wiraswasta..."
Mengikuti jejak pemimpinnya Rasulullah, dan kekasihnya tercinta Khadijah. Satu jalan mulia yang tak kan mudah ditapaki, oleh orang-orang biasa.
(Untuk Yusiani, kagumku padamu)
"Kan gak enak Lies, seandainya dia pulang kerumah, cape, ingin ketemu istrinya, istrinya sudah berangkat dari pagi, tugas. Aku mau kalau dia pulang kerumah, aku ada untuk melayaninya."
Subhanallah. Itulah kata yang selalu terucap dari mulutku, ketika ada seseorang yang menyebut namanya. Seorang saudari, salah satu patih terbaik di negeri bertuhan rating. Sutradara handal, berkepala dingin, cerdas, dan rendah hati. Pertama kali mengenalnya saat kami menginap setengah purnama. Di sebuah hotel tua, Jogjakarta. Saat itu para calon patih yang masih muda belia, digemleng tuk jadi patih handal. Dan sang saudari mendapat amanah tuk menjadi seorang 'audiowoman'.
Satu-satunya audiowoman saat itu. Lincah, cekatan. Menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Pun beberapa waktu lalu, saat masih menguasai control room itu dengan salah satu anak buah yang siap merekam gambar cantik di studio, yang tak lain adalah kekasihnya. Calon suaminya. Dari audiowoman kini menjadi director.
Jabatan yang tak mudah diperoleh, hanya orang-orang pilihan. Pasti dengan imbalan gaji yang sepadan. Tapi ia ternyata punya pilihan lain, yang jauh, jauh lebih mulia, lebih berharga dari jabatannya saat itu.
"Aku sekarang usaha sendiri, ya jual-jual baju deh, wiraswasta..."
Mengikuti jejak pemimpinnya Rasulullah, dan kekasihnya tercinta Khadijah. Satu jalan mulia yang tak kan mudah ditapaki, oleh orang-orang biasa.
(Untuk Yusiani, kagumku padamu)
Wednesday, December 21, 2005
MELEWATI JALAN ITU...

Tiap malam. Melewati jalan itu, memorikupun terbang. Saat beberapa waktu lalu, pada peristiwa yang makin mengukuhkanku untuk membina masa depan bersama dirinya. Hampir tengah malam, saat melalui jalan yang masih saja ramai, ban depan jupi sempat ngadat. Jarak jauh kerumah, membuat my father tak mampu berbuat apa.
"Cari aja tukang tambal ban disekitar situ, pasti ada, hati-hati yaa nak..."
Pikirankupun melayang. Mencari sosok, yang bisa mengulurkan tangan. Di tengah malam, yang masih saja ramai. Sebuah wajah hadir dipelupuk mata. Entah malaikat atau mahluk lain yang menuntun tanganku menekan nomor itu. Lalu terdengarlah suara dari jarak 4 kilometer jauhnya.
"Posisinya dimana?...ya udah tunggu ya...hati-hati..."
Dan datanglah ia, dengan jaket setengah kuyup ia tanyakan kondisiku. Menuntun si Jupi perlahan-lahan didepan. Menemani malam hingga diri kembali keperaduan. Kini. Masih harus kulewati jalan itu. Saat dirinya berada nun jauh disana. Sebuah pulau kecil, pulau dewata kedua pelancong dunia. Menunaikan amanah dari negeri bertuhan rating.
Masih 3 malam kan kulewati sendiri, hanya bersama Sang Kekasih sejati.
(Miss u so much honey..)
Tiap malam. Melewati jalan itu, memorikupun terbang. Saat beberapa waktu lalu, pada peristiwa yang makin mengukuhkanku untuk membina masa depan bersama dirinya. Hampir tengah malam, saat melalui jalan yang masih saja ramai, ban depan jupi sempat ngadat. Jarak jauh kerumah, membuat my father tak mampu berbuat apa.
"Cari aja tukang tambal ban disekitar situ, pasti ada, hati-hati yaa nak..."
Pikirankupun melayang. Mencari sosok, yang bisa mengulurkan tangan. Di tengah malam, yang masih saja ramai. Sebuah wajah hadir dipelupuk mata. Entah malaikat atau mahluk lain yang menuntun tanganku menekan nomor itu. Lalu terdengarlah suara dari jarak 4 kilometer jauhnya.
"Posisinya dimana?...ya udah tunggu ya...hati-hati..."
Dan datanglah ia, dengan jaket setengah kuyup ia tanyakan kondisiku. Menuntun si Jupi perlahan-lahan didepan. Menemani malam hingga diri kembali keperaduan. Kini. Masih harus kulewati jalan itu. Saat dirinya berada nun jauh disana. Sebuah pulau kecil, pulau dewata kedua pelancong dunia. Menunaikan amanah dari negeri bertuhan rating.
Masih 3 malam kan kulewati sendiri, hanya bersama Sang Kekasih sejati.
(Miss u so much honey..)
Thursday, December 08, 2005
DIKUNJUNGI GENERASI GHUROBA

Malam itu bernafas sejenak setelah sampai di istana kami nan megah. Selepas seharian pergumulan di negeri bertuhan rating, dan perjalanan panjang mengendarai si Jupi yang semakin hari semakin terlihat lusuh. Datanglah 2 saudara. Kumenyebutnya 2 saudara dari generasi ghuroba*. Generasi yang aneh, pun dimataku sendiri yang sesama muslim. Takjub melihat penampilan mereka, kagum terhadap amalan Rasullulah yang konsisten mereka amalkan. Tanpa isbal*, tanpa beradu mata, dengan untaian rambut rapih dibawah bibir, dan wangi semerbak non alkohol yang nikmat dihirup.
Salah satu dari mereka, sahabat, teman dan guru dari Abi sayankku. Ayankku yang ghiroh*nya sedang tinggi. Mencontohi amalan Sang Rasul. Berupaya sama konsistennya dengan mereka.
"Ini buku-buku yang antum minta, ane saranin beli yang ini bagus sekali isinya..."
Disodorkannya sebuah buku pink berjudul "Menanti si Buah Hati". Aku hanya tersenyum, sambil coba membaca isinya. Kami memang sedang menunggu si Buah Hati. Tapi Ayankku kurang berminat. Ada buku-buku lain yang menjadi prioritasnya saat ini, isinya tentang doa-doa dzikir pagi dan petang berdasarkan hadist shahih, juga buku yang berjudul "Adakah Musik Islami?", "Adakah Sandiwara, Film, Sinetron Islami?"....
"Wah antum gak boleh kebanyakan baca buku, ntar banyakan gak bolehnya..."
Salah satu saudara berkata. Basa-basi tentunya. Aku hanya tersenyum. Masih membolak-balik satu buku. Mencoba membaca isinya. Gagal. Karena pikiran yang melayang. Membayangkan masa depan, bersama Ayankku....
(Tamanpun menjadi indah karena bunganya yang berwarna-warni)
*ghuroba = aneh
isbal = memakai celana melebihi batas mata kaki
ghiroh = semangat
Malam itu bernafas sejenak setelah sampai di istana kami nan megah. Selepas seharian pergumulan di negeri bertuhan rating, dan perjalanan panjang mengendarai si Jupi yang semakin hari semakin terlihat lusuh. Datanglah 2 saudara. Kumenyebutnya 2 saudara dari generasi ghuroba*. Generasi yang aneh, pun dimataku sendiri yang sesama muslim. Takjub melihat penampilan mereka, kagum terhadap amalan Rasullulah yang konsisten mereka amalkan. Tanpa isbal*, tanpa beradu mata, dengan untaian rambut rapih dibawah bibir, dan wangi semerbak non alkohol yang nikmat dihirup.
Salah satu dari mereka, sahabat, teman dan guru dari Abi sayankku. Ayankku yang ghiroh*nya sedang tinggi. Mencontohi amalan Sang Rasul. Berupaya sama konsistennya dengan mereka.
"Ini buku-buku yang antum minta, ane saranin beli yang ini bagus sekali isinya..."
Disodorkannya sebuah buku pink berjudul "Menanti si Buah Hati". Aku hanya tersenyum, sambil coba membaca isinya. Kami memang sedang menunggu si Buah Hati. Tapi Ayankku kurang berminat. Ada buku-buku lain yang menjadi prioritasnya saat ini, isinya tentang doa-doa dzikir pagi dan petang berdasarkan hadist shahih, juga buku yang berjudul "Adakah Musik Islami?", "Adakah Sandiwara, Film, Sinetron Islami?"....
"Wah antum gak boleh kebanyakan baca buku, ntar banyakan gak bolehnya..."
Salah satu saudara berkata. Basa-basi tentunya. Aku hanya tersenyum. Masih membolak-balik satu buku. Mencoba membaca isinya. Gagal. Karena pikiran yang melayang. Membayangkan masa depan, bersama Ayankku....
(Tamanpun menjadi indah karena bunganya yang berwarna-warni)
*ghuroba = aneh
isbal = memakai celana melebihi batas mata kaki
ghiroh = semangat
Wednesday, November 16, 2005
AKHIRNYA IA DIJEMPUT PARA MALAIKAT

"Mba sudah tahu?"
"Ya.."
"Bulek Tini dah meninggal dah tahu..."
"Ya..."
Endah adik ketigaku, yang sehari-harinya tak banyak bicara, membawa berita itu. Bulek Tini, tantenya My Mom, yang seharusnya aku panggil Mbah, akhirnya dijemput para malaikat 2 hari lalu, pukul 11 siang. Mendengar berita aku hanya bisa menerawang. Apakah ini...akhir penderitaannya setelah berbulan-bulan digerogoti kanker payudara yang menyebar keseluruh tubuh. Atau justru...awal penderitaan, awal penderitaan dialam yang lain, alam dimana para malaikat datang dengan serentetan pertanyaan.
Mbahku yang masih muda usia, sibungsu dari puluhan bersaudara, berpindah keyakinan setelah dipinang kekasih pilihannya. Agama rahmat bagi seluruh umat, ia lepas demi memeluk agama dari pulau dewata. Selama belasan tahun hidupya terlihat bahagia. Dikaruniai 2 anak, putri cantik bermata sayu yang pandai melenggangkan berbagai tari, dan putra tampan yang tak banyak bicara. Hidup dari sebuah toko sederhana. Hingga...
Hingga penyakit itu datang. Kanker yang menggerogoti tubuh mungilnya. Satu payudaranya terpaksa diangkat. Tapi ternyata akar-akar kanker itu sudah membenam kebagian tubuh lain, menyebar, membunuh sel-sel hidup ditubuhnya. My mom, pernah merasa bersalah. Karena beliaulah yang mengenalkan dengan sang kekasih pujaan yang berbeda keyakinan.
"Mama dah bilangin, bulik, kalau mau sembuh, bulik harus ngucap syahadat lagi, tapi dia bilang wis, podo bae, kabeh nyembah gusti alah sing tunggal, ya...Tuhan..."
Akhirnya My mompun tak kuasa berbuat lebih. Begitupun aku, saat detik-detik terakhir, mencoba sembunyi-sembunyi berbisik lirih ketelinganya.
"Mbah, minta sama Allah saja ya...bilang, Allah saya mohon disembuhkan dari segala penyakit, saya meyakikinimu sebagai Tuhanku...ingat Allah saja ya mbah..."
Tapi kini tubuhnya telah terbujur kaku. Pucat. Dikelilingi asap dupa yang dibawa para kerabat. Para tetua tak henti mendendangkan kidung-kidung kesedihan menyanyat disekitar jasad. Puluhan pelayat dengan seutas kain hijau atau kuning keemasan terikat dipinggang, memenuhi halaman depan. Lusa usai purnama besar, tubuh Le Tiniku akan dikremasi, abunya sebagian dilarung kelaut, dan jiwanya....
(Masih bisakah kupanjatkan harap?)
Kuangkat hp yang deringnya berdendang bulan dan bintang saujana, salah satu nasyid favoritku.
"Mba sudah tahu?"
"Ya.."
"Bulek Tini dah meninggal dah tahu..."
"Ya..."
Endah adik ketigaku, yang sehari-harinya tak banyak bicara, membawa berita itu. Bulek Tini, tantenya My Mom, yang seharusnya aku panggil Mbah, akhirnya dijemput para malaikat 2 hari lalu, pukul 11 siang. Mendengar berita aku hanya bisa menerawang. Apakah ini...akhir penderitaannya setelah berbulan-bulan digerogoti kanker payudara yang menyebar keseluruh tubuh. Atau justru...awal penderitaan, awal penderitaan dialam yang lain, alam dimana para malaikat datang dengan serentetan pertanyaan.
Mbahku yang masih muda usia, sibungsu dari puluhan bersaudara, berpindah keyakinan setelah dipinang kekasih pilihannya. Agama rahmat bagi seluruh umat, ia lepas demi memeluk agama dari pulau dewata. Selama belasan tahun hidupya terlihat bahagia. Dikaruniai 2 anak, putri cantik bermata sayu yang pandai melenggangkan berbagai tari, dan putra tampan yang tak banyak bicara. Hidup dari sebuah toko sederhana. Hingga...
Hingga penyakit itu datang. Kanker yang menggerogoti tubuh mungilnya. Satu payudaranya terpaksa diangkat. Tapi ternyata akar-akar kanker itu sudah membenam kebagian tubuh lain, menyebar, membunuh sel-sel hidup ditubuhnya. My mom, pernah merasa bersalah. Karena beliaulah yang mengenalkan dengan sang kekasih pujaan yang berbeda keyakinan.
"Mama dah bilangin, bulik, kalau mau sembuh, bulik harus ngucap syahadat lagi, tapi dia bilang wis, podo bae, kabeh nyembah gusti alah sing tunggal, ya...Tuhan..."
Akhirnya My mompun tak kuasa berbuat lebih. Begitupun aku, saat detik-detik terakhir, mencoba sembunyi-sembunyi berbisik lirih ketelinganya.
"Mbah, minta sama Allah saja ya...bilang, Allah saya mohon disembuhkan dari segala penyakit, saya meyakikinimu sebagai Tuhanku...ingat Allah saja ya mbah..."
Tapi kini tubuhnya telah terbujur kaku. Pucat. Dikelilingi asap dupa yang dibawa para kerabat. Para tetua tak henti mendendangkan kidung-kidung kesedihan menyanyat disekitar jasad. Puluhan pelayat dengan seutas kain hijau atau kuning keemasan terikat dipinggang, memenuhi halaman depan. Lusa usai purnama besar, tubuh Le Tiniku akan dikremasi, abunya sebagian dilarung kelaut, dan jiwanya....
(Masih bisakah kupanjatkan harap?)
Wednesday, October 12, 2005
DIA LELAKIKU
Juli 2005
Dalam akhir salam diujung shalat malam selalu kupanjatkan. "Ya Allah, berikanlah aku pendamping yang mencintaiMu lebih dari rasa cintaku mencintaiMu, yang menyenangkan jika dipandang, yang mau menerimaku apa adanya..."
Agustus 2005
Datanglah dia. Sesosok perekam fakta didunia bertuhan rating. Menawarkan selaksa asa berbekal keberanian untuk merangkai cerita-cerita masa depan. Sosok yang menyenangkan dipandang, bersedia menerima diri apa adanya, meskipun baru belajar untuk mencintai Sang Kekasih melebihi diatas segalanya.
September 2005
Dua hari dipenghujung bulan suci janji itu terucap. Janji mengarungi samuderaNya bersama. Janji saling setia dalam suka maupun duka. Janji merangkai cita-cita dunia akhirat tak lain tuk gapai ridhoNya. Kami berdua, aku dan dia, lelakiku. Partner, sahabat, suami tercinta, dalam meniti jalan panjangNya...
(Love you forever because of Allah A, you are the best gift from Allah)
Wednesday, July 13, 2005

MENGGENAPKAN SETENGAH DIN
Kubuka biodata itu. 3 lembar saja. Kalimat terakhir dari kertas itu berbunyi: menginginkan istri yang sholehah, penyayang, penyabar dan mau menerima apa adanya. Biodata yang baru pertama kali aku terima. Dari seorang yang muda usia, tapi berani mengarungi samudra.
"Saya dua tahun lebih tua dari kamu..."
"Kan saya sudah tahu..."
"Saya aktif diberbagai organisasi, seringkali keluar, kesana-kesini..."
"Yaa...asal untuk dakwah..."
"Kalau nanti ternyata saya tidak secantik yang kamu bayangkan..."
"Saya akan terima apa adanya..."
Semua pertanyaan itu dijawabnya dengan kalem. Sesuai dengan sosoknya yang pendiam dan lebih banyak bekerja. Seorang perekam fakta, salah satu andalan negeri bertuhan rating. Lihat saja hasil gambarnya di banyak episode yang mengisahkan tentang warna warni Islam atau impian dari para pengamen jalanan. Kutarik nafas panjang, satu pertanyaan pamungkas belum kulontarkan.
"Mengapa kamu memilih saya, yang tidak cantik, dan sangat biasa-biasa saja..."
"Karena kamu sholehah..."
Cukup sudah. Bukan kecantikan duniawi yang ia cari. Hanya sesosok wanita yang mau temani hari-harinya, temannya berbagi keluh kesah, mewarnai hidupnya yang kerap sendiri. Seperti impian yang ia torehkan dalam biodata itu.
...mencari kekasih untuk beribadah, hingga akhir jannah-Nya....
(Doakan kami, agar hati tak terkotori, sebelum masuk ke gerbang suci-Nya)
Tuesday, April 26, 2005
MENGUBAH JALAN HIDUP

Ketika satu pintu dipilih, maka akan merubah ratusan pintu lain yang berada dibelakangnya, seperti itulah takdir. Sesungguhnya manusia sendiri yang tentukan jalan hidupnya melalui pilihan tersebut..."
Begitu pesan Ustadz Asdar saat kajian 2 pekanan majlis kami 2 pekan lalu. Tema kali itu agak berbeda, agak sensitif. Coba saja lihat pamflet yang kutempel disamping lift, tertulis judul besar-besar "Menikah tanpa pacaran, mungkinkah?", dibawahnya 2 baris tertulis: akan ada pula testimoni dari pasangan yang menikah tanpa pacaran. Hasilnya... diruangan preview yang bentuknya berupa bioskop mini itu, tempat kami biasa mengadakan kajian pekanan, hadir 15 peserta, 12 seluruhnya wajah baru, 3 wajah lama, hampir semuanya....single, kecuali Sang Ustadz tentunya dan Ami, saudari tercinta yang akan memberikan testimoni, suaminya Mas Aris akan menyusul kemudian.
Tema provokatif itu (kata seorang abang), diangkat mengingat kondisi sebagian besar masyarakat negeri kami ini, yang statusnya single. Padahal jika dinilai dari penghasilan boleh dikatakan cukup, kecuali untuk mereka yang belum tahu arti bersyukur. Banyak yang ingin menikah, tapi banyak juga yang belum tahu caranya sesuai yang disyariatkan, maka digelarlah kajian itu. Lalu banyak pertanyaan terlontar, tapi tak semuanya bisa terpuaskan. Sengaja, kata Ustadz Asdar, supaya pesertanya penasaran lalu mencari jawaban dari berbagai sumber lainnya. Lalu ia titipkan sebuah pesan penutup,.."Sehebat-hebatnya manusia yang masih sendiri, belum ada apa-apanya dibandingkan mereka yang sudah menikah."
Entah apa yang ada dibenak semua peserta. Tertantang untuk menikah atau surut kebelakang dan malah ragu. Semoga tidak. Semoga mereka masih mau datang saat tema-tema itu kembali dibahas 2 minggu yang akan datang. Semoga ada yang segera memutuskan hubungan tak halalnya dan memilih untuk segera menikah. Lalu saat do'a penutup majelis dilafalkan, kubaca sebuah sms dari seseorang yang sangat kuhormati.
"In..alhamdulillah sudah ana dapat calon untuk iin, teman sekolah iin, tapi sabar ya butuh waktu untuk ikhwannya..."
(Kadang butuh keberanian untuk mengubah jalan hidup, tapi tak perlu ragu saat mengubah jalan hidup untuk menjadi lebih baik)
Ketika satu pintu dipilih, maka akan merubah ratusan pintu lain yang berada dibelakangnya, seperti itulah takdir. Sesungguhnya manusia sendiri yang tentukan jalan hidupnya melalui pilihan tersebut..."
Begitu pesan Ustadz Asdar saat kajian 2 pekanan majlis kami 2 pekan lalu. Tema kali itu agak berbeda, agak sensitif. Coba saja lihat pamflet yang kutempel disamping lift, tertulis judul besar-besar "Menikah tanpa pacaran, mungkinkah?", dibawahnya 2 baris tertulis: akan ada pula testimoni dari pasangan yang menikah tanpa pacaran. Hasilnya... diruangan preview yang bentuknya berupa bioskop mini itu, tempat kami biasa mengadakan kajian pekanan, hadir 15 peserta, 12 seluruhnya wajah baru, 3 wajah lama, hampir semuanya....single, kecuali Sang Ustadz tentunya dan Ami, saudari tercinta yang akan memberikan testimoni, suaminya Mas Aris akan menyusul kemudian.
Tema provokatif itu (kata seorang abang), diangkat mengingat kondisi sebagian besar masyarakat negeri kami ini, yang statusnya single. Padahal jika dinilai dari penghasilan boleh dikatakan cukup, kecuali untuk mereka yang belum tahu arti bersyukur. Banyak yang ingin menikah, tapi banyak juga yang belum tahu caranya sesuai yang disyariatkan, maka digelarlah kajian itu. Lalu banyak pertanyaan terlontar, tapi tak semuanya bisa terpuaskan. Sengaja, kata Ustadz Asdar, supaya pesertanya penasaran lalu mencari jawaban dari berbagai sumber lainnya. Lalu ia titipkan sebuah pesan penutup,.."Sehebat-hebatnya manusia yang masih sendiri, belum ada apa-apanya dibandingkan mereka yang sudah menikah."
Entah apa yang ada dibenak semua peserta. Tertantang untuk menikah atau surut kebelakang dan malah ragu. Semoga tidak. Semoga mereka masih mau datang saat tema-tema itu kembali dibahas 2 minggu yang akan datang. Semoga ada yang segera memutuskan hubungan tak halalnya dan memilih untuk segera menikah. Lalu saat do'a penutup majelis dilafalkan, kubaca sebuah sms dari seseorang yang sangat kuhormati.
"In..alhamdulillah sudah ana dapat calon untuk iin, teman sekolah iin, tapi sabar ya butuh waktu untuk ikhwannya..."
(Kadang butuh keberanian untuk mengubah jalan hidup, tapi tak perlu ragu saat mengubah jalan hidup untuk menjadi lebih baik)
Sunday, March 20, 2005
SEMOGA KAN TETAP SAMA

Kaget. Aku rasa sudah seharusnya, saat kau jawab e-mail yang menceritakan kemunduranmu dari barisan yang simbolnya dua pedang panjang bersilang. Meskipun seorang mas, sejak jauh-jauh hari mengatakan, kau sudah lama rajin mengikuti kajian-kajian itu. Katamu, banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, banyak kekecewaan dan banyak lainnya.
Biasa itu, kata seorang abang enteng. Ah Abang, aku belum terbiasa. Keberadaannya yang dulu, membuatku lebih nyaman mendiskusikan agenda dakwah, tenang bahwa diluar ikatan akidah sebagai sesama muslim, ada ikatan lain yang lebih erat, lebih kuat. Apalagi dia salah satu lokomotif dalam kereta dakwah kita. Di negeri bertuhan rating, yang dominasi warna tayangannya masih saja suram.
Tapi didalam manhaj itu, kau katakan telah menemukan kebenaran. Ya, semoga kebenaran yang kau temukan, tetap meningkatkan semangat dakwahmu, menjadikanmu manusia yang lebih baik dimata Sang Kekasih. Dan tidak melupakan tujuan keberadaanmu dinegeri ini.
(Semoga akan tetap sama, atau bahkan menjadi lebih baik, hubungan kita sebagai sesama muslim dan pengemban amanat dakwah?)
Kaget. Aku rasa sudah seharusnya, saat kau jawab e-mail yang menceritakan kemunduranmu dari barisan yang simbolnya dua pedang panjang bersilang. Meskipun seorang mas, sejak jauh-jauh hari mengatakan, kau sudah lama rajin mengikuti kajian-kajian itu. Katamu, banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, banyak kekecewaan dan banyak lainnya.
Biasa itu, kata seorang abang enteng. Ah Abang, aku belum terbiasa. Keberadaannya yang dulu, membuatku lebih nyaman mendiskusikan agenda dakwah, tenang bahwa diluar ikatan akidah sebagai sesama muslim, ada ikatan lain yang lebih erat, lebih kuat. Apalagi dia salah satu lokomotif dalam kereta dakwah kita. Di negeri bertuhan rating, yang dominasi warna tayangannya masih saja suram.
Tapi didalam manhaj itu, kau katakan telah menemukan kebenaran. Ya, semoga kebenaran yang kau temukan, tetap meningkatkan semangat dakwahmu, menjadikanmu manusia yang lebih baik dimata Sang Kekasih. Dan tidak melupakan tujuan keberadaanmu dinegeri ini.
(Semoga akan tetap sama, atau bahkan menjadi lebih baik, hubungan kita sebagai sesama muslim dan pengemban amanat dakwah?)
KEMATIAN ITU SPEKTAKULER

Kematian itu spektakuler, salah satu rahasia Sang Kekasih. Pagi ini, kuterima sms dari seorang sister, sebuah berita duka, ibunda seorang sister kami yang lain, Bunda Aklimah meninggal dunia pukul 03.00 dini hari. Suami sister kami itu mantan ketua DPRa, jadi tiap Sabtu sore kami pasti habiskan waktu untuk membahas agenda-agenda dakwah. Aku jadi teringat, wajah ramahnya yang tak lagi muda saat menerima kunjungan kami.
Bunda Aklimah, dengan penuh kesabaran mempersilahkan kami masuk, menyuguhkan kami minum. Pernah kulihat saat ia dengan sabar menyuapi suaminya, ayah sister kami, yang sudah terbaring lemah ditempat tidur sejak 2 tahun lalu, karena terserang stroke. Mengasuh salah satu cucunya, Aufa sigendut bulat, yang hiperaktif. Bahkan saat terakhir menjelang kematiannya, sebuah lemparan jambu klutuk hampir mengenai matanya. Namun ia tetap sabar mengasuh si Aufa kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa. Sementara sisterku itu, anak Bunda Aklimah, Mbak Lia, merawat putri keduanya, Kayla, yang harus diopname dirumah sakit, dan dia sendiri yang nyaris diinfus karena diare.
Bunda Aklimah, yang sabar mendampingi suami, justru dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Kekasih. Suaminya yang kini sudah duduk dikursi roda, memandang jasad kaku dengan tatapan hampa. Entah apa yang sedang dipikirkan.
(Kematian memang spektakuler, kapan datangnya tak ada yang tahu pasti. Tinggal kita bertanya pada diri sendiri, siapkah kita ketika kematian kan datang menghampiri?)
Kematian itu spektakuler, salah satu rahasia Sang Kekasih. Pagi ini, kuterima sms dari seorang sister, sebuah berita duka, ibunda seorang sister kami yang lain, Bunda Aklimah meninggal dunia pukul 03.00 dini hari. Suami sister kami itu mantan ketua DPRa, jadi tiap Sabtu sore kami pasti habiskan waktu untuk membahas agenda-agenda dakwah. Aku jadi teringat, wajah ramahnya yang tak lagi muda saat menerima kunjungan kami.
Bunda Aklimah, dengan penuh kesabaran mempersilahkan kami masuk, menyuguhkan kami minum. Pernah kulihat saat ia dengan sabar menyuapi suaminya, ayah sister kami, yang sudah terbaring lemah ditempat tidur sejak 2 tahun lalu, karena terserang stroke. Mengasuh salah satu cucunya, Aufa sigendut bulat, yang hiperaktif. Bahkan saat terakhir menjelang kematiannya, sebuah lemparan jambu klutuk hampir mengenai matanya. Namun ia tetap sabar mengasuh si Aufa kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa. Sementara sisterku itu, anak Bunda Aklimah, Mbak Lia, merawat putri keduanya, Kayla, yang harus diopname dirumah sakit, dan dia sendiri yang nyaris diinfus karena diare.
Bunda Aklimah, yang sabar mendampingi suami, justru dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Kekasih. Suaminya yang kini sudah duduk dikursi roda, memandang jasad kaku dengan tatapan hampa. Entah apa yang sedang dipikirkan.
(Kematian memang spektakuler, kapan datangnya tak ada yang tahu pasti. Tinggal kita bertanya pada diri sendiri, siapkah kita ketika kematian kan datang menghampiri?)
Tuesday, January 11, 2005
LEMAH DAN TAK BERDAYA
2 minggu belakangan ini layar kaca itu masih dipenuhi wajah-wajah duka, tangis adik kecil, ibu yang kehilangan anaknya, tatapan kosong tanpa makna. Kata Sherina, Sang Kekasih telah meluapkan amarahnya diujung Banda, kata Om Ebiet ini balasan bagi kita yang alpa. Lalu beberapa tim terdiri dari reporter dan kameraman langsung diterjunkan. Majlis Ta'limpun segera memasang pengumuman tiap lantai, galang dana bagi saudara-saudara yang tertimpa duka. Shalat Ghaibpun digelar, entah sekedar memenuhi kewajiban atau benar-benar mengirim doa bagi yang tertimpa musibah.
Lalu mulailah gambar hasil feeding dari Medan diterima, gambar-gambar bagus menurut kami yang katanya tak punya hati nurani. Mayat-mayat tak berbentuk, bangunan hancur, jadi materi yang siap edit. Ingin rasanya segera terjun kesana, sekedar memberi uluran tangan atau menghibur wajah duka, tapi apa daya, sekedar niat yang tak didukung langkah nyata.
"Bisa apa kamu disana, mau masak? kamu kan nggak biasa masak, mendingan Mama yang dikirim kesana, bisa masakin banyak orang..."
Begitu ketus Bunda, saat melihat ransel yang sudah siap mengcengkram dipundak, berisi pakaian untuk 2 hari, begitu percaya diri mampu berikan bantuan maksimal, meskipun tak tahu dapat berbuat apa disana. Larangan dari manajemen kantor, untuk tidak memberangkatkan relawan dari negeri bertuhan rating, semakin menutup kemungkinan untuk berjumpa adik-adik kecil di tanah Darussalam.
Jadi disinilah, aku yang lemah dan tak berdaya, memandangi wajah-wajah sendu adik-adik kecil, mengedit gambar mereka sebaik mungkin, sambil terus berdoa semoga banyak orang berempati dan belajar arti kehidupan dari gambar-gambar yang dipublikasikan.
(Sabar ya Dek, ada cinta-NYa dibalik murka-Nya)
2 minggu belakangan ini layar kaca itu masih dipenuhi wajah-wajah duka, tangis adik kecil, ibu yang kehilangan anaknya, tatapan kosong tanpa makna. Kata Sherina, Sang Kekasih telah meluapkan amarahnya diujung Banda, kata Om Ebiet ini balasan bagi kita yang alpa. Lalu beberapa tim terdiri dari reporter dan kameraman langsung diterjunkan. Majlis Ta'limpun segera memasang pengumuman tiap lantai, galang dana bagi saudara-saudara yang tertimpa duka. Shalat Ghaibpun digelar, entah sekedar memenuhi kewajiban atau benar-benar mengirim doa bagi yang tertimpa musibah.
Lalu mulailah gambar hasil feeding dari Medan diterima, gambar-gambar bagus menurut kami yang katanya tak punya hati nurani. Mayat-mayat tak berbentuk, bangunan hancur, jadi materi yang siap edit. Ingin rasanya segera terjun kesana, sekedar memberi uluran tangan atau menghibur wajah duka, tapi apa daya, sekedar niat yang tak didukung langkah nyata.
"Bisa apa kamu disana, mau masak? kamu kan nggak biasa masak, mendingan Mama yang dikirim kesana, bisa masakin banyak orang..."
Begitu ketus Bunda, saat melihat ransel yang sudah siap mengcengkram dipundak, berisi pakaian untuk 2 hari, begitu percaya diri mampu berikan bantuan maksimal, meskipun tak tahu dapat berbuat apa disana. Larangan dari manajemen kantor, untuk tidak memberangkatkan relawan dari negeri bertuhan rating, semakin menutup kemungkinan untuk berjumpa adik-adik kecil di tanah Darussalam.
Jadi disinilah, aku yang lemah dan tak berdaya, memandangi wajah-wajah sendu adik-adik kecil, mengedit gambar mereka sebaik mungkin, sambil terus berdoa semoga banyak orang berempati dan belajar arti kehidupan dari gambar-gambar yang dipublikasikan.
(Sabar ya Dek, ada cinta-NYa dibalik murka-Nya)
Subscribe to:
Posts (Atom)
