Friday, February 10, 2006

DETAK JANTUNG ITU

Sudah lebih 2 bulan, perut ini rasanya tak karuan. Membuat diri tak nyaman dan hilang kesabaran. Lalu mulailah sensasi itu datang, saat mentari terbit dan terbenam. Bahkan parfum non alkohol Abi tersayangpun, terasa tak nyaman. Bergolak didalam perut, naik keatas tenggorokan, dan meluncur melalui indra pengecap. Makan tak berselera, karena semua hidangan selezat apapun terasa masam. Lalu hatipun mulai bertanya-tanya.

Esoknya menjelang shubuh, sebuah stick kecil kupandangi dengan jantung berdebar. Rembesan cairan dibawahnya merambat naik, hasilkan satu tanda strip merah. Pelan-pelan, lalu...dua strip merah!. Kupandangi sekali lagi. Kutunjukkan stick itu pada Abi tersayang yang baru pulang dari jammaahnya dimasjid depan. Ia terpana. Lalu, sebuah dekapan dan ciuman hangat itupun langsung menyergap.

"Sudah 2 bulan...itu lihat detak jantungnya..." seru dokter wanita yang tak banyak bicara, sambil menunjuk sebuah layar biru disisiku.

Dan aku hanya bisa memandang dengan perasaan takjub.

Kini, ku tak lagi hilang kesabaran. Walau rasa mual itu masih kerap detang, semuanya terganti dengan perasaan bahagia luar biasa. Bahagia karena ada melodi indah yang selalu menemani, yang datangnya dari, sebuah detak jantung,... didalam rahimku.

(Thank U Allah, for the best gift You give to us)

Wednesday, January 18, 2006

MESKI SEBESAR ZARRAH



Malam itu, didalam istana kami. Piring-piring dan gelas kotor menghiasi kitchen sink, bekas kuah sayuran tampak berceceran dimeja makan. Juga ceceran air gula, yang sedang digerumuti semut dengan tekunnya. Tak jauh dari situ, Ayankku tengah serius menyiapkan jatah malam satpam komplek kami, meramu gula, kopi dan cemilan sebagai teman mereka terjaga semalaman.

"Sayang, boleh gak ini dibersihkan..." tanyaku menunjuk sekumpulan semut diatas keramik kitchen sink. Selembar topo sudah siap dalam genggaman.
"Jangan sayang....biarin mereka hidup. Mereka kan gak jahat sama kita. Ingat lho semua yang kita lakukan akan diperhitungkan, meski sebesar zarrah..."


Meski sebesar zarrah. Kalimat itu begitu ringan diucapkan, tapi dalam maknanya terasa. Padahal pikirannku tengah berbalik kebelakang, mengingat berapa juta semut yang sudah mati dalam injakan, dalam ayunan sapu ijuk disudut-sudut bangunan istana kami, pun siraman shower di kamar mandi.

Mengingat, padahal hingga saat ini belum ada satu semutpun yang pernah menggigit tubuh, meyakiti diri. Dan aku yang begitu dendamnya, tanpa memikirkan apa salah mereka, membunuh dengan mudahnya.

(Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. QS Az-Zalzalah:7-8)

Friday, December 23, 2005

MENJADI ISTRI SEJATI



"Kan gak enak Lies, seandainya dia pulang kerumah, cape, ingin ketemu istrinya, istrinya sudah berangkat dari pagi, tugas. Aku mau kalau dia pulang kerumah, aku ada untuk melayaninya."

Subhanallah. Itulah kata yang selalu terucap dari mulutku, ketika ada seseorang yang menyebut namanya. Seorang saudari, salah satu patih terbaik di negeri bertuhan rating. Sutradara handal, berkepala dingin, cerdas, dan rendah hati. Pertama kali mengenalnya saat kami menginap setengah purnama. Di sebuah hotel tua, Jogjakarta. Saat itu para calon patih yang masih muda belia, digemleng tuk jadi patih handal. Dan sang saudari mendapat amanah tuk menjadi seorang 'audiowoman'.

Satu-satunya audiowoman saat itu. Lincah, cekatan. Menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Pun beberapa waktu lalu, saat masih menguasai control room itu dengan salah satu anak buah yang siap merekam gambar cantik di studio, yang tak lain adalah kekasihnya. Calon suaminya. Dari audiowoman kini menjadi director.

Jabatan yang tak mudah diperoleh, hanya orang-orang pilihan. Pasti dengan imbalan gaji yang sepadan. Tapi ia ternyata punya pilihan lain, yang jauh, jauh lebih mulia, lebih berharga dari jabatannya saat itu.

"Aku sekarang usaha sendiri, ya jual-jual baju deh, wiraswasta..."

Mengikuti jejak pemimpinnya Rasulullah, dan kekasihnya tercinta Khadijah. Satu jalan mulia yang tak kan mudah ditapaki, oleh orang-orang biasa.

(Untuk Yusiani, kagumku padamu)

Wednesday, December 21, 2005

MELEWATI JALAN ITU...



Tiap malam. Melewati jalan itu, memorikupun terbang. Saat beberapa waktu lalu, pada peristiwa yang makin mengukuhkanku untuk membina masa depan bersama dirinya. Hampir tengah malam, saat melalui jalan yang masih saja ramai, ban depan jupi sempat ngadat. Jarak jauh kerumah, membuat my father tak mampu berbuat apa.

"Cari aja tukang tambal ban disekitar situ, pasti ada, hati-hati yaa nak..."

Pikirankupun melayang. Mencari sosok, yang bisa mengulurkan tangan. Di tengah malam, yang masih saja ramai. Sebuah wajah hadir dipelupuk mata. Entah malaikat atau mahluk lain yang menuntun tanganku menekan nomor itu. Lalu terdengarlah suara dari jarak 4 kilometer jauhnya.

"Posisinya dimana?...ya udah tunggu ya...hati-hati..."

Dan datanglah ia, dengan jaket setengah kuyup ia tanyakan kondisiku. Menuntun si Jupi perlahan-lahan didepan. Menemani malam hingga diri kembali keperaduan. Kini. Masih harus kulewati jalan itu. Saat dirinya berada nun jauh disana. Sebuah pulau kecil, pulau dewata kedua pelancong dunia. Menunaikan amanah dari negeri bertuhan rating.

Masih 3 malam kan kulewati sendiri, hanya bersama Sang Kekasih sejati.

(Miss u so much honey..)

Thursday, December 08, 2005

DIKUNJUNGI GENERASI GHUROBA



Malam itu bernafas sejenak setelah sampai di istana kami nan megah. Selepas seharian pergumulan di negeri bertuhan rating, dan perjalanan panjang mengendarai si Jupi yang semakin hari semakin terlihat lusuh. Datanglah 2 saudara. Kumenyebutnya 2 saudara dari generasi ghuroba*. Generasi yang aneh, pun dimataku sendiri yang sesama muslim. Takjub melihat penampilan mereka, kagum terhadap amalan Rasullulah yang konsisten mereka amalkan. Tanpa isbal*, tanpa beradu mata, dengan untaian rambut rapih dibawah bibir, dan wangi semerbak non alkohol yang nikmat dihirup.

Salah satu dari mereka, sahabat, teman dan guru dari Abi sayankku. Ayankku yang ghiroh*nya sedang tinggi. Mencontohi amalan Sang Rasul. Berupaya sama konsistennya dengan mereka.

"Ini buku-buku yang antum minta, ane saranin beli yang ini bagus sekali isinya..."

Disodorkannya sebuah buku pink berjudul "Menanti si Buah Hati". Aku hanya tersenyum, sambil coba membaca isinya. Kami memang sedang menunggu si Buah Hati. Tapi Ayankku kurang berminat. Ada buku-buku lain yang menjadi prioritasnya saat ini, isinya tentang doa-doa dzikir pagi dan petang berdasarkan hadist shahih, juga buku yang berjudul "Adakah Musik Islami?", "Adakah Sandiwara, Film, Sinetron Islami?"....

"Wah antum gak boleh kebanyakan baca buku, ntar banyakan gak bolehnya..."

Salah satu saudara berkata. Basa-basi tentunya. Aku hanya tersenyum. Masih membolak-balik satu buku. Mencoba membaca isinya. Gagal. Karena pikiran yang melayang. Membayangkan masa depan, bersama Ayankku....

(Tamanpun menjadi indah karena bunganya yang berwarna-warni)

*ghuroba = aneh
isbal = memakai celana melebihi batas mata kaki
ghiroh = semangat

Wednesday, November 16, 2005

AKHIRNYA IA DIJEMPUT PARA MALAIKAT



Kuangkat hp yang deringnya berdendang bulan dan bintang saujana, salah satu nasyid favoritku.

"Mba sudah tahu?"
"Ya.."
"Bulek Tini dah meninggal dah tahu..."
"Ya..."

Endah adik ketigaku, yang sehari-harinya tak banyak bicara, membawa berita itu. Bulek Tini, tantenya My Mom, yang seharusnya aku panggil Mbah, akhirnya dijemput para malaikat 2 hari lalu, pukul 11 siang. Mendengar berita aku hanya bisa menerawang. Apakah ini...akhir penderitaannya setelah berbulan-bulan digerogoti kanker payudara yang menyebar keseluruh tubuh. Atau justru...awal penderitaan, awal penderitaan dialam yang lain, alam dimana para malaikat datang dengan serentetan pertanyaan.

Mbahku yang masih muda usia, sibungsu dari puluhan bersaudara, berpindah keyakinan setelah dipinang kekasih pilihannya. Agama rahmat bagi seluruh umat, ia lepas demi memeluk agama dari pulau dewata. Selama belasan tahun hidupya terlihat bahagia. Dikaruniai 2 anak, putri cantik bermata sayu yang pandai melenggangkan berbagai tari, dan putra tampan yang tak banyak bicara. Hidup dari sebuah toko sederhana. Hingga...

Hingga penyakit itu datang. Kanker yang menggerogoti tubuh mungilnya. Satu payudaranya terpaksa diangkat. Tapi ternyata akar-akar kanker itu sudah membenam kebagian tubuh lain, menyebar, membunuh sel-sel hidup ditubuhnya. My mom, pernah merasa bersalah. Karena beliaulah yang mengenalkan dengan sang kekasih pujaan yang berbeda keyakinan.

"Mama dah bilangin, bulik, kalau mau sembuh, bulik harus ngucap syahadat lagi, tapi dia bilang wis, podo bae, kabeh nyembah gusti alah sing tunggal, ya...Tuhan..."

Akhirnya My mompun tak kuasa berbuat lebih. Begitupun aku, saat detik-detik terakhir, mencoba sembunyi-sembunyi berbisik lirih ketelinganya.

"Mbah, minta sama Allah saja ya...bilang, Allah saya mohon disembuhkan dari segala penyakit, saya meyakikinimu sebagai Tuhanku...ingat Allah saja ya mbah..."

Tapi kini tubuhnya telah terbujur kaku. Pucat. Dikelilingi asap dupa yang dibawa para kerabat. Para tetua tak henti mendendangkan kidung-kidung kesedihan menyanyat disekitar jasad. Puluhan pelayat dengan seutas kain hijau atau kuning keemasan terikat dipinggang, memenuhi halaman depan. Lusa usai purnama besar, tubuh Le Tiniku akan dikremasi, abunya sebagian dilarung kelaut, dan jiwanya....

(Masih bisakah kupanjatkan harap?)

Wednesday, October 12, 2005


DIA LELAKIKU

Juli 2005

Dalam akhir salam diujung shalat malam selalu kupanjatkan. "Ya Allah, berikanlah aku pendamping yang mencintaiMu lebih dari rasa cintaku mencintaiMu, yang menyenangkan jika dipandang, yang mau menerimaku apa adanya..."

Agustus 2005

Datanglah dia. Sesosok perekam fakta didunia bertuhan rating. Menawarkan selaksa asa berbekal keberanian untuk merangkai cerita-cerita masa depan. Sosok yang menyenangkan dipandang, bersedia menerima diri apa adanya, meskipun baru belajar untuk mencintai Sang Kekasih melebihi diatas segalanya.

September 2005

Dua hari dipenghujung bulan suci janji itu terucap. Janji mengarungi samuderaNya bersama. Janji saling setia dalam suka maupun duka. Janji merangkai cita-cita dunia akhirat tak lain tuk gapai ridhoNya. Kami berdua, aku dan dia, lelakiku. Partner, sahabat, suami tercinta, dalam meniti jalan panjangNya...

(Love you forever because of Allah A, you are the best gift from Allah)

Wednesday, July 13, 2005



MENGGENAPKAN SETENGAH DIN



Kubuka biodata itu. 3 lembar saja. Kalimat terakhir dari kertas itu berbunyi: menginginkan istri yang sholehah, penyayang, penyabar dan mau menerima apa adanya. Biodata yang baru pertama kali aku terima. Dari seorang yang muda usia, tapi berani mengarungi samudra.

"Saya dua tahun lebih tua dari kamu..."
"Kan saya sudah tahu..."
"Saya aktif diberbagai organisasi, seringkali keluar, kesana-kesini..."
"Yaa...asal untuk dakwah..."
"Kalau nanti ternyata saya tidak secantik yang kamu bayangkan..."
"Saya akan terima apa adanya..."

Semua pertanyaan itu dijawabnya dengan kalem. Sesuai dengan sosoknya yang pendiam dan lebih banyak bekerja. Seorang perekam fakta, salah satu andalan negeri bertuhan rating. Lihat saja hasil gambarnya di banyak episode yang mengisahkan tentang warna warni Islam atau impian dari para pengamen jalanan. Kutarik nafas panjang, satu pertanyaan pamungkas belum kulontarkan.

"Mengapa kamu memilih saya, yang tidak cantik, dan sangat biasa-biasa saja..."
"Karena kamu sholehah..."

Cukup sudah. Bukan kecantikan duniawi yang ia cari. Hanya sesosok wanita yang mau temani hari-harinya, temannya berbagi keluh kesah, mewarnai hidupnya yang kerap sendiri. Seperti impian yang ia torehkan dalam biodata itu.

...mencari kekasih untuk beribadah, hingga akhir jannah-Nya....

(Doakan kami, agar hati tak terkotori, sebelum masuk ke gerbang suci-Nya)

Tuesday, April 26, 2005

MENGUBAH JALAN HIDUP



Ketika satu pintu dipilih, maka akan merubah ratusan pintu lain yang berada dibelakangnya, seperti itulah takdir. Sesungguhnya manusia sendiri yang tentukan jalan hidupnya melalui pilihan tersebut..."

Begitu pesan Ustadz Asdar saat kajian 2 pekanan majlis kami 2 pekan lalu. Tema kali itu agak berbeda, agak sensitif. Coba saja lihat pamflet yang kutempel disamping lift, tertulis judul besar-besar "Menikah tanpa pacaran, mungkinkah?", dibawahnya 2 baris tertulis: akan ada pula testimoni dari pasangan yang menikah tanpa pacaran. Hasilnya... diruangan preview yang bentuknya berupa bioskop mini itu, tempat kami biasa mengadakan kajian pekanan, hadir 15 peserta, 12 seluruhnya wajah baru, 3 wajah lama, hampir semuanya....single, kecuali Sang Ustadz tentunya dan Ami, saudari tercinta yang akan memberikan testimoni, suaminya Mas Aris akan menyusul kemudian.

Tema provokatif itu (kata seorang abang), diangkat mengingat kondisi sebagian besar masyarakat negeri kami ini, yang statusnya single. Padahal jika dinilai dari penghasilan boleh dikatakan cukup, kecuali untuk mereka yang belum tahu arti bersyukur. Banyak yang ingin menikah, tapi banyak juga yang belum tahu caranya sesuai yang disyariatkan, maka digelarlah kajian itu. Lalu banyak pertanyaan terlontar, tapi tak semuanya bisa terpuaskan. Sengaja, kata Ustadz Asdar, supaya pesertanya penasaran lalu mencari jawaban dari berbagai sumber lainnya. Lalu ia titipkan sebuah pesan penutup,.."Sehebat-hebatnya manusia yang masih sendiri, belum ada apa-apanya dibandingkan mereka yang sudah menikah."
Entah apa yang ada dibenak semua peserta. Tertantang untuk menikah atau surut kebelakang dan malah ragu. Semoga tidak. Semoga mereka masih mau datang saat tema-tema itu kembali dibahas 2 minggu yang akan datang. Semoga ada yang segera memutuskan hubungan tak halalnya dan memilih untuk segera menikah. Lalu saat do'a penutup majelis dilafalkan, kubaca sebuah sms dari seseorang yang sangat kuhormati.

"In..alhamdulillah sudah ana dapat calon untuk iin, teman sekolah iin, tapi sabar ya butuh waktu untuk ikhwannya..."

(Kadang butuh keberanian untuk mengubah jalan hidup, tapi tak perlu ragu saat mengubah jalan hidup untuk menjadi lebih baik)

Sunday, March 20, 2005

SEMOGA KAN TETAP SAMA



Kaget. Aku rasa sudah seharusnya, saat kau jawab e-mail yang menceritakan kemunduranmu dari barisan yang simbolnya dua pedang panjang bersilang. Meskipun seorang mas, sejak jauh-jauh hari mengatakan, kau sudah lama rajin mengikuti kajian-kajian itu. Katamu, banyak pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab, banyak kekecewaan dan banyak lainnya.

Biasa itu, kata seorang abang enteng. Ah Abang, aku belum terbiasa. Keberadaannya yang dulu, membuatku lebih nyaman mendiskusikan agenda dakwah, tenang bahwa diluar ikatan akidah sebagai sesama muslim, ada ikatan lain yang lebih erat, lebih kuat. Apalagi dia salah satu lokomotif dalam kereta dakwah kita. Di negeri bertuhan rating, yang dominasi warna tayangannya masih saja suram.

Tapi didalam manhaj itu, kau katakan telah menemukan kebenaran. Ya, semoga kebenaran yang kau temukan, tetap meningkatkan semangat dakwahmu, menjadikanmu manusia yang lebih baik dimata Sang Kekasih. Dan tidak melupakan tujuan keberadaanmu dinegeri ini.

(Semoga akan tetap sama, atau bahkan menjadi lebih baik, hubungan kita sebagai sesama muslim dan pengemban amanat dakwah?)
KEMATIAN ITU SPEKTAKULER



Kematian itu spektakuler, salah satu rahasia Sang Kekasih. Pagi ini, kuterima sms dari seorang sister, sebuah berita duka, ibunda seorang sister kami yang lain, Bunda Aklimah meninggal dunia pukul 03.00 dini hari. Suami sister kami itu mantan ketua DPRa, jadi tiap Sabtu sore kami pasti habiskan waktu untuk membahas agenda-agenda dakwah. Aku jadi teringat, wajah ramahnya yang tak lagi muda saat menerima kunjungan kami.

Bunda Aklimah, dengan penuh kesabaran mempersilahkan kami masuk, menyuguhkan kami minum. Pernah kulihat saat ia dengan sabar menyuapi suaminya, ayah sister kami, yang sudah terbaring lemah ditempat tidur sejak 2 tahun lalu, karena terserang stroke. Mengasuh salah satu cucunya, Aufa sigendut bulat, yang hiperaktif. Bahkan saat terakhir menjelang kematiannya, sebuah lemparan jambu klutuk hampir mengenai matanya. Namun ia tetap sabar mengasuh si Aufa kecil yang polos dan tidak tahu apa-apa. Sementara sisterku itu, anak Bunda Aklimah, Mbak Lia, merawat putri keduanya, Kayla, yang harus diopname dirumah sakit, dan dia sendiri yang nyaris diinfus karena diare.

Bunda Aklimah, yang sabar mendampingi suami, justru dipanggil terlebih dahulu oleh Sang Kekasih. Suaminya yang kini sudah duduk dikursi roda, memandang jasad kaku dengan tatapan hampa. Entah apa yang sedang dipikirkan.

(Kematian memang spektakuler, kapan datangnya tak ada yang tahu pasti. Tinggal kita bertanya pada diri sendiri, siapkah kita ketika kematian kan datang menghampiri?)

Tuesday, January 11, 2005

LEMAH DAN TAK BERDAYA



2 minggu belakangan ini layar kaca itu masih dipenuhi wajah-wajah duka, tangis adik kecil, ibu yang kehilangan anaknya, tatapan kosong tanpa makna. Kata Sherina, Sang Kekasih telah meluapkan amarahnya diujung Banda, kata Om Ebiet ini balasan bagi kita yang alpa. Lalu beberapa tim terdiri dari reporter dan kameraman langsung diterjunkan. Majlis Ta'limpun segera memasang pengumuman tiap lantai, galang dana bagi saudara-saudara yang tertimpa duka. Shalat Ghaibpun digelar, entah sekedar memenuhi kewajiban atau benar-benar mengirim doa bagi yang tertimpa musibah.

Lalu mulailah gambar hasil feeding dari Medan diterima, gambar-gambar bagus menurut kami yang katanya tak punya hati nurani. Mayat-mayat tak berbentuk, bangunan hancur, jadi materi yang siap edit. Ingin rasanya segera terjun kesana, sekedar memberi uluran tangan atau menghibur wajah duka, tapi apa daya, sekedar niat yang tak didukung langkah nyata.

"Bisa apa kamu disana, mau masak? kamu kan nggak biasa masak, mendingan Mama yang dikirim kesana, bisa masakin banyak orang..."

Begitu ketus Bunda, saat melihat ransel yang sudah siap mengcengkram dipundak, berisi pakaian untuk 2 hari, begitu percaya diri mampu berikan bantuan maksimal, meskipun tak tahu dapat berbuat apa disana. Larangan dari manajemen kantor, untuk tidak memberangkatkan relawan dari negeri bertuhan rating, semakin menutup kemungkinan untuk berjumpa adik-adik kecil di tanah Darussalam.

Jadi disinilah, aku yang lemah dan tak berdaya, memandangi wajah-wajah sendu adik-adik kecil, mengedit gambar mereka sebaik mungkin, sambil terus berdoa semoga banyak orang berempati dan belajar arti kehidupan dari gambar-gambar yang dipublikasikan.

(Sabar ya Dek, ada cinta-NYa dibalik murka-Nya)

Monday, December 13, 2004

2 PENDEKAR



Kamis malam, agenda rutin ta'lim di negeri bertuan rating, pamflet sudah disebar, masing-masing musholla tiap lantai, hingga didepan lift, pun melalui e-mail, ditambah lagi sms menjelang dimulainya acara. 30 menit mundur dari jadwal semula, cuma segelintir sisters yang datang. Ruangan besar yang sudah ditutupi karpet merah putih itu, kelihatan semakin luas. Dipojoknya terdiam sendiri seperangkat tv dan vcd player. Ah, sepertinya tidak ada yang datang. Kemana ya...perginya para tunas muda, yang kehadirannya kadang ceriakan suasana. Apa mereka mulai lupa, atau tenggelam dalam aktifitas dunia? Padahal agenda rutin ini hanya menyita sekitar 2 jam dari 8 jam x 5 hari kerja yang ada. Padahal baru beberapa minggu saja kita lepas dari kekasih kita, Ramadhan.

Nah itu dia datang 3 brothers, para abang yang istiqomah. Dibelakangnya mengikuti seorang pendekar berkoko putih bersih, itu Ustadz Asdar yang tak kenal menyerah. Eh.. ada satu lagi dibelakangnya, berkoko hijau lumut, Ustadz Dadang yang murah senyum. 2 pendekar yang selalu memberikan siraman hati, tak surut meski jamaahnya surut hingga segelintir saja. Lalu berceritalah salah satu pendekar, tentang sebuah seyembara yang digelar disebuah negeri. Seorang raja mengadakan perlombaan melukis, dengan tema 'ketenangan'. Maka berlombalah rakyat menggambar gunung, sawah menghijau, dan pantai. Tak ada yang istimewa hingga ia tertarik pada sebuah gambar. Disana gelombang laut menggunung dengan petir dan hujan badai, namun ditengah-tengahnya berdiri tegak gunung karang, yang didalamnya ada sarang burung pipit. Burung pipit yang dengan tenang berada didalam karang, tanpa merasa terganggu dengan keadaan sekitar. Itulah kita, kata Ustadz Dadang yang harus terus istiqomah dan tidak tergoda dan larut dalam godaan dunia, yang kelihatannya indah tapi menjerumuskan.

Keberhasilan kita, kata Ustadz Asdar menambahi, bukan pada jumlah yang banyak tetapi pada keistiqomahan kita menjalani setiap proses dengan penuh kesabaran. Ah...2 pendekar tanpa tanda jasa, yang segera menuju kemedan dakwah lainnya, begitu semua pertanyaan dijawab, begitu setiap gelintir rohani yang hadir tersirami.

((Jazakumullah Khairan Katsirran Ustadz Asdar dan Ustadz Dadang)

Thursday, November 25, 2004

MENGENANG MAS NONOT



Nonot Suryo Utomo, itu namanya. Gagah, seperti orangnya, berperawakan tinggi besar, kepala botak, apalagi kalau sudah menenteng kamera dibahu kanan dan tripod ditangan kiri. Aku ingat liputan terakhirnya dulu saat ia balik dari Poso, tentang perjanjian perdamaian yang ditengahi Yusuf Kalla. Masih kuingat gambar saat Dewi Artiwi, reportermu terengah-engah mengejar Pak Yusuf untuk meminta statementnya, pasti kau juga lebih terengah-engah disana, karena tidak seperti Dewi yang pegang mike, kau harus memanggul kamera yang berat itu dan memastikan dapat gambar dan angle yang bagus.

Mas Nonot, dibalik perawakannya yang gagah ternyata mengidap gagal ginjal, mungkin kesibukkanmu membuatmu terkadang lupa minum. Perkara yang kelihatannya sepele, tapi penting, karena segelas air itu ternyata tetap menjaga sebuah organ penting bekerja. Lalu kau putuskan untuk menjadi sepertiku, seorang audio visual editor. Dan disanalah kau mulai bekerja, didepan Newsflash yang dingin. Kau selalu datang lebih dulu dariku, dengan jaket kuning tebal, dan sebuah botol aqua ditangan kanan. Kau edit berita dengan tenang, meskipun terkadang mengeluh karena gambar yang kurang atau tidak bagus, sementara waktu tak mau berkompromi. Botol aqua itu tetap setia menemani, kadang kau taruh dibawah meja, karena supervisor tidak mengizinkan makanan dan minuman masuk keruang editing. Tapi ternyata segalanya sudah terlambat.

Tubuhmu yang dulu berisi, makin kurus. Bicaramu semakin lambat, dan jalanmu tak lagi gagah. Lalu kau tak sanggup lagi bekerja, penyakit itu ternyata sudah menjalar kebeberapa organ penting lainnya, yang memaksamu beristirahat dirumah saja. Dan semenjak kau tak lagi bekerja, aku belum pernah mengunjungimu, meneleponmu, untuk sekedar menanyakan apa khabarmu. Hingga akhirnya kau yang mengunjungi kantor, dengan tubuh yang semakin ringkih, kutemui saat kau duduk didepan salah satu komputer itu.

"Mas Nonot..."
"Hey...Lies..."


Suaramu parau, hampir tak terdengar. Tak tega kumenanyakan bagaimana khabarmu. Kupijat pundakmu, dan disana aku mengetahui, Sang Kekasih sedang menanti. Seperti aku mengetahui, Pak Edy audioman dan Bunda Liennya Ami akan segera dipanggil menghadapNya, saat kupegang tubuh lemah mereka. Jadi saat kudengar kabar 2 hari sebelum Idul Fitri tiba, kau telah dipanggil menghadapNya, aku sudah ikhlaskan kepergianmu semenjak pertemuan hari itu.

Selamat jalan Mas Nonot...

(Semoga saat ini kau tenang dipelukanNya, semoga amal baik mampu menempatkanmu dijannahNya...Amien)
BERLEBARAN DIFALLUJAH



Seminggu sebelum Idul Fitri tiba masih sempat aku mengajak My Mom dan Endah, adik nomor tigaku berjalan-jalan disebuah pusat perbelanjaan yang baru jadi. Penuh sesak, ibu-ibu dengan anaknya, gadis-gadis abege, yang sibuk memilah-milah pakaian, menawar, mencoba, menghaburkan setiap perak yang tersisa. Jatah THR, sisa gaji, hasil utangan tetangga, atau hasil menodong orangtua. Pun aku yang sama saja, bosan mencari pakaian baru yang tak kunjung dapat, hingga akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja disebuah masjid indah yang letaknya paling atas dari pusat perbelanjaan itu.

Jarang kutemui, pusat belanja yang punya masjid indah, biasanya hanya ada dibasement, atau terkucil dibawah tangga, dengan bau yang menyengat dari jarak 300m jauhnya. Dimasjid itu, masih banyak orang yang mengingat untuk menghadapNya, bahkan dishaf para ikhwan, masih ada seorang pemuda yang terpekur penuh khusyu pada Qur'an kecilnya. Mungkinkah bacaan itu juga ia kirimkan, untuk para saudara di Fallujah? Yang mallnya telah berubah menjadi puing-puing, yang gema adzannya diselingi suara mortir.

Beberapa hari sebelum lebaran, para tetangga sibuk membagikan kue. Nek Misan dan Bu RT yang betawi asli, masih tetap mengirimkan tape ulinya. My Mompun sempat membungkuskan beberapa paket sembako untuk para dhuafa, meskipun parcel mahal untuk kolega My Father juga tak ketinggalan. Parcel mahal untuk untuk orang berada, dan sembako murah untuk para dhuafa. Endah, juga dapat kiriman parcel dari salah satu fansnya. Umi, seorang ibu tua yang jadi tukang cuci dirumah, tak hentinya-hentinya mengucap syukur dan berkaca-kaca saat kami memberikan THR seadanya. Mungkinkah tangis harunya juga ditujukan para saudara di Fallujah? yang kue lebarannya berubah menjadi timah panas, dan ketupatnya berubah menjadi granat.

Saat Lebaran, adik-adikku terlihat sumringah dengan baju barunya, begitu pula para tetangga. Ada banyak lembaran ribuan untuk dibagikan pada anak-anak kecil. Gema takbir tak henti-hentinya berkumandang. Semua karib kerabat berkumpul, wajah penuh senyum, mengobral maaf untuk sesama. Tak lupa my father mengabadikan setiap moment dalam kamera minidvnya, bahkan kami sempat berfoto bersama. Saat kami mengunjungi para tetua, seorang sister memelukku erat, seakan tak mau lepas. Mungkinkah pelukannya ditujukan juga, untuk para saudara di Fallujah? yang kehilangan keluarga dan para tetangga, karena dtembus timah panas para serdadu asing, atau mati karena tertimbun reruntuhan bangunan. Atau karena senandung takbir, yang sudah berubah... menjadi senandung jihad.

(Beruntungnya hidup di Indonesia, dimana beribadah bisa tenang, tanpa desingan peluru, tanpa takut rudal yang bisa hancurkan rumah dalam beberapa detik saja, tapi mengapa amalan... masih biasa?)

Wednesday, November 10, 2004

MASIH ADA CAHAYANYA DINEGERI INI




Puluhan malaikat-malaikat kecil sudah berdatangan pagi itu, tampak bersahaja dengan pakaian takwanya, koko beraneka warna. Dengan penuh percaya diri, sebagian dari mereka mendekap mushaf suci itu, ada yang lamat-lamat membacanya, sambil sesekali memperhatikan teman mereka yang sudah dapat giliran untuk beraksi.

Tak terasa, tahun ini sang tamu agung sudah datang kembali. Dan kami pengurus Majlis Talim kembali dapat amanah untuk menjamunya, maka digelarlah Qurani Kids dan Buka Puasa bersama Anak Yatim, Anak Asuh dan Dhuafa. Malaikat-malaikat kecil yang usai menuaikan tugas, langsung menuju ruang zanzibar, bertemu dengan saudara yang lain, yang sudah menunggu sejak tadi, dan siap melaksanakan shalat Azhar berjamaah. Maka riuhlah ruangan lobi bawah itu, bukan oleh audiencenya cantik indonesia, atau fansnya Bang Iwan Fals, tapi oleh riuh rendah suara para malaikat-malaikat cilik, yang berhamburan menuju tempat wudhu guna mensucikan diri.

Sabtu itu hari mereka, ratusan souvenir siap dibagi, jamuan lezat siap disantap, dan MC yang sabar siap memandu, Ali, salah satu mantan punggawa negeri ini yang memilih untuk menetap dinegeri lain, bernama Universitas Ahmad Dahlan, Jogyakarta. Saudara tercinta yang kedatangannya menyejukkan, dengan kesabaran luar biasa, menangani ratusan malaikat-malaikat kecil dengan senyuman. Maka bergulirlah acara demi acara, semua terpaku, bertepuk tangan riuh rendah saat, Tim Marawis AR-Rasyid dan Tim Nasyid Risalah Generation unjuk gigi. Bahkan Ustadz Sukeri terlihat antusias mengikuti acara, meskipun gilirannya memberikan tausyiah masih diujung maghrib. Pun ia masih tersenyum, saat Bunda Neno Warisman yang datang telat terpaksa mengambil beberapa menit jatahnya.

Sang pemilik negeri dan para penasehat ikut datang, bahkan sempat memberikan hadiah bagi para juara. Mereka tidak menyangka, jika acara ini bisa berlangsung meriah. Bahkan sang penasehat sempat memberikan janji.

"Insya Allah, tahun depan kami akan menyelenggarakan acara yang lebih meriah lagi...."

Maka para malaikat kecilpun gembira, membayangkan kemeriahan yang akan mereka rayakan tahun depan. Dan para punggawapun menerawang, membayang tanggung jawab besar yang harus dilaksanakan. Tak apa, selama para malaikat itu gembira dengan sedikit uang halal negeri ini. Tak apa, selama cahayaNya masih diizinkan menerangi beberapa ruangan dalam negeri ini dan menerangi hati para pemilik negeri.

(Semoga Sang Kekasih berikan kekuatan pada para punggawa untuk tetap istiqomah menempuh medan dakwah dinegeri bertuhan rating)

Sunday, October 31, 2004

INDAHNYA TUNAS-TUNAS YANG BARU TUMBUH



Tunas-tunas itu sudah lama mengenal Islam, sejak lahirnya bahkan. Lalu lingkungan memberinya warna. Dan Islam masih tetap terlihat, dari ritual yang sehari-hari mereka lakukan, atau identitas khas yang menutup erat kepala. Di negeri bertuhan rating ini, tunas-tunas itu datang dari berbagai latar belakang, dengan kepribadian dan tanggung jawab yang berbeda pula. Ada seorang gadis yang gagah sehari-hari dengan kameranya, yang kalem didepan komputer grafisnya, yang lincah menyiapkan wardrobe para pemeran sinetron dewa, yang cool didalam news control room, yang galak mengingatkan liputan para koresponden daerah, yang tenang dan cerdas saat menghadapi nara sumber, yang bingung dengan liputan gosip artisnya, dan yang sering bimbang hadapi masalah.

Tunas-tunas baru itu berkumpul dalam sebuah bejana, yang kerap menyirami mereka dengan tausyiah yang sejukkan dahaga. Dahaga jiwa akan nasehat, dahaga otak akan ilmu Sang Kekasih, dan dahaga hati akan perjumpaan dengan sesama tunas-tunas baru, para saudari, teman seperjuangan.

"Kaifa Haluki?.."
"Khair, alhamdulillah.."


Beberapa kata baru yang dipelajari, kadang diselingi rasa geli karena ucapan aneh yang keluar karena belum terbiasa, menjadi setetes embun yang kadang menyegarkan pertemuan para tunas baru. Pekerjaan yang dilematis, keletihan yang luar biasa karena jam kerja yang tak jelas usainya, atau masalah kuliah yang tak kunjung terselesaikan, kadang malah menjadi hal-hal yang menyatukan. Menyatukan jiwa para tunas baru dan beberapa bilah pohon yang mulai tumbuh daunnya, untuk percaya pada Sang Kekasih bahwa ada skenario dibalik semua.

(Untuk para tunas baru, senang rasanya menerima kedatangan kalian, menguatkan barisan dakwah)

Friday, October 01, 2004

TUMPENG 30 SEPTEMBER 2004



"Semoga dengan berkurangnya jatah umur kita, selalu ada usaha untuk meningkatkan amal saleh, iman dan taqwa, Amien. " (dari seorang mas, yang jatah berkurang umurnya, bertepatan dengan berkurangnya umurku juga)

"Met Milad ya Mbak, wishin Allah SWT always givin u the best things ever in your life. Amiin." (dari seorang adik, yang suara lantunan Qur'annya mampu getarkan jiwa)

"Sekali lagi, aku ucapin selamat hari lahir saudariku, semoga Allah selalu menyayangimu, mbakku tersayang." (dari seorang adik, yang cintanya begitu besar dan ikhlas, hingga mampu runtuhkan batu karang)

"Selamat hari lahir ya mba, semoga setiap langkah mba senantiasa diberkahi Allah. Amiin." (dari seorang adik, yang kurindukan kehadirannya dalam majelis itu)

"Happy birhday Sister! Tambah dewasa, tambah bijak." (from my big brother, yang kurindukan keterlibatannya dalam barisan itu)

"Apa yang telah hilang dari umurmu, tidak dapat ditarik kembali dan apa yang telah berhasil bagimu, tidak dapat dinilai harganya. Selamat Ulang Tahun Lies Indria Permana (dari seorang kawan, yang selalu merindukan datang cinta Sang Kekasih didalam hati)

"HAPPY BIRTHDAY, to Mbak Iin yang ke-25, semoga diberikan kesehatan, dimudahkan urusannya, tetap istiqomah dijalan Allah, dimudahkan jodohnya. Amiin. (dari seorang saudari yang selalu istiqomah meniti jalan keridhoanNya)

"Mbak Lies Slamat Ulang Tahun ya..:) (dari seorang adik yang menjadi salah satu tenaga penguat dalam barisan dakwah dinegeri bertuhan rating)

"Slamat ulang tahun untuk mbak. Semoga setiap rencana yang mbak buat terkabul, serta bertambah keimanannya, ya mbak. (dari seorang adik, yang kurindukan ikhtiarnya demi mencapai hidayah Sang Kekasih)


Tumpeng sederhana ditengah ruang itu, dikelilingi wajah-wajah teduh dengan jumlah yang lebih banyak dari biasa. 2 orang diantaranya, berkurang usia. Seorang mas, kakak yang selalu menyejukkan dan semangat dakwah yang tak pernah padam, dan aku sendiri yang masih belum banyak berbuat hal-hal berarti.

Tumpeng sederhana yang ujungnya mencuat keatas, laksana tugu peringatan, Dia, Sang Kekasih yang harus selalu diingat, pemberi desah nafas hingga detik ini, penjaga hidayah didalam hati dan penguat dikala kesulitan mendera. Hingga tak patut, sedetikpun kita melupakanNya.

Tumpeng sederhana, hasil berjibakunya seorang bunda, yang tanpa pamrih, selalu bersedia menyenangkan hati putri kesayangannya. Selalu mendoakan yang terbaik, meskipun Sang Putri kerap menyakiti hati, dan terasa berat untuk berbakti.

Tumpeng sederhana, namun dapat memberikan kepuasaan semua orang yang menyantapnya. Seperti diri kita, yang seharusnya bisa bermanfaat bagi manusia disekitarnya, meskipun hanya dengan amalan seperti sebuah tumpeng sederhana, meskipun hanya sebesar biji sawi.

(Alhamdulillah, Sang Kekasih masih izinkan menghirup udaraNya sekali lagi)

Tuesday, September 28, 2004

CANTIK DUNIA AKHIRAT



Malam itu seorang saudari yang baru kukenal saat mabit di Al-Azhar Sabtu lalu, datang berkunjung kekantor. Kuajak ia tur melihat-lihat studio 5, tempat dimana proses sederhana program televisi dibuat. Disana seorang gadis manis berjilbab model artis Inneke, serius berdiri didepan layar biru, menyampaikan tayangan-tayangan untuk bulan suci Ramadhan. Tak jauh diluar studio, ada juga gadis manis setipe yang mondar mandir menghafal naskah. Wajah-wajah mereka terlihat familiar.

"Oh itu untuk program Ramadhan ya mbak?"

Kuanggukan kepala, sambil mengantarnya turun ke lobby. Kembali keruang edit, kulihat 4 orang gadis manis keluar dari ruangan wardrobe menuju studio, masih menggunakan pakaian muslimah, mereka terlihat anggun, cantik dan menyejukkan. Setengah jam kemudian, gadis-gadis manis itu kembali masuk keruang wardrobe.

Tak berapa lama, dari ruangan yang sama keluarlah gadis berpakaian seksi, bahunya terbuka lebar, pakaian ketat menunjukkan seluruh sudut tubuh. Begitupun gadis dibelakangnya, dan dibelakangnya, dan dibelakangnya. Ah bukankah mereka yang tadi menggunakan busana muslim? yang tadi terlihat anggun dan menyejukkan? Muka mereka sering terlihat digedung ini, oh mereka finalis cantik Indonesia. Ajang mencari bintang sebagai duta negeri bertuhan rating ini, yang katanya tidak hanya mementingkan kecantikan tetapi juga bakat.

"Itu kan hanya akting mas..."

Seloroh salah satu gadis seksi itu kepada salah satu kru. Sambil berjalan lenggak lenggok, dengan dagu terangkat keatas. Ah, seandainya salah satu kriteria lagi dimasukkan kedalam ajang itu. Karena seorang duta paling tidak seharusnya memiliki 3 unsur, intelegence, emotional dan... spiritual. Ah, seandainya ketiga unsur itu dimiliki para gadis cantik tadi, mereka bukan hanya akan 'cantik Indonesia' akan tetapi cantik dunia akhirat.

(Masih panjang langkah mengubah industri ini kearah yang diridoiNya, doakan kami agar tetap istiqomah)

Thursday, September 09, 2004

DUA SISI MATA PISAU



Baru 2 hari lalu, saat kulihat ditelevisi, sekumpulan pejabat negeri ini sedang rapat pleno, memprotes 'travel warning' yang dikeluarkan oleh USA buat warga negaranya. Salah satu pejabat itu dengan percaya diri berkata.

""Travel warning itu terlalu berlebihan, Indonesia dalam kondisi aman kok untuk dikunjungi..."

Tapi kini dua hari menjelang peringatan tragedi WTC, sebuah bom berkekuatan besar membuktikan kekhawatiran paman sam. Suasana kantor yang tenang, dalam hitungan detik langsung hiruk pikuk. Bom itu sama sekali tidak melukai kantor kami, tapi nun jauh disana, 5 buah gedung besar hancur, mungkin juga beserta ratusan pekerja yang berada didalamnya. Para produser menelpon reporter yang sedang berada dilapangan, semua dialihkan menuju kuningan, ada yang inisiatif bergerak dengan sepeda motornya.

"Breaking news, breaking news..."
"Buat jelang siang saja, satu segmen, wuih gambarnya bagus..."
"Lihat Anteve, langsung dapat gambarnya..."


Para produser tak mau tertinggal momen berharga, yang bisa mendongkrak rating, atau paling tidak supaya tidak ketinggalan berita dengan tv lainnya. Meskipun para reporter dilapangan belum memberikan laporan, berita harus tetap dibuat. HP mereka terus berdering, para pa sibuk mencari berita tambahan melalui situs detik.com, atau dari laporan reporter elshinta. Karena sifat publikasi radio pasti lebih cepat dibanding televisi. Semua jajaran direksi turun, memberikan para produser slot tayang yang tak terhingga, dari pukul 11.30 hingga 13.00, semuanya berita tentang bom kuningan. Acara gosip artis 'insert' harus rela diganti tayangan breaking news. Bahkan kupas tuntas yang baru usia malam ini pukul 12 malam, juga berisi berita tentang ledakan tersebut.

Penderitaan, kesedihan, kepdihan orang lain, kadang menjadi berita berharga bagi kami. Bad news is a good news, begitu kata sang direktur. Tapi, rasanya tidak selalu demikian, disebuah meja komputer pojok kantor, seorang wanita berjilbab, yang didalam rahimnya tengah bersembunyi mashluk berusia 3 bulan, terlihat tenang menulis naskah untuk sebuah program bernama "Surat Sahabatku", tidak terpancing akan hiruk pikuk diruangan sebelahnya. Raut wajahnya terlihat serius, memikirkan bagaimana menguntai kata-kata menjadi naskah yang indah, yang dapat menyentuh relung hati, mengisahkan tentang penderitaan anak-anak pengungsi.

Lalu agak jauh darinya, juga seorang wanita berjilbab, juga yang sedang mengandung sesosok mahluk suci berusia 7 bulan, terlihat serius merangkai kata-kata yang menceritakan sejarah masuknya Islam dinegeri ini. Ia sedang menulis naskah untuk program "Perjalanan Islam". Media adalah pisau, yang sama-sama memiliki 2 sisi, ditangan penjahat, pisau dapat digunakan untuk membunuh, ditangan orang sholeh, pisau dapat digunakan untuk memotong sayuran dan ikan, menghidangkan makanan lezat bagi keluarga. Tinggal sekarang, kemana hati nurani kita akan menuntunnya?

(Berduka cita sedalam-dalamnya untuk para korban bom kuningan, semoga Sang Kekasih berikan ketabahan dan kekuatan)