Sunday, November 30, 2003

AKHIRNYA IA PERGI...



Selembar kertas yang ditempel disamping lift siang itu, menulis informasi yang mengagetkan. Tulisannya kecil-kecil, akupun tidak menyangka kalau selembar kertas itu berisi berita duka cita. Bapak Edi Rosai, seorang patner kerja kami akhirnya dipanggil menghadapNya. Allah telah melepaskan segala deritanya, ia berikan kehidupan yang abadi disisiNya...

Kini Ramadhan telah berlalu, 3 orang telah mendapat kehormatan untuk menemuiNya..
Eyangku Mbah Roh, Rudi dan Pak Edi Rosai...

Semoga kelak kita dipanjangkan usia untuk kembali berjumpa Ramadhan...
atau paling tidak Ramadhanlah, tempat kita kelak menghembuskan nafas terakhir...

( Semoga semangat Ramadhan mampu mewarnai 11 bulan dalam kehidupan kita)

Tuesday, November 18, 2003

ALLAH SEDANG MENINGGIKAN DERAJATNYA...



Sabtu lalu, seusai evaluasi Qur'ani Kids, aku, Ami, Mona serta Mas Azhar pergi mengunjungi salah satu rekan kerja kami. Seorang audioman senior yang saat ini sedang terbaring lemah di rumah sakit, Pak Haji Edi Rosai. Kandungan gula dalam darahnya sangat tinggi, hingga ia harus dirawat secara intensif.

Ada perubahan dari fisiknya. Beliau terlihat lebih gemuk, bukan karena kesehatannya membaik, tapi justru memburuk. Obat alternatif yang ia coba konsumsi beberapa waktu lalu merusak saluran pembuangannya. hingga beliaupun kesulitan ketika sekedar harus buang air kecil. Pun tak ada respon, saat kuusap halus permukaan tangannya.

Ia adalah sosok yang bertanggung jawab dan tegas didalam Majlis Ta'lim, seringkali kami mengibaratkannya sebagai kaum tua dengan pemikiran yang konvensional, sementara kami, kaum muda yang demokrat. Masih kuingat saat kami berdebat tentang calon ketua Majlis Ta'lim, ia mendahulukan kriteria yang pemahaman agamanya luas, sementara kami lebih memilih orang dengan jabatan strategis, namun memiliki keinginan untuk mempelajari Islam.

Masih kuingat juga saat ia memprotes Dirut kami, yang memintanya untuk tidak memakai kopiah bulat saat kerja di kantor. Namun ia menolaknya mentah-mentah. Kinipun dengan keterbatasan tenaganya, ia masih sempat menanyakan aktifitas dakwah kami dikantor, "bagaimana tarawehnya?" "bagaimana jum'atannya?" dengan suara yang lemah terbata-bata. Seperti Rasulullah yang mengkhawatirkan umatnya hingga detik-detik terakhir kepergiannya.."ummati..ummati".

Hanya saja aku sangat berharap, detik itu bukanlah detik-detik terakhirnya. Detik itu adalah detik saat Allah meninggikan derajatnya, dan Ia harus kembali bugar seperti dahulu, dan ia harus kembali tegas seperti dahulu. Untuk menjaga kami, anak-anaknya... agar tetap berada dalam garis ketentuanNya.

(Semoga lekas sembuh Pak Edi...rindukan saat bertukar pikiran denganmu)

Sunday, November 16, 2003

BERSAMA PARA MUJAHID



Sudah 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Tetapi para mujahid dilingkunganku ghirahnya tak pernah pudar. Malam minggu kemarin saja mereka lakukan i'tikaf sambil mendirikan tenda dan menjaganya hingga shubuh menjelang. Demi sebuah bazar penuh berkah yang menjual berbagai barang kebutuhan pokok kepada rakyat kecil.

Pagi itu saat kudatang dengan kamera VHS ditangan, mereka tetap sibuk membuat garis-garis dari plastik rafia agar warga bisa antri dengan teratur. Seorang ikhwan, Akh Jatki yang sudah jadi sahabatku sejak kecil, juga hadir disana. Kami kebagian tugas sebagai seksi Publikasi dan Dokumentasi. Ia mengaku kalau sejak kemarin malam menginap dan hingga pagi ini belum mandi. Subhanallah...padahal pagi ini mereka semua harus tetap berpuasa.

Warga yang datang membeli semua kebutuhan pokok yang dijual. Semua barang dagangan habis dalam setengah jam. Beberapa ibu-ibu rumah tangga yang aku wawancarai merasa puas dan senang, karena harga-harganya dibawah harga pasar. Sangat membantu buat mereka yang ingin menyambut Lebaran dengan sedikit kegembiraan.

Disambut hujan yang turun seusai kegiatan, para ikhwan tetap bersemangat merapikan kembali sound system. Pakaian mereka basah kuyup dan kaos putih mereka terlihat dekil karena debu-debu lapangan yang menempel. Tetapi rasa keikhlasan tetap terpancar dari wajah-wajah mereka, bahkan ada beberapa ikhwan yang segera bersiap-siap untuk mengikuti acara ditempat lain.

Banyak orang yang alergi terhadap yang namanya partai. Kata mereka partai itu kotor, dan ujung-ujungnya hanya mencari kekuasaan demi kepuasan pribadi. Tapi semua hal itu sama sekali tidak aku lihat pada teman-teman dipartaiku ini. Bahkan mereka rela mengeluarkan dana dari kantong mereka sendiri untuk suksesnya sebuah kegiatan, selama kegiatan tersebut bermanfaat bagi masyarakat. Mereka rela korbankan waktu, tenaga, pikiran dan materi hanya demi sebuah tujuan sederhana....keinginan agar negara ini kelak dipimpin orang-orang yang memiliki ilmu dan....iman.

(Buat teman-teman DPRa Partai Keadilan Sejahtera Kelurahan Pekayon...terus berjuang)

Wednesday, November 12, 2003

DERITA TABITHA...



Anak manis berusia 5 tahun itu bernama Tabitha. Sekujur tubuhnya terkena luka bakar berat. Wajahnyapun sebagian melepuh, dan sinar kerinduan terpancar dari matanya.

Rindu akan kehadiran kedua orantuanya yang berada di Amerika Serikat.
Rindu akan tangan lembut Oma saat menyuapinya makan.
Rindu akan celoteh riang saudari-saudarinya.
Rindu akan kehadiran kakak-kakaknya yang tewas terpanggang sabtu dini hari lalu.

(Saat ngedit Jelang Siang:6 anggota Keluarga Jaksa yang meninggal terbakar, tetap tabah Tabitha!)
IBU SEPERTI APA KITA, KELAK KAN MENJADI...?



Minggu lalu Ratu Bidadariku memberikan tausyiah tentang manajemen waktu muslimah. Sebagai intermezzo, beliau menjelaskan tentang 3 tipe ibu rumah tangga. Ia meminta bidadari-bidadarinya untuk memahami dan menghayati tipe manakah kelak yang akan dipilih...

Tipe Pertama : Tipe Angin Padang Pasir, seorang ibu rumah tangga yang tidak pandai menjaga mulutnya. Permasalahan keluarga sampai bisa didengar tetangga, bahkan seringkali menciptakan keributan-keributan didalam rumah.

Tipe Kedua : Tipe Mahluk Halus, kehadiran dan kepergiannya tidak dapat dirasakan, terlalu sibuk dengan aktifitas diluar, sehingga tidak dapat meluangkan waktu untuk keluarganya. Semenjak pagi sudah keluar dari rumah, kembali kerumah saat larut malam.

Tipe Ketiga : Tipe Ratu Balqis, yang pandai menjaga penampilan, dan juga rumahnya. Pandai mengelola rumah tangga dan seorang wanita yang sabar dan mudah menerima kebenaran.

(Tipe yang mana kelak kita, para muslimah, dimasa depan..?)

Saturday, November 08, 2003

KETEMU SEKUTU BARU...



Setelah bantu my mom masak siang itu, aku berlenggang menuju rumah Okta, yang biasa dipanggil Anggon, entah dari mana asal nama panggilan itu. Ia lagi bikin skripsi di UNJ, dan diangkat anak oleh pakde dan budenya. Karena sayangnya, ia diberi pula fasilitas untuk mengedit, jadilah ia punya satu buah studio mungil bersama seperangkat alat edit. Langit-langitnya menarik, ditempelinya puluhan karton coklat bekas tempat telor, bagian yang menonjol-nonjol dibiarkan kebawah.

"Darimana bungkus telornya..gon"
"Dari saudara, minta..."
"Biar kedap suara?"
"Ngak, biar artistik aja..."


Dan berhasil, memang studio kecilnya jadi lebih artistik. Sore itu aku mau preview hasil editannya, dokumentasi Pawai Ramadhan partaiku. Soalnya audionya ngak syinc , dan gambarnya ada yang scratch, tapi ternyata setelah dipreview dimonitor dan dilayar televisi, audionya tidak ada masalah, dan gambar yang scratch cukup dipotong dan disambung lagi.

Dahulu perangkat editing seperti yang dipunyainya masih barang langka, tapi sekarang sudah mudah mencarinya. Hampir setiap sisi kota ada studio paska produksi. Program editing yang digunakannya I Lead. Menurutnya simple dan sederhana, kalau untuk sekedar bikin video dokumentasi dan film-film festival. Memang beda sama yang ada dikantor, tapi pada dasarnya seluruh basic editing adalah sama. Jadi tercetus ide untuk bikin film bareng, apalagi akses ngeditnya sudah gampang. Memang benar kata Pak Fredy, kalau sekedar niat tanpa usaha, ya bikin film ngak bakal jadi-jadi, harus ada usaha nyata...ngak cuma slogan semata.

Kalau melihat fasilitas yang dipunyai Anggon, kayanya jadi pengen cepat-cepat menyelesaikan skenario terus bikin film sederhana. Apalagi sekarang sudah punya sekutu baru, bikin film?...kita lihat saja nanti.

(Setelah 2 jam menghabiskan waktu preview dokumentasi sekaligus belajar ngedit I Lead bersama Anggon)
BELAJAR MASAK...



Friday is my day off!. Agak siangan aku lihat my mom bawa belanjaan banyak banget, ah...sekali-kali terjun kedapur bantuin beliau masak. Jarang-jarang bisa masak bareng my mom, saatnya membuktikan bahwa perempuan sesibuk apapun, kalau diberikan kesempatanpun sesungguhnya ia bisa memasak. Jum'at itu rupanya ada acara buka puasa bersama di kantor my mom, dan beliau kebagian masak sop.

Pertama-tama potongin bakso, sepele. Terus numbuk bumbu, lada plus bawang putih, yang sebelumnya dikupas dari kulitnya, ah gampang...Tapi pas giliran potong bawang merah untuk bikin bawang goreng, air mata bercucuran tiada henti, bukan terharu karena my mom sudah berikan putri sulungnya kepercayaan bantu masak didapur, tapi karena hawa panas yang keluar dari bawang merah itu. Ngak tahan...tapi aku tidak boleh menyerah, dan akhirnya berhasil, bawang merah itu kini sudah berenang bebas dalam minyak goreng panas diatas wajan hitam.

Sementara si bawang berenang, disampingnya wortel, bakso, irisan jagung muda, tomat dan para bumbu sudah mandi bersama dalam jacuzzi yang menggelak-gelegak. Aku tinggalkan sejenak, karena harus ganti baju siap-siap pergi kerumah teman yang tadi pagi sudah janjian. My mom ambil alih, tak berapa lama, sop itu sudah terhidang dimeja makan, menggoda untuk dinikmati.

"Ha...sudah mateng ma..?" .
"Ya udah..."
"Cepet amat..."
"Ya cepet, emangnya gimana..."


Aku cuma tersenyum, Jumat itu aku senang, karena sedikit-sedikit sudah bisa masak. Meskipun masih belajar. Sambil melenggang menuju rumah teman, aku bergumam...ah..masak itu mudah....

(Thanks mom, sudah memberikan kepercayaan untuk menemanimu masak didapur)
DUKA BAHOROK...DUKA KITA...



Banjir bagi penduduk sekitar sungai Bohorok sudah biasa. Hingga malam itu saat banjir kembali datang, mereka tanggapi biasa-biasa saja. Mereka tidak sadar, jika ternyata banjir kali ini membawa ratusan kayu gelondongan hasil illegal logging. Kayu-kayu berukuran raksasa datang bersama air bah dan menghantam pemukiman dan beberapa guest house yang mereka lewati. Ratusan nyawa melayang, ratusan orang kehilangan tempat tinggal, beberapa anak-anak kecil yang diselamatkan oleh tangan Allah harus rela kehilangan saudara-saudara dan orangtua mereka.

Banyak spekulasi muncul, mengenai penyebab bencana kali ini. Kawasan wisata gunung Lauser, yang dahulu menjadi salah satu kekayaan dunia terindah harus terkikis bersama air bah dan membawa serta ratusan penduduk yang malam itu baru saja pulang taraweh. Hilang lagi satu kekayaan negeri ini.

Ada yang bilang kawasan wisata itu kerap menjadi ajang mesum, sehingga Allah harus membinasakannya. Seperti halnya puncak, yang memiliki banyak guest house, begitu pula Leuser. 2 Buah bangunan guest house besar, salah satunya Rindu Alam terangkat oleh gelondongan kayu-kayu berukuran raksasa, seperti saat kita ingin mencabut umbi dan menggunakan sebatang kayu kuat untuk mendorongnya keatas.

Ada juga yang bilang penebangan yang membabi buta tidak menyisakan sama sekali lahan bagi Lauser untuk menahan derasnya curahan hujan. Batangan-batangan kayu hasil illegal logging ditimbun dan air bah membawanya menghantam perumahan penduduk.

Apapun spekulasi itu, bencana ini hanya menjadi bukti lagi-lagi akibat ketamakan dan kesombongan manusia. Manusia mennyalahgunakan kepercayaan yang telah diberikanNYa. Kadangkala kita sendiri memberikan sumbangsih secara tidak langsung. Di Jakarta sendiri, kita sudah menjadikannya sebagai tempah sampah raksasa. Betapa mudahnya membuang kulit jeruk dijalanan, atau membiarkan terbang plastik pembungkus makanan tanpa memungutnya dan meletakkannya ditempat sampah. Padahal plastik butuh jutaan tahun untuk hancur.

Bayangkan, jika saja ribuan orang berlaku ceroboh seperti kita, meskipun hanya selembar kulit jeruk, maka beberapa tahun dari sekarang, tak akan ada yang tersisa dari negeri ini, kecuali... gunungan sampah.

(Kesedihan saat mengedit Kupas Tuntas: Leuser AfterMath, kamis malam)

Wednesday, November 05, 2003

ANCAMAN BAGI GENERASI HARAPAN



Malam ini kulanjutkan tugas mengedit program asusila, Noda. Kapasitas server si Newsflash kelihatan tinggal 17 jam, jadi kuhapuskan dahulu file-file lama yang sudah tayang. Sejenak terpaku pada editannya Iis tentang Seks Anak, bukan pada kualitas editannya yang sudah pasti ok. Tapi pada isinya yang membuatku terhenyak.

Sepasang mata berukuran close up terlihat sedang terpaku pada layar besar didepannya. Ia sedang menonton blue film milik orangtuanya, saat Mira sang reporter bertanya, "kenapa suka nonton? Dia jawab, "enak aja banyak adegan-adegan...emm..seksnya..". Jawabannya begitu polos, tanpa perasaan bersalah. Akses melihat adegan berbumbu seks juga banyak ia dapatkan dari cerita kartun Jepang, seperti Golden Boy. Padahal kartun-kartun Jepang, banyak disukai anak-anak.

Salah satu Ghowzul Fikri kelihatannya mulai masuk melalui media kartun ini, bagi mereka yang punya anak, harus ekstra hati-hati dalam memilihkan bacaan. Sudah mulai terlihat usaha-usaha untuk merusak moral anak-anak kita melalui media ini, terutama komik. Padahal sudah banyak bacaan Islami bermutu lainnya seperti Haji Obet 1, 2 dan 3 karangan Boim Lebon dan kawan-kawan, atau Rembulan di Mata Ibu karangan Asma Nadia, cuma sayangnya penjualan buku-buku ini jarang ditemui ditoko-toko buku besar seperti Gramedia.

Sudah cukup banyak kerusakan yang ditampilkan melalui layar kaca kita, jangan tambah lagi dengan membebaskan anak-anak kita, adik-adik kita, saudara-saudara kita memilih bacaan mereka sendiri. Jaga kemurnian mereka, karena mereka penjaga masa depan...

(Teruntuk mereka yang sudah berkeluarga, jaga anak kita dari bahaya pornografi)
POSTCARD SEORANG SOBAT



Pagi ini kuterima sebuah postcard dari seorang sobat. Dengan gambar Masjid yang terlihat indah dan agung. Nama masjid itu Sultan Omar Ali Saifuddien, berlokasi di Bandar Seribegawan, Brunei Darussalam. Menerimanya jadi ingat sobat-sobatku dibelahan bumi Allah lainnya. Renata di Brasil, Afra dan Elif di Turki, juga Anees di Pakistan.

Mereka dulu juga rajin mengirimiku postcard, namun sekarang tidak lagi, persahabatan kami kini terputus. Semoga postcard kali ini dan hubungan persahabatan yang terjalin didalamnya tidak mengalaminya juga. Semoga Allah mejadikan persahabatan ini indah dan agung, seindah Masjid Sultan Omar Ali yang terdapat didalamnya.

(Thanks ya Her...)

Tuesday, November 04, 2003

KEPERGIAN SEORANG ADIK...



Satu lagi berita duka cita kuterima siang kemarin. Saat pulang dari kantor, rumahku kosong, si Kijang Metalikpun tidak ada ditempatnya. Bule Darti, tetangga depan rumah bilang keluargaku semua ke Tangerang, ada saudara yang meninggal, katanya, sepupuku yang paling besar. Rudi....

Rudi, adik sepupu yang setahun dibawahku adalah sosok pendiam. Ia meninggal pukul 11 malam, kata my mom angin duduk telah merenggut nyawanya. Malam itu setelah menumpang berbuka dari rumah orangtuanya, Rudi langsung pulang kerumahnya. Rumah yang ia beli sendiri dari hasil jerih payahnya. Rumah yang ia relakan untuk ditempati nenekku, neneknya juga.

Rudi, seorang pemuda yang pemalu. Setiap kali bertemu dengan kami sepupu2nya, ia memilih untuk berada diluar. Rudi, seorang pemuda yang mandiri, ia beli rumah dan motornya sendiri, untuk ia tempati kelak bersama istri dan anak-anaknya, meskipun ternyata Allah menginginkannya lebih cepat.

Rudi, seorang pemuda yang belum sempat kukenal lebih jauh, kecuali dari wajah murah senyumnya, yang selalu ia tebarkan kepada kami saudari-saudarinya. Selamat jalan Rudi, kami menyayangimu, tapi Allah ternyata lebih mencintaiMu....

(Buat adikku Rudi, semoga Allah terangi jalanmu selalu... )

Sunday, November 02, 2003

SEJAUH MANA AMALANKU HARI INI...



Sudah seminggu Ramadhan berjalan. Syaumku belum terkalahkan, tarawehkupun tetap jalan, meskipun hanya satu hari yang paling berkesan, yaitu saat taraweh di Al-Hikmah pada Ramadhan kedua. Lantunan ayat-ayat sang Imam membuatku bergetar, meskipun yang kumengerti hanya kata-kata seperti hisab, huthomah dan qoriah. Jadi teringat gunungan dosa yang sudah keperbuat selama ini.

Tilawahku masih melanjutkan yang kemarin, masuk juz 26. Kata Ratu Bidadari, minimal Ramadhan harus selesai 1 juz, siap Ratu! akan aku usahakan. Infaq, masih rada pelit, apalagi kalau harus memberikan pada anak-anak muda dimikrolet, yang hanya meminta-minta sambil memaksa, katanya untuk berbuka.

Muamalahku, masih kurang bagus, masih pelit senyum dengan sesama, masih ragu menyapa dan memberikan salam. Aku juga masih sering mengecewakan banyak orang. Lailku, masih harus diperbaiki, hanya tiga kali dalam seminggu, dan semuanya belum dijalankan dengan kesungguhan, sekedar ritualitas pesanan Ratu Bidadari, target yang harus dipenuhi. Ilmuku, belum bertambah, belum satu bukupun yang sempat dibaca, meskipun tak pernah ketinggalan melihat dunia melalui Sabili dan Ummi.

Hari ini, pertama dibulan Ramadhan, kuhabiskan malam dikantor. Mudah-mudahan Allah tetap berikan kekuatan untuk jalani Ramadhan esok hari. Mudah-mudahan Allah masih panjangkan usia, untuk jalani Ramadhan dengan lebih bermakna...

(Sekedar untuk mutabaah dan muhasabah)
SEMANGAT YANG TAK PERNAH PADAM



Hari ini satu amanah terselesaikan. Dua hari jadwalku Sabtu dan Minggu, ditutup lantunan doa lembut Syifa, peserta terakhir Qur'ani Kids. Kegiatan yang terus berulang setiap tahun, tetapi dengan tempat dan lokasi yang berbeda.

2 tahun yang lalu, aku juga mengurusi perlombaan semacam ini, dengan jumlah peserta yang lebih banyak. Hampir seluruh RT yang ada dilingkungan RWku mengirimkan duta-dutanya, mahluk-mahluk kecil yang polos, mengikuti setiap perlombaan dengan penuh semangat.

Setahun yang lalu, kegiatan yang sama terulang, tetapi dengan jumlah peserta yang lebih sedikit. Koordinasi kami saat itu yang bergabung dalam Krida Dharma Taruna kurang bagus, mulai ada perpecahan. Jadi ingat zaman kuliah dulu, ada mahasiswa kiri, ada mahasiswa kanan, eh, ternyata kejadian juga. Mereka yang alergi kegiatan-kegiatan kerohanian, mulai menyingkir, dan lebih suka menghabiskan waktu kumpul-kumpul tengah malam sambil bakar ayam.

Sekarang semangat 2 tahun yang lalu, terulang ditempat ini, sebuah negeri yang kata seorang Abang, bertuhan rating. Kembali kutemui wajah-wajah polos penuh antusias, namun terlihat serius saat harus menghadapi para juri, yang terdiri dari 4 bidadari berwajah arif seorang ibu.

Semoga do'a-do'a yang mereka lafalkan terpatri didalam hati dan menjadi petunjuk dalam jalani hari-hari. Semoga ayat-ayat yang mereka lantunkan,tetap melekat dalam ingatan, dan menjadi arah dalam jalani kehidupan. Sesungguhnya manusia berganti, waktu berputar, namun semangat itu tak pernah padam.

(Buat semua pihak yang turut membantu...terima kasih)

Friday, October 31, 2003

NEGERI BERTUHAN RATING



spanduk sederhana itu terbentang diatas gerbang negeri bertuhan rating, semoga bentangannya menepi dipintu langit, dipungut malaikat sebagai amalan...

SMS itu kuterima 2 hari yang lalu, saat usai shalat taraweh dikantor. Dari seorang abang, yang mengomentari kegiatan lomba Qur'ani Kids yang kami adakan.

2 tahun yang lalu, aku masih sering melihatnya, ikut dalam kegiatan ngabuburit sederhana setiap menjelang berbuka. Namun kini sang abang jarang terlihat, aku hanya bisa memantau dari hasil liputannya dalam paket Jelajah. 3 Minggu lalu ia berada diPapua, mengikuti keseharian suku Dhani, lalu 2 minggu yang lalu ia sudah bersama anak-anak dari suku anak dalam dipedalaman Kalimantan, dan baru beberapa hari ini ia pulang dari Sumbawa. Nyaris aku merasa kehilangan sang abang, hingga SMS itu datang.

Sang abang ternyata tetap memantau, sedikit upaya yang kami lakukan untuk mewarnai sebuah negeri... bertuhan Rating...

Semoga sang abang tetap doakan, sedikit upaya yang kami lakukan, kelak berhasil mewarnai sebuah negeri untuk kembali kepada Tuhan sebenar....

(Untuk all my Majlis Ta'lim Friends...semoga semangat tak pernah padam...)

Tuesday, October 28, 2003

TARAWEH DIGUYUR HUJAN...



Minggu lalu, satu target acara tak mampu terlewati. Aku gagal berkumpul dengan bidadari-bidadariku menjelang Ramadhan, saat telat pulang dari kantor sore itu, aku berpapasan dua orang bidadariku yang mengantarkan Ratu bidadari pulang, kami langsung mengucapkan salam dan berpelukan. "Maafin mbak ya in...selamat menjalankan puasa, tugas-tugas selama ramadhan ini sudah dicatat Aan dirumah, dilihat ya...". Ratu Bidadari dengan kandungannya yang makin membesar, kali ini menyempatkan diri untuk hadir menemui adik-adiknya. Kuusap perut besar itu, "iya mbak..."

Setelah mandi, diiringi gerimis bergegas menuju musholla kecil disamping rumah, sendirian, my 2 lovely sisters sudah berangkat mendahului. Mereka akan mencarikan tempat untuk menggelar sajadahku dimusholla, yang biasanya pada hari-hari pertama Ramadhan penuh dengan jamaah. Dahulu aku taraweh di Masjid Nurul Hidayah, dekat jalan raya, tapi semenjak seorang dermawan membangun sebuah musholla dekat rumah, banyak warga yang memilih untuk shalat disana, meskipun musholla itu sangat imut, sehingga jamaah wanitanya harus shalat dirumah sebelah yang baru dibangun.

Selepas shalat Isya, hujan mulai deras, rumah yang belum sempurna dibangun itu, bocor dibeberapa sisi. Ibu-ibu mulai ramai, menggeser sajadahnya, merapat kekanan, menghindari air hujan. Aku sendiri yang kebagian dipojok depan, kebagian air hujan yang tampias turun seperti titik-titik embun, membahasi sajadah dan mukena. Aku nikmati saja "Alhamdulillah...mungkin ini berkah Ramadhan..."

Lalu Ketua Musholla Pak Nasikin memberikan ceramah, hujan semakin deras. Terjadi keributan, rupanya sendal para jamaah diluar, hanyut terbawa air hujan, maka sibuklah bapak-bapak memungguti sandal dan meletakkannya ditempat yang lebih aman. Suara ceramah Pak Nasikin, termakan celoteh lucu para ibu-ibu dan bapak-bapak yang sibuk mengejar sendal yang hanyut.

Dimulailah shalat tarawih, kembali Pak Nasikin yang memimpin. Tarawih kali ini spesial, kilat. Belum sempat mentadaburi ayat ketiga Al-Fatehah, tahu-tahu sudah rukuk, baru rukuk, tahu-tahu sudah sujud. Baru kemarin Ustadz Syaiful Islam cerita betapa banyak imam yang kurang dapat menghayati bacaannya, dan kini aku mengalaminya.

Taraweh pertamaku, disambut derasnya curahan hujan...sandal-sandal yang hanyut dan imam yang super kilat. Semoga taraweh yang akan datang, akan lebih baik.
KERA YANG TRUS MENJALIN MIMPI...



Kemarin Kaum Yahudi Israel menetapkan pemukiman di Tepi Barat yang mereka bangun 'berstatus permanen'. Menurut radio Israel, komisi pembiayaan parlemen mengeluarkan dana sekitar US$29 juta untuk membangun apartemen tersebut.

Perilaku Israel seperti hanya menunjukkan siapa sebenarnya Israel kepada dunia. Langkah-langkah yang mereka ambil itu, kan, jelas-jelas melanggar ketentuan peta jalan damai yang sudah disusun pihak internasional yang didalamnya ada PBB, Uni Eropa, AS dan Rusia.

Jadi teringat salah satu film jiffest yang aku tonton bareng Mona kemarin 'This Is Not Living', saat 2 orang wanita tua pemilik puluhan hektar ladang zaitun, dilempari batu dan diusir oleh penduduk Israel, dari tanah mereka sendiri. Padahal mereka sudah hidup puluhan tahun, dan berencana mewariskan ladang zaitun itu untuk cucu-cucu mereka.

Memang tepat sekali lantunan nasyid yang dibawakan Izzatul Islam....

Telah menguntai angan kaum Yahudi...
Bagai kera yang terus menjalin mimpi...


(Semoga saudara-saudara di Palestina...diberikan kekuatan)

Monday, October 27, 2003

SELAMAT TINGGAL MBAH ROH...



Kemarin satu hari menjelang Ramadhan, seseorang pergi menghadap-Nya. Pakde Roh, begitu my mom menyebutnya. Beliau kena serangan jantung. Pakde Roh, kakak dari Mbah Putriku yang tinggal di Surabaya, sudah banyak berjasa. Ia yang bantu membiayai sekolah my mom saat SMEA dulu, masa ketika keluarga Mbahku hidup dalam penderitaan. Beliau juga yang kasih banyak bantuan saat Mbah Kakungku meninggal.

Tadi pagi my mom and my father langsung menuju Bandara Soekarno-Hatta, berangkat ke Surabaya. Pergi menemui jasadnya yang terakhir kali. Untuk mengucapkan terima kasih...karenamu, my mom kini sudah jadi seorang wanita mandiri, karenamu...cucu-cucumu kini mampu melanjutkan mimpi-mimpi...

Selamat jalan Mbah Roh...semoga Allah menempatkanmu ditempat yang aku impikan...
Sebuah Raudhah yang didalamnya mengalir Tasneem dan Salsabil...

(Untuk Mbah yang sudah banyak berjasa)

Sunday, October 26, 2003

ANDAI SETIAP BULAN ADALAH RAMADHAN...



Seorang selebritis kontroversional yang biasa tampil seksi
dan tak lepas dari goyang mautnya...
Tampil anggun dalam balutan kerudung putih...
Ia berniat istirahat dari segala aktifitasnya...
Demi menghormati datangnya sebuah bulan...
bernama Ramadhan...

Sebuah tempat hiburan malam...
tempat banyak manusia menghabiskan waktu...
dan larut dalam bisingnya house music...
Rela tutup dalam beberapa jam...
Demi menghormati datangnya sebuah bulan
bernama Ramadhan...

Sebuah kotak ajaib yang biasa menampilkan tayangan berani...
kini hadir dengan cerita-cerita menyejukkan...
kisah seorang ulama atau manusia yang mengalami pencerahan...
Demi menghormati datangnya sebuah bulan
bernama Ramadhan...

Seandainya...
setiap bulan adalah Ramadhan...

(Marhaban ya Ramadhan...semoga kehadiranmu menyejukkan bulan-bulan yang lain)

Thursday, October 23, 2003

KORBAN IKLAN



Sejak dulu sepertinya Allah ciptakan wanita dengan kecenderungan suka berbelanja, dirumah my 2 lovely sisters and my mom juga suka belanja. Tapi ada yang aneh, ada seseorang yang paling boros belanja hal-hal yang ngak perlu... my father.

Coba lihat apa yang baru dibelinya seminggu lalu, sebuah treadmill, katanya biar putri-putrinya ngak ada yang gemuk, biar langsing, biar singset. Treadmill hitam legam itu punya banyak fungsi lho, bisa untuk ngecilin perut, bentuk lengan yang ok, rampingin pinggul pake alat yang bergetar-getar itu, begitu promo my father, persis seorang salesman.

Kemarin dulu dia beli sebuah kasur empuk biru yang bisa dipompa, katanya enak buat santai, buat tidur-tiduran, padahal kasur dikamarnya juga sudah spring bed yang kalah empuknya. Dia beli treadmill itu setelah lihat promo gratisnya di sebuah supermarket, dan kasur empuk biru itu setelah lihat iklannya ditv.

Padahal tanpa treadmillpun tubuh my 2 lovely sisters sudah ok, berkat senam jantung sehat dan cha cha yang rutin mereka ikuti dari vcd, tanpa kasur empuk itupun kami sekeluarga bisa tetap tidur pulas. Sekarang treadmill itu terdiam merana dipojok ruangan dan hanya dipakai kurang lebih sejam saja dalam sehari, itu masih mending, kasur empuk itu lebih tragis, ia jadi penghuni di atas lemari bersama debu-debu.

Padahal atap rumah ada yang bocor karena atapnya lapuk dimakan cuaca...
Padahal air dirumah sering seret karena pompa airnya udah tua...
Padahal lantai marmer dirumah sudah kusam karena termakan usia...

(For my beloved father...yang udah jadi korban iklan)

Wednesday, October 22, 2003

MERINDUKAN MAHATHIR...



Duduk bersama 4 orang wartawan senior Indonesia, seorang pemimpin Asia yang kharismatik Mahathir Muhammad. Acara Topik Mahathir menjawab yang tayang siang tadi di TV7, dipandu Dana Iswara mantan jurnalis RCTI. Beda dengan acara talkshow yang biasa aku tonton, talkshow kali ini agak berbeda, lebih santai, mirip bincang-bincang kafenya om Wimar tempoe doeloe.

Wartawan-wartawan senior yang bertanya dalam bahasa Indonesia dijawab dengan lugas dalam bahasa Melayu, sehingga kadang kita harus berfikir dahulu untuk memahami jawabannya. Sosok Mahathir digolongkan sebagai pemimpin kedua terkuat di Asia, yang pidato-pidatonya kadang membuat gerah pemimpin2 Barat, macam Bush Junior, Blair dan Howard. Dibanding pemimpin Asia lainnya cuma dia satu-satunya yang berani mengutuk keras tindakan Amerika saat menginvasi Irak. Dia pula yang berhasil menggembalikan negaranya dalam kondisi yang lebih baik setelah diterjang krisis moneter. Dan ia juga bukan orang yang gila pada kekuasaan, meskipun banyak langkah-langkah yang diambilnya kontroversional.

Terlepas berbagai penilaian tentang beliau, pada kenyataanya kita bisa lihat bagaimana Malaysia selama kepemimpinannya. Dan aku hanya akan mengingat pesan sederhananya yang mengatakan "you must try...even if you think you'll fail...".

(Selamat Tinggal Pak Mahathir...)